Mediapribumi.id — Sunyinya malam, bagiku adalah tempat paling setia untuk rinduku, dan langit yang pekat itu selalu kuseduhi dengan do’a-do’a panjang tentangmu. Tak ada suara selain desah lirih yang kuletakkan di antara sepertiga malam, ketika dunia sunyi dan hanya Tuhan yang terjaga. Kupanggil namamu dalam diam, bukan untuk memaksamu kembali, tapi sekadar membujuk semesta agar kau tahu: ada hati yang tak lelah berharap, meski tak lagi kau lihat.
Aku tak lagi menuliskan namamu dalam pesan, hanya menenunnya dalam setiap ayat yang kusematkan setelah “aamiin.” Dalam doa, aku memelukmu tanpa menyentuh, mencintaimu tanpa mengekang, dan memintamu tanpa memaksa. Setiap malam, aku menjadi pengemis yang setia mengetuk pintu langit, meminta Tuhan menjagamu dengan cara-Nya, karena aku tahu, mencintaimu adalah perkara sabar, bukan soal memiliki.
Jika suatu hari kau merasa tenang tanpa sebab, mungkin itu adalah bisik doaku yang menjelma pelindung. Jika hatimu tiba-tiba hangat dalam hening, bisa jadi itu rindu yang kusampaikan tanpa suara. Aku tak pernah benar-benar pergi, hanya menjauh agar bisa mencintaimu lebih tulus, lewat sesuatu yang tak bisa disentuh manusia: doa.













