Mediapribumi.id, Sumenep — Di Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, jalan bukan sekadar hamparan tanah yang menghubungkan satu titik ke titik lainnya. Bagi warga, jalan adalah urat nadi kehidupan. Dari jalan itulah anak-anak berangkat ke sekolah, petani mengangkut hasil panen, pedagang menjalankan aktivitas ekonomi, hingga warga memperoleh akses layanan kesehatan.
Namun harapan akan akses yang layak seolah masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung terselesaikan.
Selama hampir lima tahun terakhir, warga Montorna harus hidup berdampingan dengan kondisi jalan yang rusak parah. Saat musim hujan tiba, sebagian ruas berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan kendaraan melintas. Sementara ketika cuaca panas, debu beterbangan dan lubang-lubang jalan tetap menjadi ancaman bagi pengguna jalan.
Kondisi tersebut perlahan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Meski demikian, mereka mengaku belum melihat adanya langkah konkret yang mampu menjawab persoalan infrastruktur yang telah lama dikeluhkan.
Bagi anak-anak sekolah, jalan rusak bukan hanya soal ketidaknyamanan. Setiap hari mereka harus melewati medan yang sulit demi menuntut ilmu. Sepatu dan seragam kerap terkena lumpur ketika hujan turun. Perjalanan menuju sekolah yang seharusnya menjadi rutinitas biasa berubah menjadi perjuangan yang harus dijalani sejak usia dini.
Kesulitan yang sama dirasakan para petani. Sebagai desa yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, akses jalan memiliki peran penting dalam distribusi hasil panen. Ketika kondisi jalan memburuk, biaya angkut meningkat dan waktu distribusi menjadi lebih lama. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga memengaruhi roda perekonomian desa secara keseluruhan.
“Jalan yang baik akan memperlancar distribusi hasil pertanian dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ungkap tokoh masyarakat Montorna, M. Roqiburrahman, Rabu (03/05/2026).
Persoalan menjadi lebih serius ketika menyangkut pelayanan kesehatan. Warga mengaku pernah menghadapi situasi darurat saat kendaraan kesulitan mencapai lokasi karena akses jalan yang tidak memadai. Dalam kondisi tertentu, pasien terpaksa dibawa secara bergantian oleh warga menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Bagi masyarakat, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa kebutuhan dasar belum sepenuhnya terpenuhi. Mereka menilai pembangunan infrastruktur jalan merupakan kebutuhan mendesak yang memiliki dampak langsung terhadap berbagai aspek kehidupan.
Di tengah berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, warga Montorna berharap kebutuhan yang paling mendasar tidak luput dari perhatian. Mereka tidak menolak program-program sosial yang digulirkan pemerintah. Namun menurut mereka, keberhasilan program apa pun akan sulit dirasakan secara optimal jika akses dasar masyarakat masih terbatas.
Jalan yang layak diyakini mampu membuka banyak peluang. Akses pendidikan menjadi lebih mudah, hasil pertanian dapat dipasarkan dengan lancar, pelayanan kesehatan lebih cepat dijangkau, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat berkembang.
“Warga meminta pemerintah untuk mengevaluasi skala prioritas pembangunan dan memberikan perhatian lebih besar terhadap perbaikan infrastruktur jalan yang telah lama menjadi kebutuhan mendesak masyarakat Montorna,” tambahnya.
Sebab bagi warga desa tersebut, jalan bukan hanya sarana transportasi. Jalan adalah penghubung menuju pendidikan yang lebih baik, kesehatan yang lebih mudah dijangkau, serta kesejahteraan yang selama ini mereka impikan. Di tengah berbagai program pembangunan yang terus bergulir, mereka hanya berharap satu hal sederhana: hadirnya jalan yang layak untuk menghubungkan masa depan mereka.













