Mediapribumi.id, Malang — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi rujukan nasional bagi perguruan tinggi yang ingin memperkuat budaya mutu dan tata kelola akademik.
Selama satu minggu penuh, Biro Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM menerima 12 peserta magang dari dua perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni empat orang dari STIPAR Soromandi Bima dan delapan orang dari STMIK Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan (SZ NW) Anjani, Lombok Timur.
Kehadiran kedua perguruan tinggi ini mempertegas posisi UMM sebagai kampus yang konsisten berbagi praktik baik dalam implementasi sistem penjaminan mutu internal (SPMI) dan strategi peningkatan mutu berkelanjutan. Mereka melakukan magang selama satu minggu, 17-22 November 2025.
Dalam sambutan pembukaan, Kepala BPMI UMM, Prof. Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si., menegaskan bahwa UMM terbuka bagi perguruan tinggi di Indonesia yang ingin belajar mengenai tata kelola mutu.
Menurutnya, perjalanan UMM dalam membangun budaya mutu adalah proses panjang yang melibatkan komitmen institusi, konsistensi implementasi, dan inovasi berkelanjutan.
“UMM punya pengalaman panjang dalam memperkuat mutu di seluruh lini. Kami merasa penting untuk membagikan pengalaman ini agar semakin banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki sistem mutu yang kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, bahwa peningkatan mutu tidak hanya bermanfaat bagi institusi masing-masing, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional secara keseluruhan.
Selama satu minggu magang, para peserta mengikuti serangkaian sesi yang padat dan intensif. Dari hari pertama, mereka diperkenalkan pada kerangka kerja SPMI UMM yang meliputi kebijakan, manual, standar, serta dokumen pelaksanaannya.
Dalam kegiatan ini, peserta diharapkan memahami bagaimana siklus PPEPP—penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan—menjadi roh bagi standar mutu di UMM. Mereka juga mendapatkan penjelasan tentang bagaimana BPMI UMM mengembangkan instrumen mutu, mengoordinasikan monitoring, serta memastikan evaluasi dilakukan secara periodik untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.
Pendekatan UMM yang menekankan sinkronisasi data, integrasi antarunit, dan konsistensi pelaporan menjadi pembelajaran penting bagi peserta yang sebagian besar sedang merintis atau mengembangkan sistem mutu di kampus masing-masing.
Hari-hari berikutnya diisi dengan pemahaman mendalam mengenai Audit Mutu Internal (AMI). Peserta diajak memahami alur audit, mulai dari persiapan dokumen, teknik pemeriksaan, analisis kesesuaian, hingga proses pelaporan temuan. Mereka juga melihat secara langsung bagaimana tim auditor internal UMM menjalankan tugasnya berdasarkan standar dan prosedur yang telah ditetapkan.
Dalam beberapa sesi praktik, peserta mencoba menyusun instrumen audit sederhana, melakukan simulasi wawancara, serta menganalisis contoh temuan audit. Pengalaman ini menjadi nilai tambah karena mereka dapat merasakan secara langsung dinamika audit dan pentingnya ketelitian, objektivitas, dan akurasi dalam proses tersebut.
Selain itu, peserta magang juga mendapatkan pendalaman mengenai dokumen mutu yang menjadi fondasi utama SPMI. Mereka belajar bagaimana UMM merumuskan standar, menyusun instruksi kerja, menetapkan indikator, dan menyiapkan formulir pendukung.
Proses penyusunan dokumen ini tidak hanya membahas format dan struktur, tetapi juga filosofi di balik standar mutu serta keterkaitannya dengan indikator akreditasi. Dalam beberapa sesi praktik, peserta diminta menyusun draft dokumen mutu berdasarkan analisis kebutuhan kampus mereka masing-masing.
Termasuk diskusi berlangsung intens, dengan peserta bertanya tentang cara menyederhanakan dokumen, memastikan keterlaksanaan, serta mengintegrasikannya ke dalam sistem pelaporan dan monitoring kampus.
Materi akreditasi juga menjadi bagian penting dalam magang ini. BPMI UMM memberikan gambaran bagaimana kampus mengelola persiapan akreditasi melalui pemetaan standar, pengumpulan data, analisis capaian, hingga penyusunan laporan kinerja (LKPT/LKPS) dan borang program studi.
Peserta diperlihatkan bagaimana UMM memastikan konsistensi antara data, narasi, dan bukti pendukung sehingga proses akreditasi berjalan lebih efektif. Tidak sedikit peserta yang mengaku baru memahami pentingnya manajemen data yang baik serta koordinasi lintas unit untuk mendukung keberhasilan akreditasi.
Tak hanya menerima materi di ruang kelas, peserta juga diajak untuk melakukan benchmarking ke beberapa unit di UMM. Dalam kunjungan tersebut, mereka melihat bagaimana standar mutu diterapkan pada tingkat fakultas, program studi, dan unit penunjang. Peserta mengamati bagaimana laporan mutu dipresentasikan, bagaimana rencana tindak lanjut dibuat, dan bagaimana data kinerja digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Pengalaman lapangan ini menjadi momen penting bagi peserta untuk mengaitkan teori yang dipelajari dengan praktik nyata di lapangan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menyampaikan kesan positif terhadap pendekatan UMM yang komprehensif, sistematis, dan aplikatif. Seorang peserta dari STIPAR Soromandi Bima yang sekaligus Wakil Ketua 1, Furkan, S.Pd., M.Pd, mengatakan bahwa magang ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana sistem mutu bekerja secara menyeluruh.
“Kami melihat sendiri bagaimana UMM menjaga konsistensi mutu, bukan hanya pada dokumen, tetapi juga dalam penerapan di unit-unit. Banyak hal yang bisa kami adaptasi,” ungkapnya.
Peserta lain dari STMIK SZ NW Anjani, Muhammad Azmi, M.Kom, menambahkan bahwa penyampaian materi yang detail dan adanya simulasi langsung membuat mereka lebih mudah memahami dan siap menerapkan SPMI di kampus masing-masing.
“Pendampingan dari BPMI sangat rinci dan nyata. Ini jauh lebih terasa manfaatnya dibandingkan hanya mengikuti workshop singkat,” ujarnya.
Program magang nantinya ditutup dengan sesi refleksi dan penyampaian rencana tindak lanjut. Masing-masing perguruan tinggi menyampaikan strategi awal yang akan mereka lakukan setelah kembali ke NTB, seperti memperbarui dokumen SPMI, membentuk tim mutu internal, menyusun instrumen AMI pertama, dan menata ulang standar sesuai kebutuhan kampus.
Prof. Jabal berharap para peserta dapat mengimplementasikan hasil magang secara konsisten dan tetap menjalin komunikasi dengan BPMI UMM untuk pendampingan lebih lanjut.
“Kami siap mendampingi. Budaya mutu tidak dibangun hanya dalam sehari, tetapi membutuhkan komitmen jangka panjang,” tegasnya.













