Mediapribumi.id, Sumenep – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep merespons serius insiden tumpahan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang mencemari pesisir utara Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek. Tumpahan tersebut diduga berasal dari kapal tongkang milik Indo Ocean Marine yang kandas akibat cuaca buruk.
Kepala Bagian Perekonomian, Energi, dan Sumber Daya Alam (SDA) Setkab Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Dungkek. Meski demikian, informasi awal terkait kejadian tersebut sudah diterima secara informal.
“Kami memang belum menerima laporan resmi, tetapi informasi awal sudah kami ketahui. Dalam waktu dekat akan kami tindak lanjuti,” ujar Dadang, Jumat (23/1/2026).
Pemkab Sumenep, kata Dadang, akan segera melakukan langkah awal untuk mengamankan dan mensterilkan wilayah pesisir yang terdampak tumpahan minyak guna mencegah meluasnya pencemaran.
“Kami akan bergerak cepat untuk memastikan kondisi di lokasi tetap terkendali dan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar,” tegasnya.
Selain itu, Pemkab Sumenep juga akan melayangkan surat resmi kepada pihak perusahaan atau pemilik kapal agar bertanggung jawab penuh atas insiden tersebut, terutama dalam upaya penanganan dan pemulihan lingkungan laut.
“Pihak kapal akan kami surati agar bertanggung jawab atas kejadian yang terjadi di perairan Gili Iyang,” tambahnya.
Dalam proses penanganan teknis, Pemkab Sumenep akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Langkah ini dilakukan untuk memastikan tumpahan CPO tidak merusak ekosistem laut serta tidak mengganggu aktivitas nelayan setempat.
Diketahui sebelumnya, kapal tongkang Indo Ocean Marine yang mengangkut sekitar 3.000 kiloliter CPO dari Kalimantan Selatan menuju Gresik kandas di perairan utara Pulau Gili Iyang pada Kamis (22/1/2026) malam. Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan deras diduga menjadi penyebab utama insiden tersebut.
Bosun kapal tongkang, Jumanto, mengungkapkan bahwa tongkang yang ditarik oleh tugboat sempat memilih transit di sekitar Gili Iyang karena cuaca tidak memungkinkan untuk melanjutkan pelayaran. Namun, sekitar pukul 21.00 WIB, gelombang besar menghantam tongkang hingga terseret dan menabrak karang di pesisir utara pulau.
“Cuaca saat itu sangat buruk. Ombak tinggi dan angin kencang. Tiba-tiba tongkang terseret hingga mendekati pantai,” kata Jumanto.
Benturan keras tersebut diduga menyebabkan kebocoran pada lambung kiri kapal, sehingga CPO yang diangkut tumpah ke laut dan mencemari kawasan pesisir. Demi keselamatan, tugboat yang menarik tongkang memilih melepaskan tali dan meninggalkan tongkang dalam kondisi terombang-ambing.
Sebanyak empat anak buah kapal (ABK) dan satu personel kepolisian bertahan di atas tongkang sebelum akhirnya mengevakuasi diri dengan bantuan warga dan Basarnas Pos SAR Kalianget pada Kamis pagi. Mereka yang dievakuasi masing-masing Jumanto (45), Wibo Ari Murdiyanto (20), Dwi Kurnianto (20), Sudirman (45), serta Briptu Ribut Prasetyo.
Sementara itu, warga setempat mengaku cemas dengan tumpahan minyak tersebut. Salah seorang warga Kecamatan Dungkek, Moh. Yusuf, membenarkan adanya tumpahan CPO di pesisir Gili Iyang.
“Warga sempat panik karena khawatir tumpahan minyak ini berdampak pada lingkungan dan laut,” ujarnya.
Hingga kini, Pemkab Sumenep masih melakukan koordinasi lintas instansi untuk memastikan penanganan tumpahan CPO berjalan optimal dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan jangka panjang.













