Mediapribumi.id, Sumenep — Industri hulu minyak dan gas (migas) terus berinovasi dengan menghadirkan teknologi eksplorasi yang semakin ramah lingkungan. Proses eksplorasi migas memang membutuhkan waktu panjang, mulai dari survei seismik yang bisa berlangsung 3–6 tahun, pengembangan lapangan, hingga fase abandonment yang dapat mencapai lebih dari 25 tahun.
Kini, metode survei seismik tidak lagi menggunakan cara konvensional yang berpotensi merusak lingkungan. Di wilayah darat, digunakan truck vibroseis yang memancarkan gelombang akustik ringan tanpa perlu menggali atau merusak permukaan tanah.
Sementara itu, untuk wilayah laut, hadir teknologi Ocean Bottom Node (OBN) yang dianggap sebagai terobosan besar. Teknologi ini menempatkan sensor kecil di dasar laut tanpa harus menyeret kabel panjang yang berisiko merusak terumbu karang maupun habitat biota laut. Dengan OBN, proses eksplorasi menjadi lebih efisien, aman, dan minim dampak terhadap ekosistem perairan.
Tidak hanya itu, dalam eksploitasi migas juga mengedepankan keselamatan dan lingkungan. Selain tahap eksplorasi, fase eksploitasi migas pun kini dijalankan dengan standar keselamatan dan perlindungan lingkungan yang semakin ketat.
Bahkan, informasi yang diterima media ini, proses pengeboran dilakukan secara tertutup dengan pengawasan digital real-time pada kepala sumur (wellhead), sehingga keamanan lebih terjamin.
Tapak pengeboran juga semakin efisien. Rata-rata, satu sumur produksi hanya membutuhkan lahan sekitar 50×50 meter. Selain itu, teknologi pemantauan berbasis sensor digital diterapkan untuk mendeteksi potensi kebocoran sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan, menegaskan bahwa inovasi teknologi tersebut merupakan bukti keseriusan industri migas dalam mengedepankan aspek keberlanjutan.
“Kami ingin menegaskan bahwa eksplorasi migas saat ini tidak lagi seperti puluhan tahun lalu. Teknologi yang digunakan sudah jauh lebih ramah lingkungan, baik di darat maupun laut. Prinsip kami jelas: kebutuhan energi tetap harus terpenuhi, namun dengan menjaga kelestarian alam dan keselamatan masyarakat,” pungkasnya.
Langkah-langkah inovatif ini menunjukkan bahwa industri hulu migas tidak hanya berfokus pada pemenuhan energi, tetapi juga berkomitmen menjaga keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan.













