Opini

Negara +62: Antara Wkwkwk dan Revolusi Mahasiswa Bermental Salam

Avatar
5149
×

Negara +62: Antara Wkwkwk dan Revolusi Mahasiswa Bermental Salam

Sebarkan artikel ini
Rifky Gimnastiar, Ketua PMII Rayon Averroes Komisariat RBA IAI At-Taqwa Bondowoso.

Dalam sejarah panjang peradaban dunia, dari masa Yunani kuno dengan Socrates-nya, sampai zaman TikTok dengan algoritma-nya, hanya ada satu spesies yang selalu muncul saat negara berada di ambang kegagalan sistemik: mahasiswa aktivis.

Namun di negeri +62 yang penuh dengan “wkwkwk” dan meme receh, menjadi mahasiswa aktivis bukan perkara sederhana. Ia bukan hanya tentang turun ke jalan, menulis puisi di tengah gas air mata, atau berbicara lantang lewat toa kampus dengan suara serak-serak harapan. Tidak. Di era sekarang, menjadi aktivis artinya harus bisa menyikapi absurdnya negeri ini dengan mental baja dan jempol aktif di Twitter, maksudnya X.

Salam! Tapi Serius

Mahasiswa aktivis masa kini, terutama yang tergabung dalam organisasi dengan salam-salam khas, adalah makhluk unik. Mereka bisa menyampaikan orasi penuh semangat tentang keadilan sosial di siang hari, lalu malamnya jadi admin akun meme dengan caption “Ketika DPR tidur, mahasiswa ngonten.”

Jangan salah. Salam mereka bukan sekadar simbolis. Itu mantra. Seperti “Kage Bunshin no Jutsu” di dunia pergerakan. Dengan satu salam, mereka bisa menyatukan semangat demonstrasi dan kegelisahan eksistensial soal skripsi yang belum selesai sejak tiga semester lalu.

Negara +62: Negara dengan Tawa Nasional

Mengapa mahasiswa perlu ekstra kuat menyikapi negara ini? Karena negeri +62 telah berevolusi dari negara hukum menjadi negara humor. Bayangkan, kebijakan publik bisa viral bukan karena substansi, tapi karena memes-nya. Undang-undang penting dibahas di ruang yang sama dengan live streaming game dan filter muka kucing.

Contoh: “Pasal ini mengancam demokrasi,” kata mahasiswa. “Tapi kamu lucu juga ya marah-marah sambil bawa banner BTS,” kata netizen. Wkwkwk. Inilah negara +62. Yang serius dianggap bercanda, yang bercanda bisa jadi trending topic dan akhirnya jadi Perpres.

Mahasiswa dan Daya Tahan Mental Digital

Beraktivisme di negara +62 butuh lebih dari sekadar idealisme. Butuh mental tahan-banting membaca komentar netizen, kebal dari quote-quote “Gitu aja baper,” dan kuat saat video demonstrasi mereka dipotong jadi konten reaction oleh influencer yang punya lebih banyak follower daripada Dosen Pembimbing Utama.

Mereka harus memahami algoritma media sosial sebaik memahami teori Marx. Karena kadang, perubahan bukan terjadi dari jalanan, tapi dari FYP TikTok yang kebetulan viral karena ada mahasiswa nangis sambil baca manifesto.

Apatis? Tidak. Strategis

Dari luar, mahasiswa hari ini sering dicap apatis karena tidak “sebengis” angkatan 98. Tapi jangan salah. Mereka tidak apatis. Mereka hanya lebih tahu bahwa revolusi hari ini kadang dimulai dari kolom komentar. Mereka tahu bahwa satu tweet bisa lebih efektif daripada lima makalah tak dibaca.

Tapi tentu, di balik semua strategi itu, ada kesadaran bahwa dunia nyata tetap butuh kehadiran nyata. Demonstrasi tetap harus ada. Diskusi tetap harus jalan. Tapi disiarkan live di IG biar masuk reels juga, ya.

Wkwkwk Sebagai Bentuk Perlawanan

Mahasiswa tahu: tertawa itu politis. Di negeri yang menolak dikritik, tawa bisa lebih tajam dari demonstrasi. Ketika semua terlihat gelap dan absurd, tertawa adalah bentuk lain dari menyindir sistem yang gagal. Negara +62 ini, kalau ditanggapi serius bisa bikin migrain. Maka mahasiswa memilih: tetap waras dengan wkwkwk yang penuh makna.

Akhir Kata: Salam, Serius, dan Sedikit Ketawa

Jadi, bagaimana mahasiswa aktivis menyikapi negara +62 yang penuh dengan wkwkwk? Dengan serius yang tak kehilangan tawa. Dengan perlawanan yang tak kehilangan humor. Karena di tengah negara yang absurd, hanya mereka yang bisa berpikir tajam sambil tetap tertawa, yang bisa bertahan untuk mengubah keadaan.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat!
Hidup Meme yang Mengedukasi!
Dan jangan lupa, Salam… Wkwkwk!

Catatan: Rifky Gimnastiar, Ketua PMII Rayon Averroes Komisariat RBA IAI At-Taqwa Bondowoso.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep