Mediapribumi.id, Malang – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi program Penguatan Literasi Lingkungan Berbasis Urban Farming untuk mendukung implementasi Sekolah Adiwiyata di SMP Muhammadiyah 1 Malang.
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan praktik literasi lingkungan melalui pemanfaatan ruang terbatas menjadi kebun sekolah.
SMP Muhammadiyah 1 Malang yang berlokasi di Jl. Brigjend Slamet Riyadi No. 134, Oro-oro Dowo, Klojen, dikenal sebagai sekolah Islam yang peduli pembinaan karakter dan lingkungan. Namun, kajian awal tim PKM menunjukkan bahwa program Adiwiyata di sekolah tersebut masih bersifat administratif dan belum sepenuhnya menyentuh pembelajaran aktif serta partisipatif.
“Kami menemukan bahwa kegiatan lingkungan masih banyak berupa kerja bakti rutin dan penanaman tanaman hias, belum terintegrasi kuat dengan kurikulum dan belum menjadi laboratorium hidup bagi siswa,” jelas Ketua Tim PKM, Dr. Husamah.
Ia menambahkan, sekolah memiliki potensi lahan sekitar 180 meter persegi yang dapat dioptimalkan untuk praktik urban farming.
Program diawali dengan kegiatan sosialisasi yang melibatkan kepala sekolah, guru, komite, siswa, dan pengurus Muhammadiyah setempat. Pada pertemuan tersebut dijelaskan peta jalan program, mulai pelatihan, pembangunan instalasi kebun, penyusunan modul, hingga strategi keberlanjutan. Sosialisasi ditutup dengan penandatanganan berita acara komitmen bersama antara UMM dan pihak sekolah.
Tahapan selanjutnya adalah pelatihan guru dan siswa. Guru mendapatkan materi literasi lingkungan, integrasi urban farming dalam Kurikulum Merdeka, serta penyusunan RPP dan LKPD berbasis lingkungan. Siswa dikenalkan pada ekosistem, teknik vertikultur dan hidroponik, serta pengolahan sampah organik menjadi kompos.
“Kami ingin guru percaya diri mengajar isu lingkungan, dan siswa tidak hanya membaca, tapi juga menanam dan mengamati perubahan,” papar Dr. Husamah.
Sementara, Kepala SMP Muhammadiyah 1 Malang, Yanur Setyaningrum, menyampaikan apresiasi terhadap pendampingan ini.
“Program ini membuat guru-guru kami lebih terarah dalam memasukkan literasi lingkungan ke RPP, dan siswa punya ruang belajar baru di kebun sekolah,” ujarnya.
Ia menilai program ini sejalan dengan visi sekolah untuk mencetak generasi berakhlak dan peduli lingkungan.
Di bidang infrastruktur, tim PKM bersama warga sekolah membangun instalasi hidroponik, kebun vertikultur berbahan paralon dan botol bekas, serta komposter untuk mengolah sampah organik dari kantin dan kelas. Instalasi ditempatkan di atap dan pekarangan belakang sekolah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Siswa yang tergabung dalam Duta Lingkungan dilatih sebagai penanggung jawab penyiraman, pemupukan, pencatatan pertumbuhan tanaman, dan dokumentasi. Salah satu Duta Lingkungan, Angel, mengaku antusias mengikuti program ini.
“Dulu saya mengira menanam sayur butuh lahan luas. Sekarang saya tahu, di tembok dan atap sekolah pun bisa panen sawi dan selada. Saya jadi ingin menanam di rumah,” katanya.
Selain pembangunan kebun, tim PKM juga menyusun modul literasi lingkungan berbasis urban farming yang dapat digunakan di mata pelajaran IPA, IPS, dan Prakarya. Modul tersebut telah diujicobakan di sejumlah kelas dan memuat materi singkat, lembar pengamatan, serta proyek Profil Pelajar Pancasila.
Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, observasi, dan jurnal refleksi siswa. Hasil awal menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep lingkungan serta meningkatnya antusiasme mengikuti kegiatan kebun sekolah. Guru juga melaporkan bahwa contoh nyata dari kebun memudahkan mereka menjelaskan ekosistem dan isu perubahan iklim.
“Anak-anak sekarang lebih sering bertanya soal sampah, pupuk, dan air. Itu tandanya kesadaran mereka mulai tumbuh,” ungkap salah satu guru IPA.
Pada akhir program, UMM menyerahkan instalasi urban farming, modul, dan SOP perawatan kebun kepada sekolah. Sebuah Adiwiyata Club beranggotakan 15 siswa dan tiga guru dibentuk sebagai motor keberlanjutan.
“Harapan kami, SMP Muhammadiyah 1 Malang tidak hanya meraih predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri, tetapi menjadi rujukan sekolah lain dalam mengembangkan urban farming sebagai laboratorium hidup,” pungkas Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, anggota tim PKM.
Ia menegaskan bahwa praktik baik ini dapat direplikasi di sekolah-sekolah yang menghadapi keterbatasan lahan namun ingin memperkuat literasi lingkungan di kalangan generasi muda.













