ArtikelOpini

Keharusan Berbenahnya Fakultas “Kependidikan”

Avatar
42
×

Keharusan Berbenahnya Fakultas “Kependidikan”

Sebarkan artikel ini
Keharusan Berbenahnya Fakultas “Kependidikan”
Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan 1 Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora, Universitas Muhammadiyah Malang. (Foto: Dokumen Pribadi)

Mediapribumi.idAda masa ketika masuk fakultas keguruan aau kependidikan hampir selalu dibayangkan sebagai jalan lurus menuju profesi guru saja. Mahasiswa belajar ilmu pendidikan, menguasai bidang studi tertentu, mengikuti praktik mengajar, lulus, lalu berdiri di depan kelas sebagai pendidik. Jalan itu mulia dan tetap penting. Namun, dunia telah berubah jauh lebih cepat daripada cara kita memandang fakultas keguruan dan kependidikan.

Hari ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar “berapa banyak guru yang bisa dicetak?”, melainkan “guru seperti apa dan lulusan pendidikan seperti apa yang dibutuhkan bangsa ini?” Pertanyaan ini penting karena pendidikan sedang berada di tengah tekanan besar: digitalisasi, kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, krisis lingkungan, kesenjangan literasi, perubahan karakter peserta didik, dan kompetisi global. Alumni harus siap mengisi lapangan kerja non-guru.

Guru tidak lagi cukup hanya menguasai bahan ajar. Ia harus mampu membaca data belajar siswa, menggunakan teknologi secara etis, merancang pembelajaran berdiferensiasi, menumbuhkan karakter, mengelola keberagaman kelas, membangun komunikasi dengan orang tua, dan menjaga kemanusiaan di tengah banjir informasi. Menjadi guru hari ini tidak mudah. Justru karena tidak mudah itulah fakultas kependidikan harus berbenah.

Menjadi Guru Tidak Lagi Sederhana

Dulu, guru sering diposisikan sebagai sumber utama pengetahuan. Kini, peserta didik dapat memperoleh informasi dari mesin pencari, media sosial, video pembelajaran, aplikasi kecerdasan buatan, dan komunitas digital. Dalam situasi seperti itu, guru tidak boleh hanya menjadi penyampai materi. Guru harus menjadi penuntun arah, penyaring informasi, pembangun nalar, penjaga nilai, dan pendamping tumbuhnya karakter.

Guru masa kini dituntut menjadi fasilitator pembelajaran, desainer pengalaman belajar, penggerak literasi, pembimbing moral, sekaligus inovator sosial di ruang kelas. Ia harus memahami teknologi, tetapi tidak boleh diperbudak teknologi. Ia harus terbuka pada data, tetapi tetap peka pada sisi manusiawi peserta didik. Ia harus mampu mengikuti perubahan kurikulum, tetapi tidak kehilangan orientasi utama pendidikan: memanusiakan manusia.

Karena itu, lembaga yang menyiapkan guru juga tidak boleh berjalan dengan cara lama. Fakultas kependidikan harus bertanya ulang kepada dirinya sendiri: apakah kurikulumnya masih relevan? Apakah mahasiswa hanya disiapkan untuk satu jalur profesi? Apakah bidang ilmu pendidikan dan keilmuan murni atau sosial yang dipelajari mahasiswa sudah cukup kuat untuk membuat mereka adaptif di banyak lapangan kerja?

Jangan Terjebak Romantisme Masa Lalu

Istilah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan memiliki nilai historis yang kuat. Nama itu mengingatkan kita pada perjuangan panjang menyiapkan pendidik bangsa. Dari ruang-ruang kuliah fakultas kependidikan, lahir guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, peneliti, penulis buku ajar, dan berbagai tokoh pendidikan.

Namun, sejarah besar tidak boleh membuat lembaga pendidikan merasa cukup. Dalam dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, romantisme masa lalu tidak cukup untuk menjawab tantangan masa depan. Nama besar, alumni banyak, dan tradisi panjang tetap penting, tetapi tidak akan memadai jika tidak disertai pembaruan kurikulum, penguatan riset, peningkatan mutu layanan mahasiswa, internasionalisasi, dan perluasan orientasi lulusan.

Naskah akademik perubahan FKIP menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora menegaskan bahwa perubahan nama bukan tindakan administratif semata, melainkan rekonstruksi identitas akademik agar fakultas mampu menjawab perubahan lanskap pendidikan tinggi, kebutuhan masyarakat, dinamika industri, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tekanan internasionalisasi.

Mahasiswa Kependidikan Harus Siap Mengisi Lapangan Kerja Non-Guru

Inilah titik penting yang perlu dibicarakan lebih jujur. Mahasiswa fakultas keguruan dan kependidikan memang harus disiapkan menjadi guru yang baik. Namun, mereka juga harus siap mengisi lapangan kerja non-guru. Realitas dunia kerja tidak lagi tunggal. Tidak semua lulusan pendidikan akan langsung menjadi guru. Sebagian akan masuk ke lembaga pelatihan, industri pendidikan, perusahaan teknologi, penerbitan, lembaga riset, media, organisasi sosial, pemerintahan, dunia kreatif, bahkan wirausaha.

Karena itu, kurikulum fakultas kependidikan harus memperkuat dua sisi sekaligus: ilmu pendidikan dan keilmuan bidang studi. Mahasiswa Pendidikan Biologi tidak cukup hanya memahami pedagogi biologi, tetapi juga perlu kuat dalam ekologi, biodiversitas, bioteknologi, mikrobiologi, konservasi, pendidikan lingkungan, dan literasi sains. Dengan bekal itu, mereka dapat menjadi guru biologi, tetapi juga berpeluang menjadi edukator lingkungan, fasilitator konservasi, peneliti lapangan, pengembang sumber belajar sains, staf lembaga lingkungan, pendamping program CSR lingkungan, pengelola laboratorium pendidikan, atau pengembang konten sains populer.

Mahasiswa Pendidikan Matematika tidak hanya perlu disiapkan menjadi guru matematika, tetapi juga harus kuat dalam numerasi, statistika, pemodelan, analisis data, logika, komputasi dasar, dan pemecahan masalah. Dengan kompetensi itu, mereka dapat mengisi peran sebagai analis data pendidikan, pengembang instrumen asesmen, tutor profesional, pengembang modul numerasi, staf lembaga survei, analis pembelajaran, pengembang konten matematika digital, atau fasilitator pelatihan numerasi.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia tidak hanya perlu menguasai pengajaran bahasa, tetapi juga harus kuat dalam literasi, kebahasaan, penulisan, penyuntingan, komunikasi publik, jurnalistik, produksi konten, dan kajian budaya. Mereka dapat menjadi guru, tetapi juga editor, penulis, jurnalis, copywriter, pengembang bahan ajar, penyusun naskah, pengelola media digital, staf humas, fasilitator literasi, atau pekerja kreatif berbasis bahasa.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris juga tidak cukup hanya diarahkan menjadi guru bahasa Inggris. Mereka perlu dibekali komunikasi global, penerjemahan, interpreting, penulisan akademik, English for Specific Purposes, public speaking, literasi digital, dan komunikasi antarbudaya. Dengan itu, mereka dapat bekerja sebagai guru, penerjemah, interpreter, staf hubungan internasional, pengembang konten bahasa Inggris, editor, trainer bahasa, staf lembaga kursus, pemandu komunikasi profesional, atau pekerja di sektor pariwisata dan industri kreatif global.

Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tidak hanya perlu disiapkan menjadi guru PPKn. Mereka harus kuat dalam kajian kewarganegaraan, demokrasi, hukum dasar, kebijakan publik, etika sosial, pendidikan antikorupsi, resolusi konflik, hak asasi manusia, dan literasi politik. Dengan kemampuan itu, mereka dapat berperan sebagai fasilitator pendidikan demokrasi, staf lembaga sosial, pendamping komunitas, analis kebijakan pemula, pengelola program kebangsaan, penyuluh sosial, pekerja organisasi masyarakat sipil, atau pengembang program karakter dan kewarganegaraan.

Mahasiswa PGSD pun tidak harus dibayangkan hanya menjadi guru kelas. Mereka memiliki bekal penting tentang perkembangan anak, literasi dasar, numerasi dasar, psikologi pendidikan, asesmen awal, desain pembelajaran, manajemen kelas, dan pendidikan karakter. Kompetensi itu dapat membawa mereka menjadi pengembang bahan ajar anak, pendamping tumbuh kembang, fasilitator literasi keluarga, pengelola bimbingan belajar, pengembang media pembelajaran dasar, pendamping komunitas anak, pengelola program pendidikan anak, atau wirausahawan di bidang layanan pendidikan dasar.

Jangan Tinggalkan Pendidikan Guru

Namun, memperluas orientasi lulusan bukan berarti meninggalkan program studi kependidikan. Ini harus ditegaskan. Bangsa ini tetap membutuhkan pasokan guru berkualitas. Sekolah akan selalu membutuhkan pendidik. Anak-anak akan selalu membutuhkan sosok yang membimbing, menginspirasi, dan menuntun mereka memahami kehidupan. Pendidikan tidak akan pernah mati.

Karena itu, program studi kependidikan harus tetap menjadi jantung fakultas. Yang perlu diubah bukan komitmennya terhadap profesi guru, melainkan cara menyiapkan guru dan lulusan pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Pendidikan guru harus naik kelas, bukan ditinggalkan.

Guru masa depan harus lahir dari ekosistem akademik yang kaya. Ia tidak cukup hanya memahami teori belajar, tetapi juga harus menguasai teknologi pembelajaran, literasi data, komunikasi lintas budaya, pendidikan karakter, inklusi, keberlanjutan, dan kemampuan berpikir kritis. Di saat yang sama, lulusan kependidikan juga harus memiliki kompetensi bidang yang cukup kuat untuk masuk ke ruang-ruang kerja non-guru.

Di sinilah pentingnya integrasi pendidikan, sains, dan humaniora. Pendidikan memberi arah pedagogis: bagaimana manusia belajar, bagaimana pembelajaran dirancang, dan bagaimana karakter dibentuk. Sains memberi basis rasional: data, bukti, eksperimen, teknologi, literasi ilmiah, dan kemampuan memecahkan masalah. Humaniora memberi kedalaman nilai: bahasa, budaya, etika, kewarganegaraan, komunikasi, identitas, dan kemanusiaan.

Pendidikan tanpa sains berisiko kehilangan ketajaman bukti dan rasionalitas. Pendidikan tanpa humaniora berisiko kehilangan kepekaan nilai dan kemanusiaan. Karena itu, fakultas pendidikan masa depan tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak lulusan, tetapi harus menjadi pusat gagasan, riset, inovasi, dan layanan akademik bagi sekolah, masyarakat, dan dunia kerja.

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan 1 Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora, Universitas Muhammadiyah Malang)

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *