Mediapribumi.id, Sumenep — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terus memperkuat berbagai upaya intervensi pasar guna menjaga stabilitas harga dan mengendalikan laju inflasi di daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep, tingkat inflasi bulanan (month to month) pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,16 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 2,07 persen.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setdakab Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, mengatakan bahwa pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan pemantauan harga komoditas secara langsung di lapangan.
“Pemantauan rutin terus kami lakukan di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Anom dan Pasar Bangkal, untuk melihat perkembangan harga kebutuhan masyarakat,” terangnya.
Dalam upaya pengendalian inflasi, Pemkab Sumenep juga bersinergi dengan berbagai pihak, di antaranya BPS, Bulog, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Berbagai program telah dijalankan, seperti operasi pasar dan gerakan pangan murah guna menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan pangan di sejumlah wilayah serta menghadirkan program Teras Inflasi di pasar tradisional.
“Kami telah menyelenggarakan Teras Inflasi di Pasar Anom dan Pasar Bangkal sebagai salah satu langkah untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi,” kata Dadang.
Ia menambahkan, dalam waktu dekat program tersebut akan diperkuat dengan keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PD Sumekar yang akan menyediakan beras bagi masyarakat. Ke depan, layanan itu juga akan menyediakan berbagai komoditas kebutuhan pokok lainnya.
“Selain itu, kami juga menjajaki kerja sama dengan daerah lain untuk memastikan ketersediaan komoditas dengan harga yang tetap terjangkau,” jelasnya.
Langkah berikutnya yang tengah disiapkan adalah penyediaan informasi harga komoditas secara berkala melalui berbagai sarana informasi publik, termasuk videotron yang tersebar di beberapa titik strategis.
Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo, menilai pelaksanaan operasi pasar tetap efektif dalam mengendalikan inflasi meskipun kegiatan tersebut terpusat di kawasan perkotaan.
Menurutnya, keberadaan operasi pasar dan gerakan pangan murah memiliki dampak psikologis terhadap konsumen maupun pedagang. Perbandingan harga yang ditawarkan TPID dengan harga pasar dapat mendorong stabilitas harga komoditas di tingkat masyarakat.
“Operasi pasar dan gerakan pangan murah berpengaruh terhadap psikologi pembeli. Ketika masyarakat memiliki alternatif harga yang lebih murah, hal itu dapat membantu menekan kenaikan harga di pasar,” pungkasnya.













