Mediapribumi.id, Malang — Program Magister Pendidikan Biologi, Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kapasitas akademik dan riset para pendidik biologi di Indonesia melalui kegiatan Kuliah Pakar Visiting Professor 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Digital dalam Pembelajaran Biologi, ECo Mini Research Project, dan Riset Iconic-Monumental untuk Daya Saing Global.”
Acara dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, (08/11/2025), dan diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kegiatan ini menghadirkan enam tokoh pendidikan dan ilmuwan biologi nasional, yakni Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. (Universitas Muhammadiyah Malang) sebagai keynote speaker, serta empat narasumber utama: Prof. Dr. Yuni Pantiwati, M.M., M.Pd. (Universitas Muhammadiyah Malang), Dr. Evita Anggereini, M.Si. (Universitas Jambi), Dr. Gigih Saputra, S.Kom.I., M.Ag. (STIAMAK Barunawati Surabaya), dan Dr. Hj. Tien Yustini, M.Si. (Universitas Indo Global Mandiri). Diskusi dipandu oleh Assoc. Prof. Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., yang juga dosen dan peneliti aktif di Program Magister Pendidikan Biologi UMM.
Digitalisasi Pendidikan Biologi sebagai Poros Transformasi Global
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. menekankan bahwa transformasi digital bukan sekadar tren teknologi, melainkan tuntutan strategis bagi dunia pendidikan biologi untuk menghadapi tantangan global.
“Pembelajaran biologi harus menjadi ruang inovasi dan refleksi. Di era digital, guru dan dosen tidak cukup hanya memahami konsep, tetapi juga harus mengembangkan mini research project yang menumbuhkan daya pikir ilmiah dan semangat riset sejak dini,” ungkap Prof. Atok.
Beliau juga menyoroti pentingnya konsep ECo Mini Research Project, yaitu model pembelajaran berbasis riset ekologis dan kontekstual yang dapat diterapkan oleh mahasiswa maupun siswa sekolah menengah. Melalui pendekatan ini, peserta didik diajak untuk memahami permasalahan lingkungan nyata dan mencari solusi berbasis sains serta teknologi.
“Kita ingin melahirkan generasi biologi yang tidak hanya tahu, tapi juga mampu bertindak. Inilah esensi riset monumental dan ikonik yang dapat memberikan kontribusi nyata pada daya saing bangsa,” tambahnya.
Kolaborasi Lintas Institusi dan Penguatan Kompetensi Digital
Sementara itu, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, M.M., M.Pd. menegaskan pentingnya sinergi lintas institusi dan lintas bidang dalam penguatan kompetensi digital di bidang pendidikan biologi. Menurutnya, perguruan tinggi tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus membuka ruang kolaborasi, baik dengan institusi akademik, lembaga riset, maupun sektor industri.
“Kita sedang memasuki era integrasi ilmu, di mana biologi, teknologi, dan pendidikan berpadu dalam satu ekosistem pembelajaran. Literasi digital bukan lagi tambahan, tetapi bagian esensial dari kompetensi pendidik masa depan,” ujar Prof. Yuni.
Dalam sesi berikutnya, Dr. Evita Anggereini, M.Si. menyoroti peran riset kolaboratif sebagai pendorong inovasi. Ia menekankan pentingnya ECo Mini Research Project sebagai wahana untuk melatih mahasiswa berpikir ilmiah, berkolaborasi lintas disiplin, dan menghasilkan produk pengetahuan yang aplikatif.
“Melalui proyek mini yang berakar pada isu lokal, kita bisa membangun jembatan antara riset akademik dan kebutuhan masyarakat. Di sinilah pendidikan biologi bertransformasi menjadi kekuatan perubahan sosial,” tutur Dr. Evita.
Meneguhkan Biologi dalam Era Digital dan Spirit Humanis
Narasumber lain, Dr. Gigih Saputra, S.Kom.I., M.Ag., menggarisbawahi bahwa digitalisasi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai humanis dalam pembelajaran.
“Transformasi digital harus tetap berpihak pada manusia. Kita harus memastikan teknologi hadir untuk memperkuat empati, etika, dan tanggung jawab ekologis. Saat ini kita perlu juga membuat riset monumental, kuat secara dasar dan tentu ke depan akan implementatif. Riset juga tidak boleh hanya sekedar pragmatisme,” jelasnya.
Senada dengan itu, Dr. Hj. Tien Yustini, M.Si. menjelaskan pentingnya integrasi antara sains, nilai, dan spiritualitas dalam membangun eco-literacy. Ia menambahkan bahwa pendidikan biologi yang berkelanjutan harus menggabungkan aspek pengetahuan ilmiah dengan kesadaran moral dan sosial.
“Sains berkelanjutan bukan hanya tentang teknologi hijau, tetapi juga tentang membangun kesadaran ekologis yang menyeluruh — bahwa manusia adalah bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga,” ujarnya.
Forum Akademik untuk Penguatan Riset dan Kapasitas Global
Sebagai moderator, Assoc. Prof. Husamah, S.Pd., M.Pd. menilai bahwa kegiatan kuliah pakar ini merupakan langkah nyata UMM dalam mengimplementasikan nilai-nilai education for sustainable development (ESD) dan memperkuat riset yang berdampak.
“Forum seperti ini adalah ruang kolaboratif untuk membangun riset yang monumental — riset yang tidak hanya berkontribusi pada publikasi, tetapi juga berdampak pada kebijakan dan praktik pembelajaran di lapangan,” ungkap Husamah.
Ia menambahkan bahwa Program Magister Pendidikan Biologi UMM terus berkomitmen untuk melahirkan riset-riset unggulan berbasis transformasi digital, pendidikan ekologi, dan keberlanjutan. Melalui kolaborasi antaruniversitas seperti Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Jambi, STIAMAK Barunawati Surabaya, dan Universitas Indo Global Mandiri, kegiatan ini menjadi simbol sinergi nasional dalam penguatan literasi sains.
Antusiasme Peserta dan Harapan Ke Depan
Kegiatan yang berlangsung selama lebih dari dua jam ini berjalan interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar strategi pembelajaran digital, implementasi mini research project di sekolah, hingga peluang publikasi riset kolaboratif antarperguruan tinggi.
Beberapa peserta menilai bahwa kuliah pakar ini membuka wawasan baru tentang bagaimana riset kecil di bidang biologi dapat dikembangkan menjadi proyek monumental yang memiliki dampak luas terhadap masyarakat dan dunia pendidikan.
Sebagai penutup, para narasumber sepakat bahwa tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan krisis biodiversitas hanya dapat diatasi melalui pendekatan pendidikan biologi yang inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Transformasi digital, bila diarahkan dengan visi ekologis dan humanistik, diyakini dapat mempercepat lahirnya generasi ilmuwan muda Indonesia yang kompeten, berintegritas, dan siap bersaing di tingkat internasional.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus memperkuat kapasitas riset, memperluas jejaring kolaborasi, dan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat,” tutup Assoc. Prof. Husamah.













