Mediapribumi.id, Malang — Prestasi gemilang kembali ditorehkan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim peneliti dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dipimpin Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., berhasil menembus publikasi internasional bereputasi Q1 di jurnal Social Sciences and Humanities Open terbitan Elsevier.
Artikel yang dihasilkan mengangkat tradisi lokal “reresik kali” atau ritual pembersihan sungai masyarakat Jawa sebagai simbol relasi harmonis antara manusia dan alam. Penelitian ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI melalui skema Penelitian Fundamental BIMA.
Selain Prof. Abdulkadir, tim peneliti juga terdiri atas Dr. Husamah, M.Pd., Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd., dan Turut Indria Permana, M.Pd..
Kearifan Lokal sebagai Sistem Ekologi
Dalam penelitian ini, tim UMM menelusuri makna dan fungsi ekologis ritual “reresik kali”, yang melibatkan kegiatan membersihkan sungai secara bersama-sama, disertai doa dan upacara adat. Praktik ini terbukti memiliki nilai sosial, spiritual, dan konservatif yang kuat, berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan air dan kelestarian ekosistem.
Dengan pendekatan etnografi dan antropologi lingkungan, para peneliti menemukan bahwa ritual tersebut mencerminkan sistem pengetahuan lokal yang efektif dalam mengatur hubungan manusia dan lingkungan tanpa bergantung pada teknologi modern.
“Ritual ‘reresik kali’ menunjukkan bahwa masyarakat tradisional memiliki mekanisme ekologis yang selaras dengan nilai budaya dan spiritualitas,” ujar Prof. Abdulkadir.
“Kami ingin dunia tahu bahwa kearifan lokal seperti ini bisa menjadi referensi ilmiah global untuk keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
Kontribusi Global dari Tanah Lokal
Bagi Dr. Husamah, keberhasilan publikasi di jurnal internasional bereputasi ini merupakan bukti pentingnya kolaborasi lintas bidang.
“Kami menggabungkan perspektif pendidikan lingkungan, antropologi sosial, dan ekologi. Hasilnya lebih komprehensif dan relevan dengan konteks masyarakat,” jelasnya.
Sementara Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha menegaskan, publikasi ini bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga kontribusi ilmiah UMM terhadap isu global.
“Dari tradisi lokal, kita belajar tentang cara menjaga sungai dengan nilai spiritual dan sosial. Dunia perlu mendengarnya,” ujarnya.
Adapun Turut Indria Permana, menilai bahwa tradisi “reresik kali” berpotensi besar diintegrasikan dalam pendidikan karakter dan lingkungan.
“Anak-anak bisa belajar tentang tanggung jawab ekologis dari praktik budaya yang dekat dengan kehidupan mereka,” katanya.
Apresiasi dan Harapan ke Depan
Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. M. Mahfud Effendi, memberikan apresiasi tinggi atas capaian ini. “Publikasi di jurnal Q1 Elsevier bukan hal mudah. Ini bukti bahwa dosen-dosen FKIP UMM tidak hanya unggul dalam pengajaran, tetapi juga produktif dan relevan dalam penelitian,” ujarnya.
Ia menambahkan, FKIP UMM akan terus mendorong riset yang berpihak pada kemanusiaan dan keberlanjutan.
“Kami ingin menjadi pusat penelitian pendidikan dan budaya yang menjawab tantangan zaman. Riset seperti ini membuktikan bahwa universitas mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kearifan masyarakat,” tandasnya.
Ke depan, tim peneliti berencana memperluas kajian terhadap ritual-ritual lingkungan di daerah lain di Indonesia serta mengembangkan model pendidikan berbasis kearifan lokal. Mereka juga berharap hasil riset ini dapat menginspirasi pemerintah dalam merumuskan strategi nasional pengelolaan air dan konservasi sungai berbasis komunitas.













