Mediapribumi.id, Sumenep — Di tengah gempuran anggapan bahwa bertani adalah profesi kelas dua, Moh. Kholid justru memilih jalan sebaliknya. Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Sumenep sekaligus alumnus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan mantan pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Sumenep ini menjadikan lahan pertanian sebagai ruang perjuangan sekaligus ladang penghidupan.
Berawal dari Ikut Mertua
Kholid mulai mengenal dunia pertanian bukan dari cita-cita masa kecil, melainkan dari kehidupan berumah tangga. Sejak menikah pada 2016, ia mulai turun ke sawah mengikuti aktivitas bertani mertuanya.
Baru pada 2021, ia memutuskan terjun mandiri dan mengelola lahan sendiri dengan menanam sejumlah komoditas: bawang merah, tomat, padi, dan cabai.
“Dari lahan yang tak lebih dari seperempat hektare itu, saya mengerjakan hampir seluruh proses perawatan hingga penyiraman seorang diri,” katanya, Minggu (12/07/2026).
Menepis Stigma Petani sebagai Profesi Rendah
Di saat banyak alumni perguruan tinggi beranggapan bahwa pekerjaan yang layak berada di ruangan berpendingin dan gengsi menurut anggapan masyarakat sekitar, terlebih bagi kalangan yang saat masih menjadi mahasiswa aktif dalam organisasi ekstra kampus. Bagi Kholid, yang semasa kuliah menjadi aktivis PMII, sektor pertanian kerap dipandang sebelah mata, terutama oleh generasi muda yang menganggapnya bukan profesi bergengsi. Pandangan itulah yang ingin ia luruskan.
“Pertanian ini bukan hal yang pantas disepelekan atau dianggap sebagai profesi rendahan. Meski penghasilannya tidak menentu, insyaAllah hasilnya barokah. Kalau sedang untung, nilainya bisa lebih besar dari gaji UMR selama setahun,” ujarnya.

Ia pun secara khusus menyerukan ajakan kepada generasi muda, termasuk para sarjana yang menurutnya masih banyak bergengsi untuk turun ke sawah.
“Ayo terjun bertani. Gelar sarjana yang kita sandang ini sejatinya adalah buah dari tetesan keringat orang tua kita yang bertani,” katanya.
Merintis Aliansi Petani Muda Cabai
Melalui posisinya di LPPNU, Kholid memiliki misi jangka panjang: membentuk aliansi petani muda Sumenep yang fokus pada komoditas cabai.
Menurutnya, penguatan kolektif di kalangan petani muda menjadi kunci agar sektor pertanian tak lagi ditinggalkan generasi penerus.
Modal Balik di Petikan Ketiga
Soal hasil, Kholid membagikan pengalaman konkret dari budi daya cabainya. Modal yang ia keluarkan sudah kembali sejak petikan ketiga.
Hingga saat ini, ia telah melakukan panen atau petikan yang ke-13, dengan keuntungan yang menurutnya jauh melampaui modal awal.
“Alhamdulillah, profitnya jauh di atas modal yang dikeluarkan,” tambahnya.
Kunci Sukses: Paham Pola Main
Meski hasil pertaniannya menjanjikan, Kholid menegaskan bahwa keberhasilan itu tidak datang tanpa syarat. Ia menyebut tiga hal yang menjadi kunci utama: memahami pola main usaha tani, memahami ilmu budi dayanya, dan memahami ritme tanam yang tepat.
“Sangat menjanjikan, dengan catatan paham pola mainnya, paham ilmunya, dan paham ritme tanamnya,” tegasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













