Berita

Harga Bibit Tembakau Melonjak, Petani Sumenep Menjerit di Tengah Cuaca Ekstrem

Avatar
853
×

Harga Bibit Tembakau Melonjak, Petani Sumenep Menjerit di Tengah Cuaca Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Harga Bibit Tembakau Melonjak, Petani Sumenep Menjerit di Tengah Cuaca Ekstrem
Potret petani tembakau sumenep

Mediapribumi.id, Sumenep — Musim tanam tembakau tahun ini menjadi mimpi buruk bagi petani di Kabupaten Sumenep. Harga bibit tembakau melonjak tajam hingga tembus Rp 100 ribu per bungkus, bahkan di beberapa wilayah mencapai Rp 125 ribu.

Kondisi ini membuat banyak petani kelimpungan, terutama yang harus melakukan penanaman ulang akibat bibit sebelumnya gagal tumbuh karena cuaca ekstrem.

Pantauan di sejumlah desa sentra tembakau menunjukkan kenaikan signifikan dari harga semula yang berkisar Rp 25 ribu per 1.000 batang. Kini, harga bibit meroket lebih dari empat kali lipat. Kenaikan ini sangat membebani petani, apalagi di tengah musim tanam yang semakin sulit diprediksi.

“Saya sudah dua kali tanam, tapi bibit banyak yang mati. Sekarang mau beli bibit lagi, harganya malah makin mahal,” keluh Tola’i, petani asal Desa Pakondang, Kecamatan Rubaru, Senin (21/07/2025).

Menurutnya, tahun ini adalah musim tanam terberat dalam beberapa tahun terakhir. Selain harga bibit yang mencekik, hujan tak menentu menyebabkan kerusakan pada lahan dan kesulitan dalam merawat tanaman.

Kondisi makin diperparah oleh terbatasnya pasokan bibit. Sejumlah pengecer menyebut kenaikan harga disebabkan oleh tingginya permintaan, sementara pasokan dari luar daerah menurun drastis.

Ia berharap ada langkah nyata dari pemerintah, tak sekadar bantuan sesaat. Mereka mendesak adanya kebijakan stabilisasi harga bibit, perluasan cakupan bantuan, dan pendampingan teknis agar tak terus dirugikan oleh siklus musim dan pasar.

“Kalau terus seperti ini, kami makin berat bertahan jadi petani tembakau,” tegas Tola’i, mewakili keluh kesah banyak petani lainnya di Sumenep.

Menanggapi keresahan petani, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyalurkan bantuan bibit melalui program Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Tahun ini ada 15 titik lokasi penyaluran bibit tembakau gratis untuk petani,” ujarnya.

Namun, ia mengakui jumlah lokasi bantuan tahun ini berkurang dibanding tahun lalu yang mencapai 30 titik, karena keterbatasan anggaran. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya agar petani dapat mengakses bibit berkualitas dengan harga yang terjangkau.

“Kami juga terus pantau kondisi lapangan dan imbau petani untuk lebih memperhatikan faktor cuaca dalam proses penanaman,” tambahnya.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep