Mediapribumi.id, Sumenep — Berdasarkan hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Daera (BRIDA) Kabupaten Sumenep, pendekatan penanganan banjir perkotaan Sumenep dilakukan melalui pendekatan struktural dengan mengidentifikasi permasalahan utama di sejumlah lokasi rawan genangan serta merumuskan rencana penanganan yang sesuai.
Kepala BRIDA Sumenep, Benny Irawan, memaparkan beberapa lokasi diantaranya, di kawasan Depan Alfamart dan Taman Tajamara, permasalahan utama berupa saluran irigasi atau saluran di sekeliling taman yang menyumbang limpasan air. Elevasi saluran sejajar dengan jalan sehingga terjadi genangan setinggi sekitar 45 cm. Penanganan yang direncanakan meliputi normalisasi dan pengaturan elevasi saluran, pengembalian akses saluran, serta penyesuaian inlet.
Pada Perumahan Bumi Sumekar, elevasi kawasan perumahan lebih rendah dibandingkan outlet akibat sedimentasi dan pertumbuhan tanaman. Kondisi ini menyebabkan aliran air terhambat. Solusi yang direncanakan adalah normalisasi outlet serta perencanaan pintu air dan pompa untuk mengatasi kondisi backwater.
Sementara itu, di Perumahan Asabri, ditemukan kebocoran pada saluran irigasi. Penanganan difokuskan pada perbaikan kebocoran serta peningkatan operasional pompa.
Di kawasan Perumahan Satelit, permasalahan berupa saluran yang dangkal dan tersumbat, ditambah dengan topografi wilayah yang berupa cekungan sehingga menimbulkan genangan hingga 10 cm. Penanganan dilakukan melalui normalisasi drainase serta perencanaan kolam tampung yang dilengkapi pompa dan pintu air.
Pada ruas Jalan Dr. Wahidin – Jalan Dr. Setia Budi, kapasitas saluran tidak mampu menampung debit air sehingga menyebabkan genangan hingga 40 cm. Rencana penanganan dilakukan dengan meningkatkan kapasitas saluran melalui pelebaran dan pendalaman saluran menuju Kali Marengan.
Di kawasan Jalan Kartini – Jati Emas, dasar box culvert dipenuhi sedimen dan sampah. Selain itu, penutupan pintu air di bagian hulu memicu terjadinya genangan. Penanganan yang direncanakan berupa pembersihan rutin box culvert serta evaluasi standar operasional prosedur (SOP) pintu air.
Pada Jalan Melati, permasalahan terjadi akibat inlet yang tertutup badan jalan (WTP 022) serta saluran yang tertutup atau penuh sampah karena ditutup oleh warga. Solusi yang direncanakan adalah pembangunan inlet baru, normalisasi saluran, serta edukasi kepada masyarakat dengan membersihkan WTP 025 dan membuka WTP 023.
Di Jalan Kamboja, saluran WTP 021 dan WTP 020 mengalami penyempitan dan tersumbat, sehingga menimbulkan genangan setinggi sekitar 30 cm. Penanganan dilakukan melalui normalisasi saluran berupa pengerukan dan pelebaran pada kedua WTP tersebut.
Pada Sudetan Sungai Marengan–Patrean, normalisasi belum sepenuhnya selesai dan saluran tanah memicu sedimentasi tinggi. Penanganan yang direncanakan adalah penguatan tebing pada segmen saluran tanah untuk mengurangi sedimentasi serta pembersihan rutin sedimen dan sampah.
Di bagian Hilir Sungai Marengan, permasalahan utama berupa pendangkalan akibat akumulasi sedimen serta kondisi backwater akibat pasang air laut yang mencapai ketinggian lutut. Penanganan dilakukan melalui pengerukan sungai untuk menormalkan lebar dan kapasitas sungai serta optimalisasi SOP pintu air saat pasang.
Terakhir, pada Sungai Anjuk, terjadi kejadian tanggul jebol pada tahun 2024 dan 2025 dengan ketinggian air mencapai setinggi lutut. Penanganan diarahkan pada perkuatan permanen dengan mengganti atau memperkuat perbaikan awal menggunakan konstruksi tanggul permanen sesuai standar teknis.
“Dokumen ini baru terselesaikan. Sementara, OPD teknis melaksanakan sesuai dengan program sebelumnya. Karena penelitian ini belum terurai di OPD,” jelas Benny. Rabu (10/12/2025).
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













