Mediapribumi.id, Sumenep – Tim gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, dan DLH Kabupaten Sumenep melakukan penelitian lapangan di lokasi tumpahan minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) di pesisir utara Pulau Gili Iyang. Dalam kegiatan tersebut, enam penyelam diterjunkan untuk menelusuri dampak pencemaran di bawah permukaan laut. Kamis (29/01/2029).
Penyelaman dilakukan di sekitar titik tumpahan yang berada tidak jauh dari kapal tongkang Ocean Marine yang terdampar di atas karang. Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Reng Paseser Saronggi, Maskur, yang turut terlibat dalam kegiatan itu, menyebutkan bahwa penyelaman bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi perairan yang tidak bisa terpantau dari permukaan.
“Fokus pengamatan berada di sekitar lokasi tumpahan dan jalur sebaran minyak mentah,” kata Maskur.
Ia menjelaskan, tim penyelam ingin memastikan apakah minyak mentah tersebut telah mencapai dasar laut dan berdampak pada biota perairan di sekitarnya. Selain penyelaman, tim juga melakukan pengambilan sampel air laut serta pengumpulan data pendukung lainnya.
Maskur menambahkan, tim gabungan bertolak dari Pelabuhan Kalianget sekitar pukul 09.00 WIB. Setibanya di lokasi, seluruh kegiatan langsung difokuskan pada penelitian lapangan.
Sementara itu, Kepala DLH Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, menyampaikan bahwa tim gabungan yang terdiri dari unsur pemerintah pusat hingga daerah telah berada di lokasi untuk melakukan kajian menyeluruh. Menurutnya, tim dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tugas masing-masing.
“Ada tim penyelam, tim pengambil sampel air laut, serta tim darat yang bertugas melengkapi data pendukung,” ujarnya.
Syahroni mengungkapkan, pelaksanaan penelitian di lapangan juga mendapat dukungan dari Kepolisian, Polairud, serta Pos TNI AL guna menjamin kelancaran dan keamanan kegiatan. Hingga saat ini, pihaknya belum dapat memastikan berapa lama tim gabungan akan berada di lokasi kejadian.
“Kami terus berkoordinasi dan siaga apabila dibutuhkan dukungan tambahan. Sebelumnya kami juga sudah menyerahkan data sebaran tumpahan minyak serta kronologi kejadian kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan DLH Provinsi Jawa Timur,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak tumpahan minyak mentah tersebut tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kejadian. Berdasarkan data sementara, sebaran CPO dilaporkan telah mencapai wilayah kepulauan lain yang jaraknya cukup jauh, seperti Pulau Sapudi dan Pulau Raas.
“Data yang kami himpun menunjukkan minyak mentah sudah terdeteksi di Pulau Sapudi dan Pulau Raas,” ungkapnya.
Syahroni menegaskan, saat ini peran DLH Sumenep lebih difokuskan pada pendataan dan pelaporan di lapangan. Untuk langkah penanganan teknis, pihaknya akan mengikuti kebijakan dan arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup serta DLH Provinsi Jawa Timur.
“Kami di daerah fokus pada pendataan, sedangkan penanganan teknis akan menyesuaikan dengan kebijakan kementerian dan provinsi,” tegasnya.
Diketahui sebelumnya, kapal tongkang Indo Ocean Marine yang mengangkut sekitar 3.000 kiloliter CPO mengalami kecelakaan pada Rabu malam (21/1/2026). Kapal tersebut dihantam angin kencang, gelombang tinggi, dan hujan deras hingga terbawa ombak dan menabrak karang di perairan utara Pulau Gili Iyang. Insiden tersebut menyebabkan kebocoran kapal dan tumpahan minyak mentah ke laut.













