Mediapribumi.id, Sumenep — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berinovasi dalam memperkuat kompetensi guru melalui kegiatan workshop bertajuk “Optimalisasi Kemampuan Literasi & Numerasi Siswa Melalui Perencanaan Pembelajaran Berbantuan Artificial Intelligence (AI)”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang FKIP – 6.14 UMM ini diikuti puluhan guru dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jakarta. Sabtu (08/11/2025).
Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen FKIP untuk berkontribusi aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional.
“Workshop ini adalah bukti konkret FKIP dalam membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memperkuat kompetensi guru agar siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21,” ujarnya.
Mahfud menambahkan, kegiatan yang dirancang setara 32 jam pelatihan (JP) ini bersifat aplikatif dan berorientasi pada hasil, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan keterampilan literasi dan numerasi siswa di sekolah.
AI sebagai Katalisator Pembelajaran Mendalam
Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama yang merupakan Microcredential Awardee on Literacy & Numeracy dari Deakin University, Australia, yakni Fuad Jaya Miharja, M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi UMM) dan Kharisma Naidi Warnanda S., M.Pd. (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMM).
Dalam paparannya, Fuad menjelaskan bahwa AI berperan sebagai katalisator pembelajaran mendalam.
“AI bukan pengganti guru, melainkan partner super yang membantu guru menghasilkan pembelajaran kontekstual dan personal sesuai kebutuhan siswa,” ungkapnya.
Menurut Fuad, AI dapat membantu guru mengotomasi pekerjaan administratif seperti pembuatan soal dan laporan, merancang asesmen yang proporsional antara HOTS dan LOTS, serta memberikan umpan balik formatif yang cepat dan autentik.
Merancang Asesmen Pintar dan Adaptif
Sementara itu, Kharisma menyoroti pentingnya penerapan Smart Assessment atau asesmen pintar berbasis AI dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Asesmen pintar tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga memperbaikinya. Dengan AI, guru bisa memperoleh umpan balik instan dan data pembelajaran yang bisa langsung digunakan untuk menyesuaikan strategi mengajar,” jelasnya.
Ia menambahkan, teknologi AI memungkinkan perancangan asesmen adaptif sesuai kemampuan dan kecepatan belajar tiap siswa, sekaligus membantu guru melakukan learning analytics untuk peningkatan berkelanjutan.
Sesi Hands-on: Dari Teori ke Praktik
Pada sesi praktik, peserta diajak menyusun Lesson Design dan Asesmen Literasi & Numerasi berbasis AI. Guru-guru yang hadir aktif mengeksplorasi berbagai aplikasi AI untuk pendidikan, seperti perencanaan pembelajaran adaptif dan pembuatan rubrik penilaian otomatis.
Salah satu peserta, Nur Aini Yan Meinati, mengaku mendapat wawasan baru tentang integrasi literasi dan numerasi dalam pembelajaran Bahasa.
“Workshop ini membuka cara pandang baru tentang bagaimana AI bisa menjadi mitra cerdas guru tanpa menghilangkan esensi pedagogik,” tuturnya.
Senada, Priska Sinta Andina, guru Bahasa dari SMA Negeri 9 Malang, menilai penggunaan AI mampu meningkatkan efisiensi guru.
“AI bisa menghemat waktu dalam mendesain pembelajaran, tapi tetap perlu analisis mendalam dari guru agar hasilnya tetap berkualitas,” katanya.
Para narasumber juga menekankan pentingnya keterampilan dalam membuat prompt yang kuat dan presisi (strong & precise prompt) agar hasil keluaran AI relevan dan bermakna.













