Mediapribumi.id, Sumenep — Dalam rangka percepatan penanganan campak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep lakukan program imunisasi massal Outbreak Response Immunization (ORI) di semua daerah baik kepualauan maupun daratan.
Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim menjelaskan, pihaknya mengunjungi langsung dua tempat imunisasi tersebut yakni KB Al-Qadar dan TK Rumah Pintar. Senin (25/08/2025).
Ia juga menerangkan sejak Bulan Februari hingga Agustus 2025, di Kabupaten Sumenep tercatat ada 2.035 anak dan 17 meninggal.
“Sebagian yang meninggal itu, dikabarkan mayoritas tidak dilakukan imunisasi,” jelas Wabup Imam Hasyim kepada mediapribumi.id.
Ia memberikan apresiasi kepada Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang secara maksimal melaksanakan program imunisasi secara serentak dalam rangka percepatan penanganan campak.
Selain itu, imunisasi ini juga dilaksanakan di beberapa lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) maupun Kementerian Agama (Kemenag).
“Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan Kemenag untuk ikut suksesi program ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia juga meminta kepada orang tua, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk ikut menyukseskan imunisasi ini.
“Kami atas nama Pemkab Sumenep, kami mohon dukungan untuk menyukseskan program ini agar Sumenep keluar dari KLB Campak,” harapnya.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, Ellya Fardasah, mengungkapkan bahwa Outbreak Response Immunization (ORI) dilaksanakan serentak di 26 puskesmas. Pada tahap awal, imunisasi difokuskan untuk anak usia 0 hingga 5 tahun, kemudian dilanjutkan kepada anak-anak sekolah.
“Pelaksanaannya dilakukan di 26 puskesmas, baik di wilayah daratan maupun kepulauan, semuanya serentak,” jelas Ellya.
Ia juga menuturkan bahwa pemantauan capaian vaksinasi dilakukan melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang sudah terintegrasi secara nasional. Melalui sistem ini, data suspek campak maupun perkembangan imunisasi dapat dipantau secara real time.
“Kami menggunakan aplikasi SKDR untuk memantau laporan suspek campak dan progres imunisasi. Semua sudah terhubung dengan sistem nasional,” pungkasnya.













