Mediapribumi.id, Sumenep — Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) yang digagas oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur tak hanya menjadi program formal untuk lembaga pendidikan semata. Kini program tersebut setelah diluncurkan pada 20 Januari 2026 semakin bisa dilihat dampaknya di Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 3 Sumenep, di Kecamatan Batuan.
Program ini tak hanya menjadi seremonial, melainkan menjadi program kokurikuler pendidikan yang didampingi oleh Tim SIKAP dari guru dan ditingkatkan keterampilannya oleh ahli sesuai bidangnya.
SMAN 3 Sumenep Terdepan
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep, Rusliy, mengatakan saat ini jumlah sekolah yang menerapkan SIKAP semakin meningkat. Lonjakan jumlah peserta ini menunjukkan antusiasme sekolah-sekolah di Sumenep terhadap program ketahanan pangan semakin tinggi.
“Awalnya hanya 32 sekolah yang siap melaksanakan, sekarang sudah bertambah menjadi 52 sekolah. Ini menunjukkan animo sekolah terhadap program SIKAP terus meningkat,” kata Rusliy.
Dari semua sekolah yang sudah melaksanakan tersebut, Rusly menyebut bahwa SMAN 3 Sumenep sebagai sekolah terdepan dalam pelaksanaan SIKAP. Bahkan salah satu siswa sekolah itu mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai Duta Siswa SIKAP. Penghargaan tersebut diberikan lantaran siswa bersangkutan dinilai sebagai inisiator aktif program ketahanan pangan, bahkan menerapkannya secara mandiri di rumah.
“Dia tidak hanya aktif di sekolah, tapi juga menerapkan sendiri di rumahnya. Itu yang membuat Gubernur memberikan apresiasi khusus sebagai Duta Siswa SIKAP,” jelasnya.
Sudah Berjalan Lama
Kepala SMAN 3 Sumenep, Hari Utami Dewi menjelaskan bahwa kegiatan ketahanan pangan di sekolah yang dia pimpin itu sudah berjalan sebelum diluncurkannya SIKAP ini.
Sebelumnya kegiatan itu dilaksanakan dalam program School Food Care (SFC) di tahun 2025 dan diresmikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
“Sehingga kami langsung meneruskan setelah berubah menjadi program SIKAP,” katanya, Selasa (01/09/2026).
Untuk lahan yang dipakai memanfaatkan lahan kosong yang tersedia di sekolah itu sekitar 300 meter persegi dari total lahan satu hektar yang sebagian besar digunakan untuk bangunan sekolah.
“Kami akan terus mengembangkan program SIKAP sebagai bagian dari edukasi kepada para siswa termasuk kepada para guru,” jelasnya.

Bidang Ketahanan Pangan
Saat diluncurkan, SMAN 3 Sumenep sudah memiliki empat bidang dalam program SIKAP itu, yakni pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.
Semua bidang itu dilaksanakan secara maksimal dan kini berjalan semuanya dengan kolaborasi antara para siswa dan para guru sehingga saat ini semua bidang itu semakin tampak keberhasilannya.
“Keempat bidang itu kini berjalan semua dan semakin terlihat hasilnya,” imbuh Dewi.
Untuk komoditas yang dikembangkan dalam SIKAP itu, bidang pertanian diantaranya, sayuran, lombok, bawang, timun, kacang panjang, tomat, dan sebagainya.
Bidang peternakan, yakni ayam kampung. Perkembangannya pun cukup baik, yang awalnya hanya 10 ekor kini sudah menjadi 30 ekor.
sedangkan, untuk bidang perikanan, SMAN 3 Sumenep membudidayakan ikan lele sebanyak 1000 ekor, dan juga membudidayakan ikan nila.
Perkebunan, diantaranya, kalengkeng, rambutan, mangga, pepaya, pisang, dan sebagainya. Terbaru, dia juga sedang mengembangkan pepaya California sebanyak 100 bibit.
“Ini terus dikembangkan untuk kemandirian sekolah dan siswa baik pangan maupun finansial,” tuturnya.
Modal dan Penghasilan
Modal yang digunakan untuk empat bidang tersebut, perkebunan dikelola dan dimodali langsung oleh pihak sekolah, sedangkan tiga bidang lainnya bibit dan pengelolaannya oleh siswa secara langsung.
Tiga bidang yang dikelola oleh siswa itu, kelas X mengelola pertanian, kelas XI mengelola perikanan, dan kelas XII mengelola peteranakan.
“Setiap kelas ini memiliki pendamping langsung dari guru termasuk bendahara yang mengelola keuangannya juga dari guru,” tandasnya.
Dewi menceritakan, pihaknya sudah bekerjasama dengan SPPG Batuan 2 untuk mendistribusikan ikan lele, dan kemarin sudah mengirimkan sebanyak 150 kilogram.
Semua proses yang dilakukan untuk mengirimkann ikan lele itu dilakukan oleh siswa, dan semua siswa yang ikut bekerja diberikan upah.
Sedangkan untuk komoditas lainnya seperti sayuran, para siswa diajak langsung untuk menawarkan dan menjual ke pasar-pasar yang ada di sekitar seperti Pasar Anom Baru Sumenep.
“Nanti uang yang dihasilkan dikelola lagi oleh bendahara untuk meningkatkan fasilitas bidangnya masing-masing dan pembagian hasil kepada para siswa,” jelasnya.
Peningkatan Keterampilan
Lebih lanjut, Dewi menjelaskan, untuk meningkatkan keterampilan itu, pihaknya mengundang orang ahli untuk memberikan edukasi baik kepada guru yang menjadi Tim SIKAP maupun kepada siswa secara langsung sesuai dengan bidang yang dikelola seperti dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP), Dinas Perikanan, dan sebagainya.
Selain keterampilan untuk pengelolaan, pihak sekolah juga mendatangkan ahli bidang pemasaran serta kewirausahaan untuk meningkatkan hasil penjualan pasca panen.
“Agar siswa memiliki bekal pengetahuan untuk bidang itu serta kewirausahaan yang bisa dimanfaatkan setelah pulang nanti ke masyarakat,” katanya.
Dampaknya cukup signifikan, para guru yang awalnya kurang mengerti pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan itu akhirnya mengerti bahkan juga mengembangkan di rumahnya masing-masing.
Tak hanya bagi guru, para siswa juga demikian. Salah satu siswa yang menjadi Duta SIKAP, Aflah Athaillah Akmal bermodal pengetahuan yang diberikan di sekolah itu kini sudah mengembangkan berbagai bidang di rumahnya.
“Dia berhasil mempraktikkan langsung di rumahnya menjadi Rumah Inovasi Ketahanan Pangan (RIKAP),” terangnya.
Target Pengembangan
Apa yang sudah dilakukan ini membuahkan hasil yang manis. Selain siswanya berhasil menjadi Duta SIKAP, para guru juga berhasil masuk nominasi dalam ajang kompetisi yang dilakukan Pemprov Jawa Timur.
SMAN 3 Sumenep berhasil masuk nominasi dalam kategori Guru Inspiratif SIKAP, Sekolah Indah Berbasis SIKAP, dan Duta SIKAP.
“Yang berhasil juara Duta SIKAP yang berhasil diraih oleh siswa kami itu,” paparnya.
Sebagai langkah pengembangan, Dewi merencanakan akan menjadi lahan yang sudah berjalan tersebut menjadi Laboratorium Hidup atau alam yakni menjadi destinasi wisata alam.
Nantinya, banyak sekolah atau masyarakat umum bisa berkunjung langsung ke SMAN 3 Sumenep dan ikut melakukan praktik secara langsung.
“Kemarin sudah ada kunjungan dari salah satu sekolah yang ada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep,” bebernya.
Ilmu Bermanfaat
Aflah Athaillah Akmal, siswa Kelas XII yang berhasil mengembangkan SIKAP ke rumahnya mengaku mendapatkan pengetahuan setelah ikut aktif dalam program Pemrpov tersebut.
Awalnya dia mengaku kurang memahami cara menanam maupun budidaya ikan. Setelah ikut langsung di sekolah dan mendapatkan edukasi dari ahlinya dia mendapat banyak pengetahuan yang langsung dipraktikkan.
“Awalnya saya mencoba budidaya ikan lele, setelah dua bulan berhasil dan menguntungkan,” katanya.
Untuk modalnya, dia menyisakan dari uang saku yang diberikan orang tuanya untuk membeli bibit maupun bahan lainnya yang dibutuhkan.
“Saya akan terus mengembangkan. Keluarga juga semuanya memberikan dukungan,” terangnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!














;