Mediapribumi.id, Sumenep — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terus berupaya untuk mengendalikan inflasi salah satunya dengan mengadakan Warung Inflasi atau Teras Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di pasar tradisional seperti Pasar Anom yang menjadi pasar induk.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, tingkat inflasi bulanan (month to month) pada Mei 2026 sebesar 0,16 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 2,07 persen.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,16 persen, disusul kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman atau Restoran dengan andil 0,10 persen, serta kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil 0,05 persen.
Namun, secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), tekanan inflasi di Kabupaten Sumenep pada Mei 2026 mencapai 5,12 persen, jauh melampaui angka pada periode yang sama tahun lalu sebesar 1,61 persen, serta meningkat dari posisi April 2026 yang berada di level 4,13 persen.
“Inflasi Mei berhasil diredam oleh turunnya harga emas perhiasan yang mengalami deflasi 4,42 persen, dengan andil menahan laju inflasi hingga 0,23 persen,” kata BPS Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo.
Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan, Idham Halil mengklaim pelaksanaan Warung Inflasi dengan melakukan operasi di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Gapura, Bluto, Dasuk, dan sebagainya cukup efektif utamanya dalam mengendalikan harga beras dan minyak goreng khususnya minyakita.
Operasi pasar tersebut dilakukan hampir setiap minggu melalui kerjasama dengan Bulog dengan fokus dua komoditas kebutuhan yakni beras dan minyak goreng, namun belakangan masih lebih fokus pada pengendalian harga Minyakita.
“Saat ini fokus ke Minyakita untuk melakukan operasi pasar agar penjualannya sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET),” terang Idham, Jumat (26/06/2026).
Dalam operasi pasar itu, TPID bersama Bulog membawa sebanyak 80 karton minyak goreng dan biasanya setiap operasi langsung habis.
“Terakhir hari Minggu kemarin kami membawa 80 karton (Minyakita) dan langsung habis,” tegasnya.
Pelaksanaan Teras TPID atau Warung Inflasi ini efektif dalam mengendalikan lonjakan harga, terbukti secara umum harga komoditas kebutuhan saat ini stabil dan tidak ada kepanikan di masyarakat.













