BeritaPendidikan

Kuliah Tamu di Universitas Muhammadiyah Malang Bahas Masa Depan Energi Bersih Indonesia

Avatar
29
×

Kuliah Tamu di Universitas Muhammadiyah Malang Bahas Masa Depan Energi Bersih Indonesia

Sebarkan artikel ini
Kuliah Tamu di Universitas Muhammadiyah Malang Bahas Masa Depan Energi Bersih Indonesia
Potret Kuliah Tamu UMM Secara Dalam Jaringan

Mediapribumi.id, Malang  Program Studi Magister Rekayasa Energi Terbarukan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan kegiatan kuliah tamu yang mengangkat isu strategis terkait energi terbarukan di Indonesia. Kegiatan bertajuk “Tantangan Implementasi Energi Terbarukan di Indonesia” ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan praktisi di bidang energi, Selasa (05/05/2026).

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Direktorat Program Pascasarjana (DPPs) UMM, Prof. Dr. Khozin, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya penguatan peran akademisi dalam menjawab tantangan transisi energi nasional, khususnya dalam pengembangan inovasi dan riset berbasis energi bersih.

Sebagai pemantik diskusi, Ketua Program Studi S2 Rekayasa Energi Terbarukan UMM, Dr. Samin, menyampaikan orasi pembuka yang menggugah. Ia menyoroti paradoks energi di Indonesia, di mana potensi energi terbarukan yang sangat besar belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

“Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah, namun pemanfaatannya masih jauh dari maksimal. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi kita semua, khususnya kalangan akademisi,” ungkapnya.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber ahli yang kompeten di bidangnya masing-masing.

PLTS sebagai Pembangkit Masa Depan

Narasumber pertama, Prof. Dr. Machmud Effendy, ST, M.Eng., Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM sekaligus dosen S2 Rekayasa Energi Terbarukan, memaparkan materi bertajuk “PLTS: Pembangkit Listrik Masa Depan.” Ia mengungkapkan bahwa dari total potensi energi terbarukan Indonesia sebesar 3.690 GW, energi surya mendominasi dengan potensi 3.294 GW, namun pemanfaatannya baru mencapai 1,49 GW.

Prof. Machmud menyoroti beberapa tantangan teknis utama dalam pengembangan PLTS, khususnya terkait power sharing pada jaringan DC microgrid terdistribusi. Beliau mempresentasikan hasil riset timnya dalam pengembangan adaptive droop control untuk koordinasi antar panel surya dan baterai, serta inovasi smart inverter yang dilengkapi MPPT cerdas, integrasi IoT, dan dukungan smart grid.

Tak hanya bicara teori, Prof. Machmud juga menunjukkan kontribusi nyata UMM dalam implementasi PLTS — mulai dari laboratorium PLTS UMM berkapasitas 5.800 Wp, rooftop PLTS di Gedung Kuliah Bersama 5 sebesar 60.000 Wp, hingga instalasi PLTS di Masjid Achmad Dahlan dan Masjid Cheng Ho. Beliau juga memperkenalkan proyek hilirisasi terbaru yang didanai Kemdiktisaintek 2026, yaitu robot otonom pembersih panel surya terintegrasi kamera termal berbasis AI untuk deteksi titik hotspot.

Waste to Energy: Bukan Sekadar Insinerasi

Narasumber kedua, Prof. Dr. Ir. Mochammad Chaerul, S.T., M.T., dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, membawakan materi “Energi dari Limbah (Waste to Energy).” Beliau memberikan perspektif komprehensif bahwa teknologi WtE tidak terbatas pada insinerasi semata, melainkan mencakup berbagai pendekatan seperti Refuse Derived Fuel (RDF), gasifikasi, pirolisis, hingga anaerobic digestion.

Prof. Chaerul memaparkan berbagai implementasi WtE yang telah berjalan di Indonesia, mulai dari RDF plant skala kecil di Klungkung Bali berkapasitas 3 ton/hari, hingga proyek berskala besar seperti TPST Rorotan Jakarta berkapasitas 2.500 ton/hari dengan investasi mencapai Rp 1,28 triliun. Beliau juga menyorot keberhasilan PLTSa gasifikasi di TPA Benowo Surabaya yang mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 9 MW.

Beliau menutup paparannya dengan pesan penting: bahwa berbagai produk yang dihasilkan dari WtE — baik listrik, biogas, maupun RDF — harus dianggap sebagai bonus, karena tujuan utama pengelolaan sampah tetaplah perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Ekosistem Mobil Listrik dan “Tambang Berjalan”

Narasumber ketiga, Dr. Ir. Ganesha Tri Chandrasa, MSc., M.Phil (Eng)., Senior Researcher dari E-Mobility Research Group, Pusat Riset Teknologi Kelistrikan – OREM – BRIN, membawakan materi “Tantangan Implementasi Energi Terbarukan di Sektor Transportasi: Perkembangan Mobil Listrik dan Ekosistemnya di Indonesia.”

Dr. Ganesha menjabarkan perkembangan pesat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, yang hingga Februari 2026 telah mencapai 358.000 unit — didominasi oleh motor listrik (236.451 unit) dan mobil listrik (119.000 unit). Infrastruktur pendukung berupa SPKLU juga terus berkembang, dengan 4.911 unit tersebar di 3.156 lokasi.

Salah satu sorotan utama dari paparan Dr. Ganesha adalah pentingnya ekosistem daur ulang baterai kendaraan listrik.

“Baterai yang ada di kendaraan kita bukanlah bahan habis pakai. Ia adalah tambang berjalan yang bisa di-recycle. Untuk itu, kita butuh kolaborasi lintas keilmuan — dari teknik elektro, teknik lingkungan, hingga teknik material — agar ekosistem daur ulang ini bisa berjalan di Indonesia,” tuturnya.

Ia menjelaskan konsep second life application, di mana baterai EV yang kapasitasnya sudah turun hingga 70–80% masih bisa dimanfaatkan sebagai penyimpan energi stasioner untuk gedung, pusat data, maupun sistem cadangan PLTS. Dr. Ganesha juga memperkenalkan produk riset tim BRIN, yakni SONIK — sistem charging station buatan Indonesia yang mencakup hardware, software CSMS berbasis OCPP 2.0, dan mobile apps, dengan tingkat kandungan lokal yang terus meningkat hingga 50%.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan para peserta, secara khusus mahasiswa Program Studi S2 Rekayasa Energi Terbarukan UMM, dapat semakin siap berkontribusi sebagai agen perubahan dalam mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia. Kuliah tamu ini juga menegaskan komitmen UMM dalam membangun jejaring akademik lintas institusi — dari perguruan tinggi, lembaga riset nasional, hingga industri — demi percepatan transisi energi yang berkelanjutan.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep