BeritaLingkunganPendidikan

“Eco Learning School” 2026 Resmi Dibuka di TPA Sumenep, Angkat Isu Krisis Iklim dan Darurat Sampah

Avatar
×

“Eco Learning School” 2026 Resmi Dibuka di TPA Sumenep, Angkat Isu Krisis Iklim dan Darurat Sampah

Sebarkan artikel ini
Eco Learning School 2026 Resmi Dibuka di TPA Sumenep, Angkat Isu Krisis Iklim dan Darurat Sampah
Pembukaan Eco Learning School 2026.

Mediapribumi.id, Sumenep — Komunitas Arasa Sociopreneur Action bersama Yayasan Yappika Actionaid resmi membuka program Eco Learning School 2026 pada Sabtu, (08/08/2026).

Pembukaan digelar langsung di area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumenep, diawali dengan Workshop Krisis Iklim dan Darurat Sampah.

Program edukasi lingkungan ini dirancang berlangsung selama tiga bulan, terhitung Juli hingga September 2026. Tahapannya diawali dengan pendaftaran pada Juli, dilanjutkan pelaksanaan materi penuh sepanjang Agustus, dan diakhiri dengan monitoring serta evaluasi pada September mendatang.

Sebanyak lima sekolah di Kabupaten Sumenep berpartisipasi dalam program ini, yaitu SMAN 3 Sumenep, SMK Al Karimiyyah, SMAN Gapura, SMKN 1 Sumenep, dan MAN Sumenep. Setiap sekolah mengirimkan delapan siswa dan dua guru pendamping, yang akan berkumpul setiap Sabtu dan Minggu sepanjang Agustus untuk mendalami berbagai isu pengelolaan lingkungan dan persampahan.

Pada sesi pertama workshop, hadir sebagai narasumber Fungsional Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Andritiyas Nurikayanti, S.E., M.Si. Ia memaparkan kondisi terkini krisis iklim serta urgensi penanganan darurat sampah, khususnya di wilayah Sumenep.

Founder Komunitas Arasa Sociopreneur Action, Machallafri Iskandar, hadir langsung memberikan sambutan sekaligus membuka rangkaian kegiatan. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dan pendidik dalam membangun kesadaran ekologis dari lingkungan sekolah.

Eco Learning School bukan sekadar tempat belajar teori, melainkan ruang aksi nyata. Kami ingin para siswa dan guru yang hadir di sini menjadi agen perubahan yang membawa solusi konkret atas permasalahan sampah di sekolah dan komunitas masing-masing,” ujar Machallafri.

Ia menambahkan, pemilihan TPA Sumenep sebagai lokasi pembukaan merupakan langkah yang disengaja agar seluruh peserta dapat melihat langsung realitas darurat sampah yang tengah dihadapi.

“Memilih TPA Sumenep sebagai lokasi pembukaan adalah langkah sengaja agar kita semua melihat secara langsung realitas darurat sampah yang kita hadapi hari ini. Harapan kami, kolaborasi antara Arasa Sociopreneur Action dan Yappika Actionaid ini dapat melahirkan gerakan lingkungan yang berkelanjutan di Sumenep,” tambahnya.

Setelah pembukaan dan workshop awal ini, peserta dijadwalkan mengikuti berbagai modul pelatihan praktis pada pertemuan berikutnya sepanjang Agustus. Materi yang akan dipelajari meliputi budidaya maggot untuk pengolahan sampah organik, tata kelola bank sampah, teknik budidaya hidroponik, hingga konservasi ekosistem mangrove.

Selain pembekalan pengetahuan dan keterampilan, program ini juga memberikan dukungan fasilitas nyata. Di akhir rangkaian kegiatan, kelima sekolah peserta dijadwalkan menerima hibah berupa sarana dan peralatan bank sampah untuk menunjang operasional pemilahan serta pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *