Mediapribumi.id, Sumenep — Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Juluk I tampil dengan nuansa berbeda. Bukan sekadar mengenakan busana adat sesuai Imbauan Kepala Dinas Pendidikan, sekolah ini justru menghidupkan kembali tradisi leluhur Desa Juluk yang telah lama tak dijalankan, Senin (13/07/2026).
Sebelumnya, Kepala Disdik Sumenep, Mohammad Iksan mengeluarkan Surat Imbauan untuk Mengenakan Busana Adat Madura dan Penggunaan Bahasa Madura pada Kegiatan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027.
Kirab dan Tradisi Ser yang Kembali Hidup
Kepala SDN Juluk I, Andilala, mengatakan bahwa kegiatan diawali dengan kirab yang diikuti langsung oleh para orang tua siswa. Tradisi ini merujuk pada kebiasaan lama masyarakat Juluk saat mengantarkan anak mengaji dengan membawa seserahan sebagai selamatan atau ser.
“Hari pertama bukan hanya memakai baju adat, kami menghidupkan kembali tradisi leluhur di Desa Juluk,” kata Andilala.
Ia menjelaskan, ide tersebut muncul dari hasil diskusi bersama wali murid saat pertemuan pra-MPLS. Para orang tua sendiri yang menghendaki tradisi selamatan itu dihidupkan kembali.
“Kemarin waktu pertemuan pra-MPLS kami berdiskusi dengan orang tua, dan mereka menghendaki adanya salametan lagi,” katanya.
Dalam prosesi tersebut, orang tua turut membawa ser dan diarak sejauh 150 meter diiringi Musik Saronen serta penari tradisional.
Jaran Serek, Kenalkan Warisan Tak Benda kepada Siswa
Prosesi kirab kemudian dilanjutkan dengan atraksi jaran serek, warisan budaya tak benda khas Madura, yang ditunggangi oleh kepala sekolah bersama salah satu siswa baru. Kehadiran jaran serek dalam rangkaian MPLS ini sekaligus menjadi sarana pengenalan budaya lokal kepada generasi muda.

“Sehingga anak-anak mengenal jaran serek, nantinya memiliki kesadaran untuk menjaga kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur,” kata Andilala.
Pasrah Murid, Simbol Kepercayaan Orang Tua kepada Guru
Sesampainya di sekolah, siswa baris rapi sementara para orang tua duduk bersama di panggung yang telah disiapkan. Pihak sekolah kemudian berdialog dengan wali murid yang menyampaikan maksud dari selamatan tersebut, yakni sebagai bentuk tali asih orang tua kepada para guru sekaligus penyerahan anak untuk dididik.
Menjawab hal itu, Andilala yang mewakili pihak guru menyampaikan sambutan dalam bahasa Madura sebagai bentuk penerimaan pasrahan dari orang tua.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membina siswa yang banyaknya 25, dan kami berjanji akan terus berhati-hati,” ujarnya.

Prosesi pasrahan ini sekaligus menjadi pembuka rangkaian MPLS, yang kemudian dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai simbol dimulainya kegiatan.
Enam Program Adab
MPLS di SDN Juluk I mengangkat tema Pekan Adab, sejalan dengan konsep besar MPLS Ramah yang dicanangkan. Enam nilai adab yang ditanamkan meliputi adab kepada Tuhan, diri sendiri, orang tua, guru, teman, alam, dan budaya, yang akan dilaksanakan secara konsisten setiap hari selama masa MPLS berlangsung.
Selain itu, sekolah turut menerapkan konsep Pekan ADAB yang merupakan akronim dari Akrab, Damai, Aman, dan Berkarakter, sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan belajar yang nyaman bagi siswa baru.
“Sehingga anak yang belajar di Juluk I menjadi tempat belajar yang tenang dan bahagia,” tutur Andilala.
Ia menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan cerminan dari visi sekolah, yakni beradab sebelum berilmu.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













