Mediapribumi.id, Suemenep – Tumpahan minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) di perairan Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, berdampak pada aktivitas nelayan setempat. Para nelayan terpaksa memindahkan lokasi pencarian ikan sejauh kurang lebih dua mil dari titik kejadian.
Hingga kini, proses penyedotan dan pembersihan CPO yang mencemari perairan tersebut masih berlangsung. Sementara itu, kapal tongkang Indo Ocean Marine yang mengalami kecelakaan juga belum dievakuasi dari lokasi.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep, Mohammad Yunianto, mengatakan proses pembersihan di area pesisir melibatkan masyarakat setempat. Adapun pembersihan di wilayah lepas pantai dilakukan oleh pihak perusahaan pemilik kapal.
“Proses pembersihan sudah berjalan sekitar 15 hari,” ujarnya, Senin (09/02/2026).
Ia menjelaskan, kapal tongkang yang membawa sekitar 3.000 kiloliter CPO tersebut masih berada di lokasi karena tengah menjalani perbaikan akibat kebocoran.
“Belum dievakuasi, masih diperbaiki kebocorannya,” jelasnya.
Berdasarkan data DLH Sumenep, tumpahan CPO tidak hanya mencemari perairan Gili Iyang, tetapi juga sempat menyebar hingga ke wilayah Pantai Pulau Sapudi dan Pulau Raas. Namun, proses pembersihan di dua lokasi terakhir telah dinyatakan selesai.
“Untuk yang di Sapudi dan Raas sudah tuntas. Sekarang tinggal penanganan di Gili Iyang,” ungkap Yunianto.
Terkait dampak lingkungan, ia menyebut hasil penelitian resmi masih belum keluar. Meski demikian, berdasarkan pemantauan sementara bersama tim penyelam, belum ditemukan dampak signifikan terhadap ekosistem bawah laut.
“Sementara belum berdampak karena minyaknya mengambang dan tidak turun ke bawah,” katanya.
Meski dampak lingkungan dinilai belum signifikan, gangguan terhadap aktivitas nelayan tidak dapat dihindari. Nelayan yang biasa menangkap ikan di sekitar lokasi terdampak kini harus melaut lebih jauh untuk menghindari area tercemar.
Insiden ini bermula pada Rabu (21/01/2026) malam saat kapal tongkang Indo Ocean Marine dihantam cuaca buruk di perairan utara Pulau Gili Iyang. Kapal terbawa ombak dan menabrak karang, sehingga menyebabkan kebocoran muatan dan tumpahan CPO ke laut.
Kepala Desa Banraas, Mathurrahman, membenarkan bahwa proses penanganan masih terus berjalan. Ia menyebut perbaikan kapal diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama.
“Kapalnya masih diperbaiki kebocorannya dan belum dievakuasi. Prosesnya kemungkinan memakan waktu,” ujarnya.
Kini, pemerintah daerah bersama pihak terkait saat ini terus memantau perkembangan penanganan tumpahan CPO tersebut, sembari memastikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat pesisir tetap terkendali.













