BeritaEkonomi

Produksi Tembakau Sumenep 2024 Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir, 2025 Menurun

Avatar
1587
×

Produksi Tembakau Sumenep 2024 Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir, 2025 Menurun

Sebarkan artikel ini
Produksi Tembakau Sumenep 2024 Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir, 2025 Menurun
Potret aktivitas petani tembakau di Sumenep

Mediapribumi.id, Sumenep — Produksi tembakau di Kabupaten Sumenep mencatat capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, puncak produksi terjadi pada tahun 2024 dengan total 11.309,88 ton, seiring perluasan lahan tanam yang menembus lebih dari 15 ribu hektare. Namun, pada tahun 2025 luas lahan menurun hanya sekitar 8.000 hektare.

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari optimisme petani terhadap harga pasar serta dukungan kebijakan daerah yang mulai berjalan efektif.

“Tahun 2024 menjadi momentum kebangkitan tembakau Sumenep. Luas lahan meningkat pesat karena petani melihat prospek harga yang baik, dan kami juga terus memperkuat pengawasan serta pendampingan,” ujarnya, Selasa (28/10/2025).

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, perkembangan produksi tembakau di Sumenep mengalami fluktuasi cukup tajam. Tahun 2022 menjadi periode terendah dengan luas lahan hanya 5.191 hektare dan produksi sekitar 3.050 ton. Kondisi ini dipengaruhi faktor cuaca yang tidak menentu dan harga jual yang kurang menarik bagi petani.

Wilayah daratan utama Pulau Madura menjadi pusat produksi tembakau Sumenep. Kecamatan Guluk-Guluk, Pasongsongan, Ambunten, Ganding, dan Bluto tercatat sebagai sentra utama dengan hasil tembakau tegal dan gunung yang berkualitas tinggi serta diminati industri pabrikan.

Selain itu, sejumlah kecamatan seperti Gapura, Batang-Batang, Batuputih, Rubaru, Dasuk, Lenteng, dan Manding menjadi kawasan sekunder. Di daerah ini, tembakau umumnya ditanam di lahan sawah tadah hujan yang kerap menghadapi kendala penyerapan gudang, terutama ketika kualitas daun menurun.

Inong menjelaskan bahwa fluktuasi produksi tembakau dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari iklim hingga kebijakan harga.

“Kemarau basah dan curah hujan tinggi sering menurunkan kualitas daun, sementara harga dan serapan gudang menentukan semangat petani untuk menanam di tahun berikutnya,” jelasnya.

Faktor lain yang juga memengaruhi adalah ketersediaan pupuk dan benih unggul, infrastruktur jalan menuju gudang, serta efektivitas regulasi daerah seperti Peraturan Bupati Nomor 29 Tahun 2024 tentang transparansi harga dan sistem pembelian.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem informasi harga, menjamin kepastian serapan gudang, memperluas akses pembiayaan dan input pertanian, serta melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas regulasi yang berlaku.

“Kalau semua faktor ini berjalan beriringan, Sumenep tidak hanya akan mempertahankan produksi tembakau, tapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Berikut Data Produksi Tembakau :
2020 : 5.901,59 Ton, luas lahan 8.649,19 ha
2021 : 6.705,59 Ton, luas lahan 9.811,11 ha
2022 : 3.050,87 Ton, luas lahan 5.191,15 ha
2023 : 6.823,24 Ton, luas lahan 9.729,92 ha
2024 : 11.309,88 Ton, luas lahan 15.823,20 ha

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep