Mediapribumi.id – Pendidikan di pesantren bukan hanya tentang belajar di dalam kelas, menghafal Al-Qur’an, memahami kitab, atau mendapatkan nilai yang bagus. Lebih dari itu, pesantren adalah tempat kita belajar hidup bersama.
Di dalam pesantren, kita bertemu dengan banyak karakter. Ada teman yang pendiam, ada yang aktif, ada yang mudah bergaul, ada yang sensitif, ada yang suka bercanda, dan ada pula yang mungkin berbeda kebiasaan dengan kita.
Perbedaan itu adalah bagian dari kehidupan. Namun, dari sinilah muncul sebuah pertanyaan penting:
Bagaimana kita membangun pola pergaulan yang sehat di antara santri?
Salah satu masalah yang bisa kita jadikan contoh adalah bullying.
Bullying sebagai Problem Sampling
Bullying tidak selalu berbentuk memukul atau melakukan kekerasan secara fisik. Bullying bisa muncul melalui ejekan, pemberian julukan yang merendahkan, mempermalukan teman di depan orang lain, mengucilkan seseorang, mengancam, menyebarkan aib, bahkan bercanda secara berlebihan sampai membuat orang lain merasa tertekan.
Kadang pelakunya mengatakan: “Kan cuma bercanda.” Tetapi kita perlu memahami bahwa tidak semua yang membuat kita tertawa membuat orang lain bahagia. Dari sinilah kasus bullying dapat kita jadikan sebagai problem sampling. sebuah contoh dalam persoalan nyata yang digunakan sebagai bahan belajar bersama.
Ketika terjadi kasus bullying, tujuan pendidikan bukan sekadar mencari siapa yang salah dan siapa yang harus dihukum. Lebih jauh dari itu, kita perlu bertanya:
Mengapa ini terjadi?
Apa yang dirasakan oleh korban?
Mengapa teman-temannya ikut tertawa?
Mengapa pelaku merasa perilaku tersebut boleh dilakukan?
Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang melihat?
Dan yang paling penting: Bagaimana kita mencegah agar kejadian seperti ini tidak menjadi budaya di pesantren?, Dengan cara seperti ini, sebuah kasus tidak berhenti sebagai masalah disiplin. Kasus tersebut berubah menjadi bahan pembelajaran sosial dan pembentukan karakter.
Dari Problem Sampling Menuju Problem Solving
Setelah sebuah masalah ditemukan, pendidikan harus membawa santri menuju problem solving. Misalnya, ketika ada seorang santri yang sering diejek karena bentuk tubuh, cara berbicara, kemampuan akademik, atau latar belakang keluarganya, maka kita tidak cukup hanya mengatakan: “Jangan bullying!. Tapi kita perlu membangun kesadaran tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memperlakukan saudaranya?”
Di sinilah nilai agama masuk ke dalam persoalan nyata. Yaitu ketika kita belajar bahwa seorang muslim harus menjaga lisan, menghormati kehormatan orang lain, tidak merendahkan, tidak memanggil dengan gelar yang buruk, dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan hiburan.
Dengan demikian, santri tidak hanya mengetahui bahwa bullying itu salah. Tetapi santri belajar mengapa bullying salah, bagaimana menghentikannya, dan bagaimana membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Tausiyah Harian: Program Ringan, Dampak Panjang
Untuk membangun budaya seperti ini, sebenarnya kita tidak selalu membutuhkan program yang berat. Salah satu program sederhana yang dapat dilakukan adalah tausiyah harian.
Tidak perlu panjang,tidak perlu menggunakan materi yang rumit. Cukup 5–10 menit, tetapi dilakukan secara konsisten. Misalnya setelah shalat, sebelum kegiatan dimulai, setelah apel, atau pada waktu yang telah ditentukan. Guru memberikan satu pesan sederhana kepada santri: Hari ini tentang menjaga lisan, besok tentang menghormati teman، lusa tentang larangan mengejek, Hari berikutnya tentang meminta maaf, Kemudian tentang memaafkan, Kemudian tentang membantu teman, kemudian tentang menjaga rahasia, dan seterusnya.
Nilai-nilai kecil tersebut jika disampaikan secara terus-menerus akan membentuk kesadaran sosial santri.
Tausiyah Guru kepada Santri
Guru dapat memberikan tausiyah singkat berdasarkan persoalan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan santri. Misalnya:
“Anak-anak, hari ini kita belajar satu hal: jangan menjadikan kelemahan teman sebagai bahan tertawaan. Bisa jadi sesuatu yang menurut kita lucu justru menjadi luka yang dibawa teman kita dalam waktu yang lama.”
Pesannya sederhana.
Tetapi jika disampaikan berulang-ulang dan kemudian dicontohkan oleh guru, pesan tersebut perlahan menjadi nilai bersama.
Tausiyah Santri kepada Sesama Santri
Yang menarik, program tausiyah tidak harus selalu berasal dari guru. Santri juga dapat diberi kesempatan untuk menyampaikan tausiyah singkat kepada teman-temannya. Misalnya satu hari satu santri. Durasi hanya 3–5 menit. Materinya sederhana: “Hari ini saya ingin mengingatkan teman-teman tentang menjaga lisan.” Atau: Hari ini saya ingin mengajak kita untuk tidak mengejek teman, Atau mari kita belajar meminta maaf ketika melakukan kesalahan.”
Dengan cara ini terjadi dua arah transfer nilai: guru kepada santri dan Saantri santri. Santri tidak hanya menjadi objek pendidikan, tetapi juga menjadi subjek yang ikut membangun budaya pesantren.
Interaksi yang Terus-Menerus Membentuk Pola Sosial
Di sinilah kita perlu memahami bahwa perilaku santri tidak hanya dibentuk oleh aturan tertulis. Pola sosial santri juga dibentuk oleh apa yang mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari. Jika setiap hari santri melihat senior menghormati junior, maka penghormatan akan menjadi budaya, jika setiap hari santri mendengar guru berbicara dengan santun, maka kesantunan menjadi sesuatu yang normal, Jika setiap kali muncul konflik santri dibimbing untuk berdialog, maka dialog menjadi kebiasaan.
Sebaliknya, jika ejekan dianggap sebagai hiburan, penghinaan dianggap sebagai candaan, dan bullying dibiarkan menjadi bagian dari pergaulan, maka lama-kelamaan perilaku tersebut dapat menjadi normalisasi sosial.
Karena itu, tugas pendidikan bukan hanya mengubah individu.
Pendidikan juga harus menginstrumentasi lingkungan sosialnya. Artinya, seluruh aktivitas sederhana di pesantren diarahkan agar perlahan membentuk pola hubungan sosial yang sesuai dengan nilai yang ingin kita bangun.
Rasulullah S.A.W. dan Intensitas Interaksi
Kalau kita membaca sejarah kehidupan Rasulullah, kita akan menemukan bahwa pendidikan para sahabat berlangsung melalui interaksi yang sangat intens. Rasulullah tidak hanya menyampaikan wahyu di satu tempat kemudian meninggalkan para sahabat.
Rasulullajh hidup bersama mereka, Beliau berbicara dengan mereka., Beliau mendengarkan mereka, Beliau menjawab pertanyaan mereka, Beliau menyelesaikan persoalan mereka, Beliau menegur ketika mereka salah, Beliau memuji ketika mereka melakukan kebaikan, Beliau juga memberikan contoh secara langsung.
Karena itu, ketika kita menyederhanakan hadis, kita mengenal tiga bentuk utama: (1) Perkataan Nabi Muhammad S.A.W. (2) Perbuatan Nabi S.A.W. (3) Persetujuan Nabi S.A.W., terhadap sesuatu yang terjadi di hadapan beliau.
Ketiganya menunjukkan bahwa pendidikan Rasulullah, tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melalui interaksi dan keteladanan.
Pesantren adalah Laboratorium Sosial
Maka pesantren sebenarnya adalah sebuah laboratorium sosial, santri sedang belajar bagaimana menjadi manusia.
Bagaimana berteman., nagaimana berbeda pendapat., bagaimana menyelesaikan konflik, agaimana meminta maaf, Bagaimana memaafkan, Bagaimana menjaga lisan, bagaimana menghormati yang lebih muda, bagaimana menghormati yang lebih tua, agaimana memperlakukan orang yang berbeda dengan dirinya.
Karena itu, setiap konflik yang terjadi sebenarnya dapat menjadi ruang belajar, selama kita mampu mengelolanya dengan benar. Kasus bullying, misalnya, tidak boleh dibiarkan menjadi sekadar catatan pelanggaran. Ia harus menjadi momentum untuk memperbaiki budaya pergaulan seluruh santri.
Dari Tausiyah Menjadi Budaya
Inilah yang menjadi tujuan dari program tausiyah harian. Bukan sekadar menambah jumlah kegiatan. Bukan sekadar membuat jadwal baru. Bukan pula sekadar agar santri mendapatkan nasihat setiap hari. Tujuan sebenarnya adalah membangun frekuensi transfer nilai. Yaitu: nilai yang disampaikan guru kepada santri. Nilai yang disampaikan santri kepada santri. Nlai yang kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan ketika proses tersebut dilakukan terus-menerus, nilai akan berubah menjadi kebiasaan, kebiasaan akan berubah menjadi karakter, karakter yang dimiliki banyak orang akan berubah menjadi budaya, aka kita bisa membayangkan alurnya:
Interaksi menjadi media transfer nilai, lalu menjadi faktor instrumental lahirnya kebiasaan, kebiasaan mengajar menjadi karakteristik, kemudian menjadi budaya pergaulan lingkangan pesantren, selanjutnya menjadi identitas kuat pesantren. Maka dari alur inilah kita menemukan apa yang disebut “brand image,” yang menjadikan pesantren itu punya pesoan, pesona yang akan menjadikan banyak orang yang jatuh hati padanya.
Karena itu, jangan meremehkan program kecil seperti tausiyah lima menit. Bisa jadi lima menit itu tidak langsung mengubah seseorang. Tetapi jika dilakukan setiap hari, oleh banyak orang, dengan pesan yang konsisten, ia dapat perlahan-lahan mengubah pola sosial sebuah komunitas.
Dan pada akhirnya, pesantren yang baik bukan hanya pesantren yang mampu membuat santrinya pintar, tapi pesantren yang mampu membuat santrinya tahu bagaimana memperlakukan manusia lain dengan benar. Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika santri mampu menjawab soal di dalam kelas. Tetapi juga ketika mereka mampu menjawab persoalan kehidupan:
Ketika melihat teman dihina, apakah saya ikut tertawa atau menghentikannya?, Ketika teman melakukan kesalahan, apakah saya mempermalukannya atau membantunya, ketika saya berbeda dengan teman, apakah saya menjauhinya atau belajar menghargainya?
Di situlah pendidikan sebenarnya sedang berlangsung. Dan budaya pesantren dibangun bukan hanya oleh program-program besar, tetapi oleh interaksi-interaksi kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. _Allahu a’lam bishawab._(*)
Catatan: Usman Adhim, S.H.I. Pemerhati & Penggiat Pesantren
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













