Mediapribumi.id, Sumenep — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menegaskan komitmennya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani tembakau dan keberlangsungan industri rokok lokal.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan, sejak 2021 pemerintah daerah telah menjalankan strategi memperkuat industri rokok lokal sebagai salah satu cara mendongkrak harga tembakau di tingkat petani.
Menurut Fauzi, petani merupakan salah satu penopang utama sektor pertembakauan yang juga menjadi sumber Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) bagi daerah. Di sisi lain, keberadaan perusahaan rokok juga dinilai penting karena telah menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
“Sejak 2021, kami punya strategi untuk memperkuat industri rokok lokal. Sebab kalau industri rokoknya berjalan baik, otomatis permintaan tembakau akan naik, dan itu berpotensi mengangkat harga jual di tingkat petani sampai di atas harga titik impas,” jelas Fauzi usai menghadiri rapat koordinasi (Rakor) penetapan Titik Impas Harga Tembakau (TIHT) 2026 di ruang rapat Arya Wiraraja, Kamis (30/07/2026).
Ia menambahkan, optimismenya terhadap harga tembakau tahun ini tetap terjaga meski luas tanam menurun menjadi sekitar 12 ribu hektare. Sebab, kebutuhan industri diperkirakan lebih besar dibandingkan produksi yang tersedia, sehingga akan terjadi persaingan antarpembeli untuk mendapatkan hasil panen petani.
Ia meminta seluruh pabrikan membeli tembakau petani Sumenep sesuai TIHT yang telah disepakati. Pihahknya juga memastikan akan mengawasi langsung pelaksanaan harga titik impas di lapangan. Jika ditemukan perusahaan membeli tembakau di bawah harga yang telah ditetapkan, tim pemerintah akan melakukan pemantauan, memberikan teguran, hingga pemanggilan kepada pihak terkait.
Bupati Fauzi menyebut, TIHT tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Penetapan tersebut telah mempertimbangkan masukan dari berbagai organisasi petani sehingga diharapkan dapat menguntungkan petani tanpa membebani industri rokok.
“Kami ingin harga ini adil bagi dua belah pihak. Petani terlindungi, tapi industri juga tidak terbebani sehingga usahanya tetap bisa berjalan dan menyerap tenaga kerja,” pungkasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













