BeritaPolitik

Dari Aktivis PMII hingga Nahkodai PKB Sumenep, Ini Perjalanan Politik KH M. Kamalil Ersyad

Avatar
×

Dari Aktivis PMII hingga Nahkodai PKB Sumenep, Ini Perjalanan Politik KH M. Kamalil Ersyad

Sebarkan artikel ini
Dari Aktivis PMII hingga Nahkodai PKB Sumenep, Ini Perjalanan Politik KH M. Kamalil Ersyad
Ketua DPC PKB Sumenep, KH M. Kamalil Ersyad Saat Berada di Ruang Kerjanya.

Mediapribumi.id, Sumenep — Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumenep, KH M. Kamalil Ersyad, menegaskan bahwa partai politik adalah alat perjuangan, bukan tujuan akhir. Ia juga memasang tiga target besar selama lima tahun memimpin PKB di Kota Keris.

Pria yang akrab disapa Ersyad itu ditemui di Graha Gus Dur, kantor DPC PKB Sumenep di Jalan Imam Bonjol Nomor 35, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota, Kamis (22/10/2026).

Ersyad, asal Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Sumenep mengaku mulai berpolitik pada 1990, tak lama setelah menyelesaikan kuliah. Saat itu ia bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan sempat maju sebagai calon anggota DPRD Sumenep.

“Namun, saat itu saya tidak terpilih, saya sudah mengira demikian karena Zaman Orde Baru semuanya ditentukan oleh pusat,” katanya.

Ketertarikannya pada politik, kata Ersyad, tumbuh sejak menjadi aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang akrab dengan aksi unjuk rasa dan kritik terhadap pemerintah. Ia berkuliah di IAIN Sunan Ampel Pamekasan (Sekarang UIN Madura) sambil menimba ilmu di Pondok Pesantren As-Salafiyah Sumur Putih pada 1986–1990.

Setelah Orde Baru runtuh, Gus Dur bersama para kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) mendirikan PKB pada 23 Juli 1998. Ersyad pun memilih pindah ke partai tersebut.

Ia menyebut dirinya kader NU sejak IPNU, PMII, hingga Ansor, sehingga kesetiaannya tertuju pada tokoh NU dan ideologi PKB yang berlandaskan Pancasila dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Bersama PKB, Ersyad menjadi anggota DPRD Sumenep dua periode, 1999–2004 dan 2004–2009. Ia gagal meraih kursi pada Pemilu Legislatif 2009 dan 2014.

“Setelah bertarung sendiri dua kali, saya kalah terus. Menjadi ketua DPC pun saya ditunjuk, bukan dipilih,” ujarnya sambil tersenyum.

Di pucuk pimpinan DPC, langkah pertamanya adalah membenahi manajemen organisasi dan memperkuat posisi politik partai. Menurutnya, tata kelola yang baik akan melahirkan kinerja yang baik dan menguntungkan organisasi. Ia juga berencana meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kader agar PKB dipercaya rakyat dan kekuasaan yang diraih dikembalikan untuk kepentingan masyarakat.

Ada tiga cita-cita yang ia bawa selama lima tahun masa kepemimpinan: membesarkan PKB dengan manajemen yang baik, memenangkan PKB di eksekutif maupun legislatif, serta mengabdikan diri di partai untuk melayani umat.

Bagi Ersyad, partai hanyalah wahana memperjuangkan kemaslahatan umat dan ideologi Aswaja. Ia mengutip ungkapan yang ia kaitkan dengan filsuf Plato bahwa segenggam kekuasaan lebih bermakna daripada sekeranjang kebenaran, yakni kekuasaan dikejar agar organisasi dapat melayani masyarakat.

Ia meyakini, ketika PKB memegang kendali di daerah, perjuangan untuk kepentingan warga menjadi lebih leluasa dan efektif, terutama di bidang pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan.

“Kita memang penting duduk di pos-pos tertentu untuk bisa memperjuangkan nasib masyarakat,” pungkasnya.

Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!

Jadikan Sumber Pilihan
Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *