Mediapribumi.id — Dalam kehidupan masyarakat Madura, terdapat banyak parsemon (peribahasa atau ungkapan tradisional) yang lahir dari pengamatan tajam terhadap perilaku manusia. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak sekadar menjadi hiasan bahasa, tetapi juga berfungsi sebagai nasihat, kritik sosial, dan pedoman hidup. Salah satunya adalah ungkapan acocor bunto (noro’ buntè’) yang artinya ‘mengikuti’, sebuah istilah yang hingga kini masih sering terdengar dalam percakapan sehari-hari masyarakat Madura.
Secara sederhana, acocor bunto’ merujuk pada seseorang yang selalu mengikuti atau ikut-ikutan orang lain. Ia cenderung mengikuti ke mana orang pergi, mengikuti apa yang dilakukan orang lain, atau menyetujui apa yang sedang dibicarakan tanpa banyak pertimbangan. Dalam konteks tertentu, ungkapan ini sering ditujukan kepada anak-anak yang selalu ingin ikut orang tuanya ke mana pun mereka pergi. “Mon emakna ka pasar, Ahmad ampo acocor bunto’.” (Kalau ibunya pergi ke pasar, Ahmad sering ikut). Dalam situasi seperti ini, acocor bunto’ tidak selalu bermakna negatif. Justru ungkapan tersebut sering disampaikan dengan nada bercanda atau penuh kasih sayang. Seorang anak yang terus mengikuti ibunya mencerminkan kedekatan emosional dan rasa aman yang ia rasakan bersama orang tuanya.
Namun, dalam perkembangannya, makna acocor bunto’ tidak hanya berkaitan dengan keikutsertaan secara fisik. Ungkapan ini juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang selalu mengikuti pendapat, gaya hidup, kebiasaan, atau perilaku orang lain tanpa memiliki sikap dan pendirian sendiri. Dalam konteks inilah acocor bunto’ menjadi sebuah kritik sosial yang menarik untuk direnungkan. Pada dasarnya, manusia memang makhluk sosial. Kita belajar dari orang lain, meniru kebiasaan baik, dan berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Bahkan banyak pengetahuan yang diperoleh karena seseorang mengikuti jejak orang-orang yang lebih dahulu berhasil. Oleh karena itu, tidak semua bentuk acocor bunto’ harus dipandang buruk.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak contoh acocor bunto’ yang justru membawa manfaat. Seorang siswa yang mengikuti kebiasaan temannya yang rajin membaca akan terdorong untuk gemar belajar. Mahasiswa yang ikut aktif dalam kegiatan ilmiah karena melihat teman-temannya berprestasi dapat memperoleh pengalaman dan wawasan baru. Demikian pula seseorang yang mengikuti kegiatan sosial, pengajian, atau aktivitas kemasyarakatan sering kali memperoleh lingkungan yang positif untuk pengembangan dirinya.
Dalam konteks ini, acocor bunto’ menjadi jalan untuk belajar. Tidak semua orang mampu menemukan arah hidupnya sendiri sejak awal. Terkadang seseorang perlu melihat, mencontoh, dan mengikuti orang lain sebelum akhirnya menemukan jati dirinya. Karena itu, mengikuti orang lain bukanlah masalah selama yang diikuti adalah jalan yang baik.
Namun, masyarakat Madura sejak dahulu tampaknya memahami bahwa kecenderungan ikut-ikutan juga menyimpan bahaya. Karena itulah ungkapan acocor bunto’ sering digunakan sebagai pengingat agar seseorang tidak kehilangan kemampuan berpikir dan menilai sesuatu secara mandiri. Kekhawatiran tersebut terasa semakin relevan pada masa sekarang. Di era media sosial, budaya ikut-ikutan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu. Dulu seseorang hanya meniru orang-orang yang ada di sekitarnya. Kini, seseorang dapat meniru siapa saja yang muncul di layar telepon genggamnya.
Tidak sedikit anak muda yang akhirnya mengikuti tren hanya karena ingin dianggap keren, modern, atau tidak ketinggalan zaman. Mereka mengikuti gaya berpakaian, cara berbicara, pola pergaulan, hingga perilaku tertentu tanpa memahami apakah hal tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Bahkan terkadang sesuatu dianggap benar hanya karena banyak orang melakukannya. Fenomena inilah yang sebenarnya menjadi bentuk baru dari acocor bunto’. Ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk menyaring informasi dan hanya mengikuti arus, maka ia sedang menyerahkan kendali hidupnya kepada orang lain. Ia tidak lagi menentukan arah, melainkan hanya menjadi pengikut dari arah yang ditentukan orang lain.
Lebih memprihatinkan lagi ketika yang diikuti adalah hal-hal yang mengandung nilai negatif. Budaya pamer di media sosial, perilaku konsumtif, pergaulan bebas, penyebaran informasi yang belum tentu benar, hingga berbagai tindakan yang merugikan diri sendiri sering kali berawal dari kebiasaan ikut-ikutan. Banyak orang tidak benar-benar menginginkannya, tetapi melakukannya karena melihat orang lain melakukan hal yang sama.
Padahal, nenek moyang Madura mengajarkan bahwa manusia harus memiliki pandhuman (pegangan hidup). Mengikuti orang lain boleh saja, tetapi tidak boleh sampai kehilangan akal sehat dan pertimbangan moral. Tidak semua yang ramai harus diikuti. Tidak semua yang populer layak diteladani. Karena itu, pesan yang terkandung dalam parsemon acocor bunto’ sesungguhnya sangat sederhana tetapi mendalam. Kita boleh belajar dari orang lain, mencontoh keberhasilan mereka, dan mengikuti jejak kebaikan yang mereka tunjukkan. Namun, kita juga harus memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang patut diikuti dan mana yang harus ditinggalkan.
Pada akhirnya, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang sekadar mengikuti arus, melainkan kehidupan yang mampu memilih arah dengan bijaksana. Sebab seseorang tidak dinilai dari seberapa sering ia mengikuti orang lain, tetapi dari kemampuannya menentukan pilihan yang benar ketika banyak orang justru berjalan ke arah yang salah.
Itulah mengapa acocor bunto’ tidak sekadar ungkapan tentang kebiasaan ikut-ikutan. Ia adalah pengingat bahwa setiap manusia harus memiliki pendirian. Karena mengikuti kebaikan akan membawa pada kebaikan, tetapi mengikuti keburukan hanya akan mengantarkan pada penyesalan. Dan dalam dunia yang penuh pengaruh seperti hari ini, kemampuan memilih apa yang patut diikuti mungkin menjadi salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling berharga.
Oleh: Suhartatik (Dosen Universitas PGRI Sumenep dan Pegiat Rumah Literasi Sumenep)













