Berita

Sawaludin Usman: Santri Harus Saleh Spiritual dan Sosial, Bukan Hanya Mengaji tapi Mengabdi

Avatar
1064
×

Sawaludin Usman: Santri Harus Saleh Spiritual dan Sosial, Bukan Hanya Mengaji tapi Mengabdi

Sebarkan artikel ini
Sawaludin Usman: Santri Harus Saleh Spiritual dan Sosial, Bukan Hanya Mengaji tapi Mengabdi

Mediapribumi.id, Malang — Kepala Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 2 Malang, Sawaludin Usman, S.E., menegaskan bahwa santri masa kini harus hadir sebagai agen perubahan yang tidak hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga mampu memberi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat.

Dalam dialog interaktif yang digelar RRI Malang memperingati Hari Santri Nasional 2025 dengan tema “Santri Berkarya untuk Negeri”, Sawaludin menyampaikan pandangan mendalam tentang arah pendidikan pesantren yang relevan dengan tantangan zaman. Rabu (22/10/2025).

Menurutnya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwaroh Malang, tempat ia berkiprah, berpegang pada prinsip klasik namun abadi: “ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah”. Prinsip inilah yang menjadi napas sistem pendidikan pesantren.

“Kami tidak ingin santri hanya pandai mengaji, tetapi juga mampu mengabdi. Prinsip iman, ilmu, dan amal menjadi kerangka berpikir dan bertindak. Santri yang sejati bukan hanya saleh spiritual, tapi juga saleh sosial — keduanya harus berjalan beriringan,” tegas Sawaludin.

Lebih jauh, ia menilai pesantren memiliki tanggung jawab strategis untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter Qur’ani. Melalui Arabic Tahfidz Class Program (ATCP), pesantren Muhammadiyah Al-Munawwaroh berupaya membentuk santri yang tidak hanya menguasai hafalan, tetapi juga memiliki kecakapan hidup dan jiwa kepemimpinan.

“Kami ingin mencetak santri yang tidak berhenti di masjid, tapi bergerak di tengah masyarakat. Mereka kami latih menjadi imam, khatib, dan pengajar Qur’an di berbagai lembaga. Itu bentuk nyata kontribusi santri bagi negeri,” ujarnya.

Sawaludin juga menekankan bahwa pembangunan peradaban tidak bisa berjalan tanpa kolaborasi tiga unsur: pesantren, masyarakat, dan pemerintah.
Menurutnya, pesantren adalah pusat inovasi dan pendidikan karakter, masyarakat menjadi laboratorium pengabdian, dan pemerintah berperan sebagai fasilitator kebijakan.

“Kolaborasi adalah kunci keberlanjutan. Ketika ketiganya bersinergi, santri tidak lagi menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek utama yang menggerakkan perubahan,” ungkapnya.

Baginya, Hari Santri bukan sekadar peringatan, tetapi momentum refleksi: sejauh mana ilmu dan amal santri benar-benar memberi manfaat bagi bangsa.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep