Opini

Menyusuri Lorong Peradaban : Napak Tilas Jejak Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta

Avatar
74
×

Menyusuri Lorong Peradaban : Napak Tilas Jejak Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
Menyusuri Lorong Peradaban : Napak Tilas Jejak Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta
Foto Bersama Siswa-siswi Kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Kota Malang.

Mediapribumi.idMalam itu, kami bersama siswa-siswi kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Kota Malang bertolak menuju Yogyakarta. Rihlah tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya perjalanan lebih banyak diisi dengan kunjungan edukatif dan wisata sejarah, kali ini kami sengaja mengajak para siswa untuk menapaktilasi jejak perjuangan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Ada harapan besar yang kami bawa dalam perjalanan ini. Kami ingin nilai-nilai Kemuhammadiyahan yang selama tiga tahun dipelajari di bangku sekolah tidak berhenti sebagai materi pelajaran semata, tetapi tumbuh menjadi keyakinan, karakter, dan semangat perjuangan yang mengakar kuat dalam jiwa para siswa.

Setibanya di Kampung Kauman, langkah pertama kami mengarah ke Masjid Gedhe Kauman. Di masjid yang menjadi saksi perjalanan panjang dakwah Muhammadiyah ini, kami disambut hangat oleh para abdi dalem yang dengan penuh semangat membagikan kisah-kisah perjuangan Islam dan Muhammadiyah di Kauman.

Masjid Gedhe Kauman yang berdiri sejak tahun 1773 ini memiliki arsitektur yang khas. Serambinya terbuka, atapnya berbentuk limasan bertingkat, dan pada puncaknya terdapat ornamen berbentuk buah nanas yang dimaknai sebagai simbol habluminannas atau hubungan antarsesama manusia. Filosofi ini mengingatkan bahwa masjid bukan hanya tempat membangun hubungan spiritual dengan Allah SWT, tetapi juga pusat aktivitas sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dari masjid, kami diajak menuju kawasan Kawedanan Pengulon yang terletak di sisi sebelah kiri Masjid Gedhe. Dahulu, tempat ini menjadi pusat urusan keagamaan Kesultanan Yogyakarta sekaligus ruang diskusi para ulama dan pejabat keraton. Kawedanan Pengulon memiliki posisi penting dalam sejarah Muhammadiyah karena di tempat inilah pernah terjadi perdebatan panjang mengenai arah kiblat antara Kiai Penghulu dan KH Ahmad Dahlan. Perbedaan pandangan tersebut bahkan sempat menimbulkan penolakan keras terhadap gagasan pembaruan yang dibawa Ahmad Dahlan. Langgar miliknya pernah dirusak dan beliau dicap sebagai “kyai kafir”. Namun sejarah membuktikan bahwa perubahan besar memang hampir selalu lahir dari keberanian menghadapi penolakan.

Perjalanan berlanjut menyusuri lorong-lorong Kampung Kauman yang tenang. Sulit membayangkan bahwa kampung sederhana ini pernah menjadi pusat lahirnya gerakan pembaruan Islam terbesar di Indonesia. Suasananya begitu teduh, jauh dari hiruk-pikuk kota, seakan menyimpan ribuan cerita yang tak pernah habis untuk ditelusuri.

Langkah kami kemudian terhenti di Kelompok Bermain ‘Aisyiyah Ainun Jariyah, sebuah bangunan bersejarah yang dahulu dikenal sebagai Pesantren ‘Aisyiyah. Gedung yang merupakan wakaf dari warga Kauman ini hingga kini masih aktif digunakan sebagai sarana pendidikan anak usia dini. Dari tempat sederhana inilah semangat pendidikan bagi perempuan dan anak-anak terus diwariskan lintas generasi.

Tak jauh dari sana berdiri sebuah bangunan yang tak kalah penting dalam sejarah perempuan Indonesia, yakni Musholla Aisyiyah Kauman. Musholla ini dikenal sebagai salah satu pelopor Musholla perempuan yang didirikan oleh ‘Aisyiyah pada awal abad ke-20. Kehadirannya menjadi simbol bahwa perempuan memiliki ruang untuk belajar, beribadah, berdiskusi, dan mengembangkan kapasitas dirinya. Gagasan yang saat itu dianggap sangat maju lahir dari pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan yang meyakini bahwa perempuan harus memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.

Perjuangan itu tentu tidak dapat dilepaskan dari sosok Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah. Beliau bukan sekadar pendamping Ahmad Dahlan, tetapi juga tokoh besar yang memperjuangkan pendidikan dan pemberdayaan perempuan melalui lahirnya organisasi ‘Aisyiyah pada tahun 1917. Dari Kauman inilah gerakan perempuan Muhammadiyah berkembang dan memberi pengaruh besar bagi kemajuan perempuan Indonesia.

Perjalanan kami kemudian membawa langkah menuju makam sederhana yang menyimpan nama besar tersebut. Di sana bersemayam Nyai Ahmad Dahlan. Kami berhenti sejenak, memanjatkan doa dan mengenang jasa seorang perempuan yang telah melampaui zamannya. Beliau memperjuangkan pendidikan, martabat, dan kesempatan bagi kaum perempuan ketika banyak orang masih memandang perempuan hanya layak berada di ruang domestik.

Perjalanan napak tilas belum berakhir. Kami melanjutkan langkah menuju Langgar Kidul Ahmad Dahlan, sebuah bangunan sederhana yang menjadi saksi lahirnya gagasan-gagasan besar Ahmad Dahlan. Di tempat inilah beliau mengajarkan Islam yang kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di tempat ini pula beliau menghadapi berbagai bentuk penolakan, hinaan, dan perlawanan.

Mendengar kisah yang disampaikan oleh abdi dalem, kami seolah diajak kembali ke masa lebih dari seabad yang lalu. Saat seorang ulama muda berani mempertanyakan kebiasaan yang dianggap tidak sesuai dengan tuntunan agama. Saat beliau memilih berdialog, mendidik, dan memberi teladan daripada membalas kebencian dengan kemarahan. Saat beliau dan Nyai Walidah mendirikan sekolah-sekolah untuk kaum dhuafa, membuka akses pendidikan bagi perempuan, dan meletakkan fondasi gerakan yang kemudian dikenal dengan nama Muhammadiyah.

Yang paling menggetarkan hati adalah ketika abdi dalem mengutip pesan yang hingga kini terus hidup di kalangan warga Muhammadiyah:

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Muhammadiyah didirikan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai sarana pengabdian bagi umat dan masyarakat. Sebuah pesan yang relevan sepanjang zaman, terutama bagi generasi muda yang kelak akan melanjutkan estafet perjuangan.

Di tengah penjelasan tersebut, suasana mendadak hening. Beberapa siswa tampak larut dalam cerita. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari mereka. Ada rasa penasaran, kekaguman, sekaligus kebanggaan. Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa pelajaran Kemuhammadiyahan yang selama ini diajarkan di kelas kini hadir dalam bentuk yang nyata. Bukan lagi sekadar nama tokoh dalam buku, tetapi sosok manusia yang pernah berjuang, menghadapi penolakan, dan mengorbankan hidupnya demi kemajuan umat.

Ketika azan Maghrib berkumandang, kami kembali ke Masjid Gedhe Kauman untuk menunaikan salat berjamaah. Di tengah suasana yang tenang dan khusyuk, hati kami dipenuhi rasa syukur. Syukur karena diberi kesempatan menyusuri jejak perjuangan para pendahulu. Syukur karena menjadi bagian dari Muhammadiyah yang hari ini telah berkembang begitu besar berkat ketulusan dan pengorbanan mereka.

Perjalanan di Kampung Kauman sore itu bukan sekadar kunjungan sejarah. Ia adalah perjalanan menengok akar, memahami identitas, dan menyalakan kembali semangat perjuangan. Kami pulang dengan hati yang lebih penuh, dengan rasa bangga yang lebih dalam, dan dengan cinta yang semakin kuat kepada Muhammadiyah.

Semoga cita-cita besar yang dahulu ditanamkan oleh KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dasiswa-siswi kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Kota Malanghlan terus hidup dalam diri kita semua. Sebab sesungguhnya, membesarkan Muhammadiyah bukan hanya tugas para tokohnya, melainkan amanah bagi setiap generasi yang mengaku sebagai bagian dari persyarikatan ini.

Opini ini ditulis Oleh: Yanur Setyaningrum, M.Pd (Kepala SMP Muhammadiyah 1 Kota Malang)

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep