Mediapribumi.id, Sumenep — Bertepatan dengan peringatan Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan, sebuah wadah kolaborasi bernama Madura Farm Hub resmi dideklarasikan hari ini, Rabu (26/08/2026), di Cafe Tanean, Kebunan, Kota Sumenep.
Kegiatan bertajuk “Refleksi Hari Peternakan & Kesehatan Hewan sekaligus Deklarasi Madura Farm Hub” ini berlangsung mulai pukul 10.00 WIB dan dihadiri sejumlah tokoh serta pemangku kepentingan lintas sektor, di antaranya Ketua Partai Golkar Kabupaten Sumenep A. Navis El-Zuhdi, S.Tr.P., Anggota DPRD Sumenep dari Fraksi NasDem Samsiyadi, Asisten Tenaga Ahli Bupati Sumenep Bidang Pertanian M. Ridwan, dan Direktur DRT Eggscape Moh. Faiq, S.E.
Kegiatan hari ini dirancang bukan hanya sebagai seremoni peringatan, melainkan juga ruang konsolidasi berbagai elemen masyarakat untuk membahas masa depan petani dan peternak Madura, mulai dari isu ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, hingga pengembangan potensi peternakan daerah.
Inisiator Madura Farm Hub, Sayuthi, menjelaskan, populasi sapi potong di empat kabupaten se-Madura tercatat mencapai sekitar 1,07 juta ekor, dengan Sumenep sebagai salah satu penyumbang populasi terbesar, diikuti Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Angka ini menjadi salah satu dasar argumen bahwa Madura memiliki modal besar untuk berkontribusi pada ketahanan protein hewani nasional, ditopang pula oleh keberadaan Sapi Madura sebagai plasma nutfah lokal yang sudah beradaptasi dengan kondisi wilayah.
Gagasan pembentukan wadah ini lahir dari kegelisahan sekaligus optimisme melihat besarnya potensi pertanian dan peternakan di Madura yang selama ini belum tergarap maksimal.
“Madura memiliki modal yang luar biasa. Kita memiliki populasi sapi yang besar, Sapi Madura sebagai sumber daya genetik yang berharga, lahan pertanian, serta masyarakat yang sejak lama memiliki tradisi bertani dan beternak. Yang perlu kita bangun sekarang adalah ekosistem dan kolaborasinya,” ujar Sayuthi.
Ia menegaskan bahwa peternak selama ini kerap hanya diposisikan sebagai penerima program, padahal mereka semestinya menjadi pelaku utama pembangunan.
“Kita tidak ingin peternak hanya menjadi objek program. Peternak harus menjadi subjek pembangunan. Mereka harus memiliki akses terhadap pembibitan, pakan, kesehatan hewan, teknologi, pembiayaan, pasar, dan pengetahuan,” katanya.
Sayuthi menilai momentum hari ini tepat untuk mengaitkan agenda pembangunan peternakan Madura dengan isu ketahanan pangan nasional yang lebih luas, termasuk penyediaan protein hewani seperti daging, telur, dan susu.
Ia juga mendorong konsep integrasi pertanian-peternakan, di mana limbah pertanian dapat diolah menjadi pakan ternak, sementara kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung produktivitas lahan pertanian.
Sayuthi menegaskan bahwa deklarasi yang berlangsung hari ini hanyalah permulaan dari kerja-kerja lanjutan yang lebih konkret, mencakup pembibitan, kemandirian pakan, kesehatan hewan, pemberdayaan peternak muda, penguatan kelompok tani-ternak, akses pembiayaan, hingga pemasaran hasil.
Ia mengajak seluruh pihak, pemerintah, DPRD, pelaku usaha, akademisi, komunitas, lembaga keuangan, hingga donatur, untuk turut mengambil bagian dalam gerakan kolaborasi tersebut.
“Kami berkomitmen untuk berkontribusi dalam meningkatkan pertanian di Sumenep,” pungkasnya.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













