“Buang saja ke tempat sampah!”. Perintah yang sangat jelas terdengar. Alif bergeming. Hening. Tak ada suara. Matanya menatap potongan-potongan warna, merah putih, yang terserak di antara daun-daun selada, kol, wortel dan remah-remah. Raut wajahnya seperti menyimpan kesal dan amarah. Nanar. Tangannya sedikit mengepal. Ia mendongak, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya ke udara. Berulang kali ia lakukan.
Satu jam yang lalu, tikar-tikar digelar. Orang-orang bersila dan bersorak. Melingkar mengelilingi tampah. Di tengah-tengahnya, tumpeng tampak kokoh seperti gunung semeru. Dedaun yang hijau seperti hutan dan kebun yang subur. Lengkap dengan daging, ayam dan telur, serta buah dan sayur. “Ini adalah Indonesia”, gumam Alif lirih, “Keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta”. Meskipun di masa lalu tumpeng begitu sakral sebagai pemujaan, bagi Alif dan orang-orang yang sedang merayakan kemerdekaan dan kebahagiaan di ruangan itu, tumpeng adalah wujud dari harapan dan rasa syukur.
Alif kembali menghembuskan nafasnya ke udara. Kali ini lebih panjang. Dengan mata berkaca-kaca, ia melangkah perlahan. Membungkuk memunguti potongan-potongan warna, merah putih. Bendera. Lalu meletakkannya di dadanya. Kemudian di saku dadanya. Meski dengan ukuran yang sangat kecil, bagi Alif ia tetap bendera yang harus dijaga dan dihormati. Merah putih.













