BeritaLingkungan

Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Ajak Ibu PKK Loandeng Praktikkan Ekonomi Hijau

Avatar
20
×

Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Ajak Ibu PKK Loandeng Praktikkan Ekonomi Hijau

Sebarkan artikel ini
Sampah Dapur Jadi Kompos, Pekarangan Jadi Ladang: UMM Ajak Ibu-Ibu Loandeng Praktikkan Ekonomi Hijau
Pemberdayaan Pengolahan Sampah Dapur UMM

Mediapribumi.id, Sumenep — Selama ini, konsep ekonomi hijau lebih sering terdengar di ruang seminar daripada di dapur. Namun di Dusun Loandeng, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, gagasan itu justru hidup di tangan ibu-ibu rumah tangga yang mengolah limbah organik menjadi kompos dan menyulap pekarangan menjadi kebun produktif.

Itulah wajah nyata dari program pemberdayaan masyarakat yang digagas tim dosen Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program ini dikomandoi Nur Ocvanny Amir, SP., MP., bersama Fithri Mufriantie, SP., MP., dan Prof. Jabal Tarik Ibrahim, dengan menggandeng ibu-ibu PKK Dusun Loandeng sebagai pelaku utamanya.

Kegiatan yang didanai Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini berjalan selama delapan bulan, April hingga November 2026. Empat mahasiswa Program Studi Agribisnis turut turun langsung mendampingi warga di lapangan.

Nur Ocvanny Amir, yang akrab disapa Vany, mengungkapkan bahwa program ini lahir dari kegelisahan atas lebarnya jurang antara wacana pembangunan berkelanjutan dan kenyataan di tingkat rumah tangga.

“Usulan kegiatan kepada Kemendiktisaintek tidak mudah. Proposal diperiksa secara ketat, terutama untuk memastikan apakah program benar-benar berdampak kepada masyarakat,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, warga tidak sekadar diberi ceramah. Mereka didampingi langsung mempraktikkan sejumlah keterampilan berbasis ekonomi sirkuler — mulai dari pengolahan sampah organik, pembuatan kompos, penyiapan media tanam, budidaya tanaman kebutuhan dapur, pembuatan ecoenzyme, hingga penjernihan air limbah rumah tangga.

Fithri Mufriantie menegaskan bahwa seluruh aktivitas ini berakar pada agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 soal air bersih dan sanitasi layak, serta SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

“Langkah kecil di tingkat rumah tangga dapat memberi dampak besar bagi kehidupan ekologis yang lebih baik,” kata Fithri.

Sebanyak 25 peserta menerima peralatan berkebun dan alat penjernih air mini untuk digunakan di rumah masing-masing. Sementara peralatan pembuatan kompos dipusatkan di salah satu pekarangan warga agar bisa diakses bersama oleh seluruh anggota PKK.

Hasilnya sudah mulai dirasakan. Cabai yang ditanam di pekarangan bisa dipanen sendiri oleh keluarga. Sampah dapur yang sebelumnya hanya dibuang kini berubah fungsi menjadi pupuk.

Ketua PKK Dusun Loandeng, Yuliati, mengaku warganya mendapat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki.

“Ada banyak manfaat dari program ini. Ibu-ibu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, mulai dari membuat kompos dari limbah rumah tangga, membuat media tanam, membudidayakan tanaman kebutuhan rumah tangga, membuat ecoenzyme, hingga menjernihkan air limbah rumah tangga,” ujar Yuliati.

Pengalaman berharga juga dirasakan dari sisi mahasiswa. Muhammad Hilmy, salah satu peserta dari kampus yang terlibat, mengaku mendapatkan sesuatu yang tak bisa diperoleh dari bangku kuliah semata.

“Kami dapat belajar langsung implementasi green economy di luar kampus bersama para dosen dan masyarakat. Sangat bermakna dan menyenangkan mengikuti kegiatan ini,” katanya.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep