Pentigraf

Mahasiswa di Era Pasca Kebenaran: Antara Emosi dan Nalar

Avatar
381
×

Mahasiswa di Era Pasca Kebenaran: Antara Emosi dan Nalar

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa di Era Pasca Kebenaran: Antara Emosi dan Nalar

Mediapribumi.id, Di era pasca kebenaran, fakta bukan lagi rujukan utama dalam membentuk opini publik. Emosi, kepercayaan pribadi, dan narasi yang menggugah lebih mudah diterima ketimbang data yang sahih. Sebagian mahasiswa sebagai kelompok intelektual justru sering kali terjebak dalam arus informasi yang membius perasaan, bukan menyentuh nalar. Media sosial, alih-alih menjadi ruang dialektika, berubah menjadi medan tempur opini yang berisik dan bias.

Dalam suasana seperti itu, kampus bukan lagi benteng logika yang kukuh. Banyak mahasiswa lebih cepat membagikan narasi viral ketimbang membaca jurnal ilmiah. Kebenaran menjadi relatif; siapa yang paling lantang, dialah yang dianggap benar. Diskusi akademik yang seharusnya kritis dan bernalar, malah sering dikalahkan oleh retorika kosong dan klaim sepihak yang dibalut estetika digital.

Namun, di tengah kabut pasca-kebenaran itu, tetap ada harapan. Mahasiswa yang menyadari pentingnya literasi informasi mulai bangkit, menggali data, memverifikasi sumber, dan membangun ulang tradisi berpikir rasional. Mereka tak ingin menjadi korban dari manipulasi emosi massal. Mereka sadar: tugas mahasiswa bukan sekadar menyuarakan, tetapi menalar. Bukan sekadar percaya, tetapi memahami.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep