Berita

Maharaya Festival Sumenep akan Digelar Bulan Juli, Merancang Tari dari Karakter Jalan Raya

Avatar
30
×

Maharaya Festival Sumenep akan Digelar Bulan Juli, Merancang Tari dari Karakter Jalan Raya

Sebarkan artikel ini
Maharaya Festival Sumenep akan Digelar Bulan Juli, Merancang Tari dari Karakter Jalan Raya
Tarian Berkarakter Jalan Raya

Mediapribumi.id, Sumenep — Maharaya Festival Sumenep menjadi warna di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Jalan raya lazim dipahami sebagai ruang mobilitas. Kendaraan melintas, orang berpindah, aktivitas ekonomi berlangsung. Namun, di Maharaya Festival 2026, ruang publik itu justru diposisikan sebagai titik awal lahirnya sebuah karya tari.

Gagasan tersebut menjadi konsep utama yang terus diperkenalkan penyelenggara menjelang pelaksanaan Maharaya Festival 2026. Berbeda dari pertunjukan tari di ruang terbuka pada umumnya, festival ini mengajak koreografer menjadikan karakter jalan raya sebagai dasar penciptaan karya, bukan sekadar lokasi pementasan.

Dengan pendekatan itu, proses kreatif dimulai sejak tahap perancangan. Eksplorasi gerak, pola lantai, komposisi penari, arah hadap, hingga hubungan penari dengan penonton disusun berdasarkan karakter jalan raya sebagai panggung utama.

Salah satu inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis, menilai praktik tersebut berbeda dengan kebiasaan yang selama ini berkembang dalam pertunjukan tari di ruang publik.

“Selama ini banyak pertunjukan tari di jalan raya, sebenarnya merupakan karya yang sebelumnya diciptakan untuk panggung konvensional, kemudian hanya dipindahkan ke ruang terbuka. Kami ingin membalik cara pandang itu. Jalan raya bukan sekadar tempat mempertunjukkan karya, tetapi menjadi ruang yang sejak awal melahirkan ide dan bahasa artistik koreografi,” kata Khalis di Sumenep. Jum’at (10/7/2026).

Menurut Nur Khalis, setiap ruang memiliki karakter yang membentuk pilihan artistik seorang koreografer. Karena itu, karya yang sejak awal dirancang untuk jalan raya akan memiliki bentuk, komposisi, dan pengalaman pertunjukan yang berbeda dibandingkan karya yang diciptakan untuk panggung tertutup.

“Pilihan gerak, arah hadap penari, komposisi pertunjukan, bahkan cara penonton menikmati karya tentu akan berbeda. Kami berharap Sumenep dapat menjadi daerah yang memulai tradisi penciptaan koreografi berbasis jalan raya,” lanjutnya.

Melalui konsep tersebut, Maharaya Festival ingin menghadirkan pendekatan baru dalam ekosistem seni pertunjukan. Jalan raya tidak lagi dipandang sebagai ruang yang sekadar menampung pertunjukan, melainkan menjadi unsur yang ikut membentuk identitas artistik sebuah karya.

Festival ini juga dirancang sebagai ruang kolaborasi antara seni pertunjukan, ekonomi kreatif, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhi pertunjukan seni, aktivitas budaya, serta keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Nur Khalis berharap, Maharaya Festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi ruang lahirnya gagasan dan eksperimen baru dalam seni pertunjukan.

“Kami ingin Maharaya menjadi ruang lahirnya cara-cara baru dalam berkarya. Semoga festival ini dapat menginspirasi para seniman untuk terus bereksperimen, sekaligus memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang berani menawarkan inovasi dalam dunia seni pertunjukan,” tuturnya.

Maharaya Festival 2026 mengusung tema “Gelombang dari Pesisir” dan akan berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Festival ini menjadi bagian dari Sumenep Calendar of Event 2026 dengan melibatkan praktisi dan akademisi tari, komunitas dan sanggar seni, pelaku UMKM, masyarakat, serta Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *