“Kamu cuma kurang bersyukur dan berjuang. ” Ucap dari sahabat dekatnya. Penggalan percakapan sederhana sangat menohok diri yang mana ia menganggap bahwa temanya kurang mengulang syukur dalam hidup dan kurang keras dalam menjalani hari. Begitupun jawaban yang sering memiliki maksud memberi semangat dan bisa jadi merupakan tamparan keras bagi ia yang mengeluh. Mereka yang sedang berjuang dengan luka batin merupakan serangkaian vas bunga yang retak bahkan pecah ia alami. Akan tetapi perasaan itu tak dapat dipungkiri bahwasanya ia hanya membutuhkan bahu untuk bersandar, telinga untuk mendengar bahkan peluk hangat untuk sekedar membuang emosi dengan tangis yang menggebu gebu. akan tapi pemahaman kita soal kesehatan mental yang belum cukup bahkan hanya mengatakan kurang bersyukur, kurang berjuang, kurang kerja keras, sering kita dengarkan bahkan kita rasakan.
Di kalangan masyarakat banyak yang tidak paham akan situasi dan kondisi psikologis anak, bahkan orang tua pun gagal memahami karakter anaknya sendiri. Sangat disayangkan apabila orang tua yang hidupnya telah bertahun-tahun bersama anak masih belum mampu memahami bahkan mengerti kondisi mental bahkan emosi anaknya sendiri. Lebih-lebih anak muda yang mudah terkena mental, soal perasaan, soal tekanan batin, soal tuntutan hidup dll. Anak muda sering mengalami hal tersebut sangat banyak faktor yang mempengaruhi kenapa anak mudah terkena gangguan kesehatan mental (mental health) salah satu contoh soal asmara, di mana anak muda begitu sangat tertarik kepada lawan jenis yang begitu sangat, sehingga ia lupa bahkan keluar batas sehingga merugikan dirinya serta dapat merusak mental. Begitu banyak kita temui di kalangan masyarakat pada umumnya, mengalami stres, depresi, atau kecemasan tapi takut bicara karena takut dicap lemah. Bahkan ketika curhat kepada teman bahkan sahabat pun bukanya mendapatkan support malah terbalik menjadi cemooh yang ada.
Hal ini karena kurangnya pemahaman tentang pentingnya kesehatan mental untuk dipelajari. Dalam lingkungan keagamaan dan pendidikan, topik ini masih sering dianggap tabu. Sangat jarang pembahasan-pembahasan ini dibawa kepada ranah kajian, bahkan obrolan tongkrongan yang melibatkan banyak orang. Kurangnya pemahaman bahkan kurangnya arahan menyebabkan kurangnya ilmu pengetahuan serta kurangnya didikan bersama. Sebagai kaum terpelajar pembahasan soal mental tidak hanya berhenti dalam ruangan-ruangan diskusi semata. Akan tetapi perlu adanya transfer ilmu pengetahuan pula sehingga tidak berhenti di forum diskusi kelas. Seperti kita dapat mulai dari circle yang kecil dari tongkrongan sehari-hari, bahkan pada acara acara sosial yang melibatkan orang banyak. Menurut survei nasional, sekitar 2170 remaja mengalami gejala kecemasan, dan 1790 menunjukkan gejala depresi. Bahkan, gangguan cemas menjadi gangguan mental paling umum, mencapai 26,7″0, disusul oleh masalah pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (10,6? 0) serta depresi (5,3” 0) (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Angka-angka ini menegaskan bahwa beban psikologis yang dialami generasi muda kian meningkat dari waktu ke waktu.
Tak hanya itu, gangguan mental seperti kecemasan dan depresi juga kerap berujung pada penyalahgunaan zat. Individu yang kesulitan menghadapi tekanan emosional atau trauma kerap menjadikan zat terlarang sebagai pelarian sementara, yang justru memperparah kondisi mental dan fisik mereka (UNICEF Indonesia, 2023). Secara sosial, remaja dan dewasa dengan gangguan mental sering menunjukkan gejala seperti isolasi sosial, penurunan produktivitas, dan kesulitan dalam menjalin relasi interpersonal. Ini menunjukkan bahwa dampak kesehatan mental tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat secara lebih luas (WHO & UNICEF, 2021). Pembahasan ini menjadi menarik agar tidak hanya menjadi bahan diskusi semata akan tetapi mendapatkan perhatian khusus semua golongan, baik pemerintah, kelembagaan sosial, bahkan ormas-ormas yang menangani banyak jamaah di bawahnya. Indonesia yang mengalami bonus demografi menjadi catatan penting untuk menyiapkan anak muda atau generasi penerus bangsa untuk siap memimpin negerinya.
Sebagai anak muda harus mampu menjawab tantangan zaman, menjadi pemimpin memberikan solusi-solusi terbaik guna kemanfaatan social bahkan mampu berdampak. Kesehatan mental tidak hanya menjadi isu akan tetapi harus dipahami sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Secara nilai social apabila tidak diperhatikan maka dapat menimbulkan kerugian sosial. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,87 persen pada kuartal I 2025 menunjukkan resiliensi ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih berlangsung (Badan Pusat Statistik IBPSJ, 2025). Secara ekonomi dapat merugikan negara yang mana menghambat indeks kenaikan ekonomi yang dicanangkan naik berapa persen karena kesiapan tersebut tidak dibarengi dengan kesiapan mental serta sumber daya manusia maka akan menghambat. Secara spiritual, apabila mengabaikan isu ini dapat menjauhkan anak muda dengan tuhannya sangat bahaya sekali, sebagai tokoh agama maka harus disadarkan hal tersebut agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Menghubungkan dengan nilai agama dan budaya merupakan korelasi yang sangat penting, di mana nilai kemanusiaan adalah poin utama menjaga hubungan kepada manusia atau (hablumminannas) sangat penting.
Menghadapi kompleksitas permasalahan kesehatan mental yang kian mengemuka, setidaknya ada tiga langkah strategis yang dapat kita dorong bersama. Pertama, penting untuk mengintegrasikan edukasi kesehatan mental ke dalam kurikulum pendidikan formal dan kegiatan keagamaan. Upaya ini harus melampaui ruang-ruang diskusi publik semata, menjangkau ruang kelas dan mimbar keagamaan agar seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali memahami, mengantisipasi, bahkan mampu merumuskan solusi nyata atas isu ini. Kedua, membangun layanan konseling gratis atau bersubsidi menjadi langkah strategis dalam memberikan akses yang lebih luas kepada publik untuk menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental. Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat konsultasi, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi ruang aman sekaligus tongkrongan baru bagi anak muda—tempat mereka berbagi, belajar, dan bertumbuh bersama. Ketiga, melibatkan tokoh agama dan masyarakat merupakan kunci untuk mengikis stigma negatif terhadap isu kesehatan mental.
Peran mereka sangat vital dalam membentuk perspektif publik agar tidak lagi memandang isu ini secara sebelah mata. Melalui pendekatan yang bijak dan edukatif, masyarakat akan lebih terbuka dalam memahami pentingnya kesehatan mental, sehingga lahir pemikiranpemikiran positif dan empatik dalam menyikapi persoalan ini.
Karena yang kita butuhkan bukan hanya telinga, tapi hati vang mau mendengar. Karena diam bukanlah jalan keluar, dan bicara bukan kelemahan. Mari kita buka ruang aman agar semua jiwa bisa pulih, tumbuh, dan hidup utuh.
Catatan: Ihya Ulumuddin, M. Pd.













