Mediapribumi.id, Sumenep – Insiden memilukan terjadi di Swalayan NU Batang-Batang, seorang pramuniaga atau karyawan berinisial DR asal Desa Kolpo meninggal dunia akibat kesetrum listrik bertegangan tinggi saat memperbaiki salah satu atap. Sabtu (31/01/2026).
Peristiwa ini terjadi sekitar Pukul 13.30, saat itu korban meminta salah satu warga berinisal M untuk memperbaiki seng atap di kantor administrasi yang rusak diterpa angin beberapa waktu sebelumnya.
Saat itu, DR ikut membantu M, saat berada di atas atap DR berdiri kemudian punggungnya mengenai kabel listrik milik PLN yang melintang dari timur ke barat.
Setelah M menghampiri DR ternyata sudah jatuh terkapar dan setelah dicek sudah meninggal dunia, lalu, ia meminta tolong kepada masyarakat yang di sekitar Tempat Kejadian Pekara (TKP) dan M saat itu mengalami syok hingga harus dirawat di Puskesmas setempat.
“Kemudian korban dievakuasi dan diantarkan ke rumah duka yang ada di Desa Kolpo,” terang Plt. Humas Polres Sumenep, Kompol widiarti dikutip dari Bongkar86.com. Senin (02/02/2026).
Pihak keluarga DR menolak untuk dilakukan autopsi dan mengikhlaskan kepergiannya. Akibat peristiwa ini, DR mengalami luka bakar di bagian punggung, luka beset dagu kanan, tangan kanan, dan kiri.
Terpisah, Ketua Koperasi Syariah NUansaummat yang membawahi Swalayan NU Batang-Batang, Homaidi menerangkan, bahwa DR saat itu membantu tukang yang kebetulan pamannya sendiri untuk memperbaiki atap.
Menurutnya, atap seng tersebut diduga berdekatan dengan kabel PLN sehingga memungkinkan untuk megalirkan listrik akibat gesekan atau kontak secara langsung.
“Setahu saya korban tidak disuruh, kemungkinannya inisiatif sendiri untuk membantu memperbaiki atap itu,” jelasnya kepada wartawan.
Lebih lanjut, ia menegaskan sebelumnya sudah mengingatkan kepada pengelola untuk tidak melibatkan karyawan jika berhubungan dengan sesuatu yang membahayakan.
“Kami mohon maaf ini di luar kuasa kami. Kami pastikan akan melakukan evaluasi secara menyeluruh,” tegasnya.
Homaidi mengaku setelah peristiwa itu seluruh pengurus hadir ke rumah duka dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga DR.
“Swalayan langsung kami tutup setelah peristiwa itu tapi tidak satu hari penuh. Bukan kami tidak berempati, kami juga memikirkan kebutuhan konsumen yang lain,” pungkasnya.













