Mediapribumi.id, Sumenep — Upaya penanganan kekeringan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep bersama sejumlah instansi mulai menunjukkan hasil. Sejumlah desa yang sebelumnya berstatus kering kritis kini berhasil turun kategori menjadi kering langka setelah mendapat sumber air baru dari program pengeboran sumur.
Sekretaris BPBD Sumenep, Abd. Kadir mengatakan, penurunan status kerawanan itu merupakan buah kolaborasi lintas instansi, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) serta Komando Distrik Militer (Kodim), yang secara bertahap memperluas titik pengeboran sumur di desa-desa langganan krisis air.
“Ada beberapa daerah yang awalnya kering kritis, sekarang sudah menjadi kering langka dengan bantuan pengeboran yang dilakukan pemerintah, termasuk bersama Kodim. Upaya ini terus kami lakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap suplai air bersih dari pemerintah,” ujar Abd. Kadir, Kamis (02/07/2026).
Meski sejumlah wilayah menunjukkan perbaikan, BPBD mencatat masih ada 76 desa di 19 kecamatan se-Kabupaten Sumenep yang masuk kategori rawan kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
Data itu mengacu pada Keputusan Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026 tentang Penetapan Lokasi Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026, yang membagi wilayah rawan ke dalam empat kategori: kering kritis, kering langka, kering langka terbatas, dan kering langka kritis.
Wilayah terdampak tersebar tak hanya di daratan Sumenep seperti Manding, Pasongsongan, Rubaru, Pragaan, Ganding, Guluk-Guluk, Ambunten, Batang-Batang, Batuputih, dan Saronggi, tetapi juga menjangkau kawasan kepulauan, di antaranya Arjasa, Kangayan, Gayam, Raas, Giligenting, Talango, Masalembu, Nonggunong, hingga Sapeken.
Abd. Kadir menjelaskan, desa-desa berstatus kering kritis akan diutamakan dalam penyaluran bantuan air bersih. Berkaca dari pola tahun-tahun sebelumnya, kesulitan air di wilayah tersebut biasanya mulai terasa sekitar satu bulan setelah musim kemarau berlangsung.
“Sudah ada pemetaan. Biasanya setelah satu bulan musim kemarau, daerah-daerah yang kering kritis mulai membutuhkan suplai air bersih. Itu memang menjadi prioritas yang perlu kita suplai di awal,” katanya.













