Berita

Antrean Panjang Kendaraan Diesel di Sumenep: Beda Pendapat Pengelola dan Pertamina Patra Niaga

Avatar
×

Antrean Panjang Kendaraan Diesel di Sumenep: Beda Pendapat Pengelola dan Pertamina Patra Niaga

Sebarkan artikel ini
Antrean Panjang Kendaraan Diesel di Sumenep: Beda Pendapat Pengelola dan Pertamina Patra Niaga
Tampak Antrean Mobil Diesel di SPBU Desa Paberasan Kota Sumenep.

Mediapribumi.id, Sumenep — Selama beberapa hari belakangan, antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Sumenep terjadi lagi. Kali ini ratusan mobil diesel tampak berderetan menunggu giliran untuk mengisi BBM jenis Biosolar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Pantauan media ini, antrean mengular itu terjadi di beberapa SPBU diantaranya, SPBU 5469403 Desa Gedungan Kecamatan Batuan, SPBU 5469407 Desa Paberasan, dan SPBU 5469401 Desa Kolor, keduanya berada di Kecamatan Kota Sumenep.

Salah satu sopir Travel Sumenep, Faisal mengaku belakangan dirinya kesulitan mendapatkan Biosolar, bahkan sering antre panjang dan berjam-jam.

“Bukan hanya di Sumenep, namun di seluruh Madura juga sama,” katanya, Selasa (27/10/2026).

Faisal mengaku sempat mengonfirmasi kepada karyawan di SPBU, kelangkaan itu disebabkan keterlambatan pengiriman.

“Yang sulit kami dapatkan itu Biosolar, kalau Pertalite mendingan,” tandasnya.

Sementara, Direktur Utama PT Wira Usaha Sumekar WUS Sumenep, Zainul Ubbadi membenarkan antrean panjang BBM bersubsidi beberapa waktu belakangan.

Dia menyebut bahwa kuota BBM bersubsidi untuk SPBU yang dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu saat ini mengalami pengurangan.

“Ini bukan karena kelalaian pemerintah, melainkan disebabkan naiknya harga minyak dunia akibat perang,” katanya saat dialog di RRI Sumenep, Selasa (27/10/2026).

Sehingga, dia mengasumsikan dengan anggaran subsidi yang dipatok di APBN 2026 sebelum mengalami kenaikan, kemampuan yang dibeli pemerintah saat ini menjadi berkurang.

“Kami sebagai pengelola sama dengan SPBU yang lain, hanya menerima sesuai dengan jatah yang diberikan,” katanya.

Ubed membenarkan, saat ini untuk SPBU yang dikelola kuotanya mengalami pengurangan. Sebelumnya, kuota yang diberikan sebanyak 8.000 liter setiap  hari selama lima hari, dan 16.000 liter setiap hari selama dua hari.

“Untuk distribusinya lancar. Di SPBU kami dikurangi sebanyak 16.000 liter,” jelasnya.

Kendati demikian, yang mengalami pengurangan itu untuk BBM bersubsidi, sedangkan yang non-subsidi ketersediannya melimpah.

Salah satu langkah yang ia ambil agar distribusi merata, utamanya Biosolar, dia membatasi pembelian sesuai jenis kendaraan.

Untuk mobil pikap dan minibus dibatasi maksimal Rp200 ribu, untuk mobil truk dibatasi maksimal Rp300 ribu, sedangkan untuk bus besar maksimal anatara Rp500-700 ribu.

“Kalau awal bulan biasanya lebih banyak stok,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ubed memprediksi kondisi ini akan terus terjadi hingga akhir tahun 2026. Hal itu disebabkan, pada tahun 2027 mendatang akan berlaku APBN baru yang dimungkinkan sudah mengalami perubahan asumsi harga minyak  dunia saat ini yang sudah naik.

Sehingga, pagu anggaran yang disediakan memungkinkan akan ditambah menyesuaikan dengan harga minyak dunia dan ketersediaannya akan lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Kami minta maaf kepada masyarakat, mohon bersabar hingga akhir tahun,” tandasnya.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengklaim saat ini tidak ada pengurangan pasokan di semua wilayah Sumenep.

Menurutnya, antrean panjang tersebut disebabkan karena kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan BBM bersubsidi dalam waktu yang bersamaan.

“Di SPBU tersebut saat ini dalam proses pengiriman dan sebagian masih ada stok,” terangnya secara tertulis.

Terrhadap banyak keluhan masyarakat utamanya yang tersebar di berbagai kanal media sosial, Ahad Rahedi meminta untuk bijak mengambil informasi.

Dia meminta masyarakat untuk mengambil informasi dari sumber yang sudah terverifikasi dan jelas bisa dipercaya.

“Dapatkan informasi terkait BBM dan layanan SPBU di kanal resmi Pertamina,” tuturnya.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *