Mediapribumi.id, Sumenep — Mesin pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batuan Sumenep dinilai efektif mengurangi penumpukan sampah dan memanfaatkan sampah menjadi nilai rupiah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumenep.
Mesin RDF ini sudah beroperasi sejak dua tahun yang lalu dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep sudah mengirimkan hasil pengolahannya ke PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) pada akhir tahun 2025 kemarin.
“Kemarin sudah mengirim kemarin satu kali sebanyak 24 ton,” terang Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, Kamis (23/07/2026).
Namun, saat ini belum bisa produksi karena mesin RDF tersebut masih dalam proses pemeliharaan, rencananya dalam satu minggu ke depan akan produksi kembali.
Ia menilai sejak oeprasi mesin itu sangat efektif dalam mengurangi penumpukan dan mengolahnya menjadi nilai yang lebih bermanfaat.

Targetnya, setelah selesai pemeliharaan bisa mengolah 10 ton setiap minggu dan bisa mencapai 40 ton dalam satu bulan, hal ini akan mengurangi penumpukan dan memperpanjang usia TPA.
“Selain itu, target kami untuk meningkatkan PAD Kabupaten Sumenep dengan menjual hasil pengolahan sampah ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, saat ini stok yang siap untuk dikirim sebanyak 40 ton. Pihaknya masih dalam tahap koordinasi dengan perusahaan penerima terkait transporter untuk pengirimannya.
“Kami juga sedang koordinasi terkait total jumlah berapa yang bisa dikirimkan ke perusahaan penerima, apakah bisa dengan stok yang lebih sedikit,” jelasnya.
Anwar juga mengaku saat ini sedang menyiapkan tempat penyimpanan hasil pengolahan agar tidak lembab kembali, sehingga bisa terjaga standar kualitasnya.
“Perusahaan juga meminta harus ada kandungan air minimum dan ketentuan besar cacahannya. Kami akan menyesuaikan dengan permintaan,” tandasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













