Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang)
Mediapribumi.id — Kesempatan ini, mari kita mengulik legasi guru. Setiap kita, ketika menoleh ke belakang, ke lorong-lorong sekolah, ke bangku-bangku kelas, bahkan ke detik-detik sederhana bersama seorang pengajar, mungkin menyadari bahwa legasi guru bukan sekadar nilai rapor, bukan sekadar kurikulum atau ujian standar semata. Legasi itu seringkali hidup di relung berupa: bagaimana seorang guru menyentuh hati, menggerakkan rasa ingin tahu, mendorong kepercayaan diri, atau menanamkan etos bahwa belajar itu tak hanya untuk hari ini.
Mari kita ngobrol santai tentang: apa sih sebenarnya legasi guru itu, bagaimana ia terbentuk, kenapa penting, dan bagaimana kita baik sebagai guru, murid, atau masyarakat dapat mengingatnya atau bahkan mewariskannya?
Apa itu “legasi guru”?
Dalam artikel reflektifnya, Peter Greene (2018) menggambarkan legasi seorang guru seperti “tonggak yang dipancang di dasar sungai” — bukan untuk terlihat, bergemuruh, atau dipahat namanya; melainkan untuk mengalirkan kehidupan, membawa arus anak-anak murid melampaui ruang kelas. Ia menulis:
“Our legacy – and every teacher’s legacy – is out in the world, in those students who passed through this building.” ([Larry Cuban on Education, 2018)
Dengan kata lain: guru yang baik tak hanya mengajar hari ini, tetapi meninggalkan jejak — seringkali tak kasat-mata — yang terus hidup di murid-muridnya.
Dari sisi penelitian, artikel berjudul “Teachers Leave a Legacy” oleh Kenneth Westhues (1999) menunjukkan bahwa murid-muridnyalah yang akhirnya menilai guru. Bahwa terbaik bukan dari alat bantu belajar, bukan dari gawai, bukan dari metode canggih melainkan dari hubungan yang guru bangun dengan mereka.
“The best teachers were described as interacting with students in a caring, constructive, respectful, reciprocal way.” (Kwesthues, 1999).
Dari riset-teori, dalam laporan Martin Haberman (1981) tentang “The Legacy of Teacher Education, 1980-2000”, legasi pendidikan guru dilihat dari warisan generasi ke generasi: bagaimana lembaga-pendidikan guru mendirikan bidang pedagogi, psikologi pendidikan, kurikulum, sejarah pendidikan, dan bagaimana kini tantangannya adalah mempertahankan pendidikan guru sebagai “common good”, yaitu kebaikan untuk semua bukan hanya untuk individu.
Dengan demikian, legasi guru bisa dipahami sebagai efek jangka panjang seorang guru terhadap murid, komunitas, dan generasi mendatang. Ia transfer lewat pengajaran, teladan, relasi, dan makna yang dibangun.
Kenapa legasi itu penting?
Mari kita lihat tiga alasan mengapa legasi guru punya arti besar.
Pertama, Pengaruh yang tak terukur namun abadi.
Tulisan Dr. Lori Schwartz Reichl (2023) di NAfME (National Association for Music Education) berjudul “A Teacher’s Legacy: The Influence of Gratitude”, ditunjukkan bagaimana guru senior masih berkomunikasi intens dengan mantan murid-muridnya, bagaimana rasa syukur muncul, dan bagaimana hal itu memberi dampak ke kesehatan mental, motivasi, bahkan relasi antar‐manusia.
“I can’t think of a more lasting legacy than teachers still impacting their students years later.”
Artinya: guru sejati bukan hanya untuk semester ini, tapi bisa untuk dekade mendatang (Reichl, 2023).
Kedua, Membentuk generasi dengan nilai dan karakter. Tak hanya “apa yang diajarkan”, tetapi “bagaimana diajarkan” dan “apa yang ditanamkan”. Misalnya dalam tradisi Islam, guru dianggap sebagai frontliner iman dan identitas. Artikel dari Al‑Furqaan Foundation (2025) menyebut bahwa guru muslim adalah “frontliners of faith and identity” karena mereka membentuk ruang aman di mana identitas dan keyakinan murid tak dikompromikan. Juga, dalam tulisan tentang Nabi Muhammad SAW sebagai guru, disebut:
“Being an educator is one of the most invigorating and rewarding professions.” (Hernán Guadalupe, 2022).
Maka guru bukan sekadar mentransfer materi, tapi mentransfer nilai, karakter, bahkan makna.
Ketiga, Menjadi kekuatan kolektif yang melampaui individu. Ketika guru membangun relasi yang baik, bukan hanya dirinya saja yang “berhasil”, tetapi murid-muridnya bisa jadi guru bagi berikutnya. Legasi itu berbentuk “api yang diteruskan”, seperti analogi Peter Greene (2018): guru menyalakan api, namun nyala baru itu punya hidup sendiri.
Bagaimana guru meninggalkan legasi yang baik?
Mari sedikit membahas beberapa kunci yang bisa diambil dari referensi-referensi tadi, dipadukan dengan perspektif kita sendiri:
Pertama, Relasi dan empati. Menurut Westhues (1999), relasi yang baik (caring, respectful, reciprocal) adalah faktor utama murid mengingat guru mereka dengan rasa syukur. Jadi guru yang peduli secara manusiawi adalah mengenal muridnya, memberi perhatian, dan memperlakukan mereka sebagai manusia nyata. Ia meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada guru yang hanya mengandalkan teknik pengajaran atau alat bantu.
Kedua, Niat dan makna. Dalam tradisi Islam, guru adalah amalan baik yang terus mengalir:
“Education is the gift that keeps on giving.” (Hernán Guadalupe, 2022).
“Being an educator … every lesson may count as an act of *ṣadaqah jāriyah* (amal jariyah).” ([Al-Furqaan Foundation, 2025).
Artinya: guru yang mengajarkan dengan niat yang tulus dan makna yang mendalam akan meninggalkan jejak tak hanya di dunia, tetapi – dalam kepercayaan – juga di akhirat. Bagi kita yang beragama, ini perspektif tambahan; bagi yang bukan, tentu tetap relevan: yaitu, bahwa pekerjaan guru punya makna jangka panjang.
Ketiga, Fleksibilitas, pembaruan, kesiapan merespon perubahan. Haberman (1981) dalam laporannya menyebut bahwa generasi guru ke-empat menghadapi tantangan “kepada relevansi sosial” dan keperluan untuk “meredefinisikan pendidikan sebagai common good”. Ini mengingatkan bahwa untuk meninggalkan legasi, guru juga harus adaptif: mengikuti perkembangan zaman, teknologi, kurikulum, tantangan sosial. Karena generasi murid berubah, metode berubah, tetapi “the human core” selalu tetap.
Keempat, Realitas bahwa legasi mungkin tak terlihat. Greene (2018) mengatakan bahwa guru tak selalu meninggalkan monumen fisik; secara sekolah bisa tampak tak ada jejak—tapi legasi muncul “di mana murid-murid itu sekarang”. Ini berarti guru tak mesti berambisi jadi “terkenal”. Banyak legasi yang tersembunyi: seorang murid yang kini berprofesi, namun selalu ingat kata‐kata gurunya; seorang yang belajar keberanian atau kreativitas karena guru; bahkan seorang yang mengatakan “terima kasih” bertahun-tahun kemudian seperti yang diceritakan oleh Dr. Lori Schwartz Reichl (2023).
Relevansi untuk konteks Indonesia
Sebagai bagian dari realitas pendidikan di Indonesia, seperti segudang tantangan (beasiswa, kualitas guru, sarana, kurikulum berganti), legasi guru punya arti sangat strategis. Kita bisa merenungkan hal-hal berikut. (1) Seorang guru di desa kecil mungkin tak terkenal, tapi satu muridnya bisa menjadi agen perubahan sosial di komunitas. Itulah legasi yang tak terduga. (2) Guru yang mampu mendampingi muridnya — memberi perhatian lebih, mengenal kondisi keluarga murid, mendengarkan harapan mereka — menciptakan legasi yang melewati birokrasi. (3) Sistem pendidikan dan masyarakat bisa lebih menghargai guru tidak sekadar sebagai “pengajar” tapi sebagai “pemampu perubahan”. Honor bukan satu-satunya ukuran; perhatian, apresiasi, dan dukungan moral juga penting (termasuk dari alumni, masyarakat dan pemerintah). (4) Di era digital, guru punya peluang baru untuk “membekas” lebih lama, misalnya melalui rekaman video, blog pengajaran, mentoring online. Ini menjadi bukti bahwa legasi bisa dibangun juga secara modern. Namun tetap, inti adalah manusia-ke-manusia.
Penutup: Jejak yang kita tinggalkan
Mari kita tutup dengan sebuah ajakan ringan, tapi bukan sepele: jika Anda adalah seorang guru (atau pernah dihadapkan pada peran pengajar): tanyakan pada diri sendiri: Apa yang ingin saya tinggalkan?
Seperti yang diungkap oleh John Dabell: “What will your teaching legacy be?” (John Dabell, 2022)
Jika Anda adalah murid atau mantan murid: mungkin sekarang saatnya mengingat kembali—siapa guru yang paling berkesan untuk Anda? Apa yang mereka lakukan yang masih Anda rasakan hingga sekarang? Mungkin kirim pesan, ucap terima kasih, atau berbagi kisah mereka. Karena seperti yang disarankan dalam artikel Reichl (2023), menunjukkan rasa syukur pada guru kita bisa memberi makna baru bagi mereka maupun diri kita.
Legasi guru bukan selalu gemilang secara spektakuler. Ia bisa berupa kata yang pernah guru ucapkan pada hari hujan, dukungan saat murid ragu, senyuman di awal kelas yang kemudian tumbuh menjadi keberanian, pilihan karier, atau sikap hidup. Dan ketika guru sekarang memahami bahwa pekerjaan mereka bukan hanya untuk empat tahun sekolah, melainkan untuk kehidupan yang lebih panjang maka mereka sedang membangun legasi.
Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman, di mana teknologi menggantikan papan tulis dan murid bisa belajar dari mana saja, nilai guru yang meninggalkan legasi justru semakin penting: manusia yang peduli, yang hadir, yang memberi makna, bukan sekadar materi. Karena pada akhirnya, legasi yang paling tahan lama bukanlah nilai rapor, bukan gadget, bukan metode terbaru melainkan “manusia yang merasa dirinya diperhatikan oleh guru, dan kemudian menggerakkan diri untuk menjadi lebih baik”. Akhirnya, semoga setiap guru dan kita semua yang pernah diberi pelajaran terus menyadari dan memperkuat legasi ini. Karena ketika seorang guru meninggalkan jejak baik, maka dunia kita sedikit lebih manusiawi.













