BeritaPendidikan

Tiga Dosen FKIP UMM Dikukuhkan Sebagai Guru Besar, Usung Isu Budaya, Sastra dan Pangan Berkelanjutan

Avatar
1028
×

Tiga Dosen FKIP UMM Dikukuhkan Sebagai Guru Besar, Usung Isu Budaya, Sastra dan Pangan Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Tiga Dosen FKIP UMM Dikukuhkan Sebagai Guru Besar, Usung Isu Budaya, Sastra, dan Pangan Berkelanjutan
Potret dosen FKIP dikukuhkan sebagai guru besar, Universitas Muhammadiyah Malang

Mediapribumi.id, Malang — Tiga dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam sebuah upacara akademik yang digelar pada Sabtu, 10 Mei 2025.

Ketiga dosen tersebut adalah Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., dan Prof. Dr. Elly Purwanti, M.P.

Dalam pidato pengukuhan masing-masing, ketiga akademisi ini memaparkan gagasan dan hasil riset yang relevan dengan tantangan strategis di masyarakat, mulai dari isu pendidikan inklusif dan sensitif budaya, pemaknaan sastra sebagai medium transformasi sosial, hingga pengembangan pangan fungsional berbasis biodiversitas lokal.

Prof. Dr. Trisakti Handayani mengangkat pentingnya pendidikan yang memperhatikan sensitivitas budaya dan kesetaraan gender. Menurutnya, meskipun kebijakan telah banyak dirancang, praktik pendidikan di lapangan masih menyisakan kesenjangan akses dan pengalaman belajar.

Ia mengusulkan tiga pendekatan komprehensif: kajian teoretis interaksi budaya-gender, analisis empiris praktik pendidikan, serta rekomendasi strategis integrasi nilai budaya dan gender ke dalam sistem pendidikan nasional.

“Perlu ada sinergi dari berbagai pihak untuk terus berkomitmen dalam mengembangkan praktik pendidikan yang sensitif budaya dan kesetaraan gender,” tegas Trisakti.

Sementara itu, Prof. Dr. Sugiarti menekankan peran strategis sastra dalam membentuk peradaban bangsa. Ia mengkritik pandangan sempit yang hanya melihat sastra dari sisi estetika, dan mendorong pendekatan multidisipliner yang mengaitkan sastra dengan aspek sosial, politik, dan psikologi.

Bahkan, ia mencontohkan karya-karya seperti Bumi Manusia dan Robohnya Surau Kami sebagai refleksi kritik sosial yang membangun kesadaran kolektif.

“Sastra dapat membentuk karakter bangsa yang humanis, religius, dan toleran apabila diberi ruang yang layak dalam ekosistem pendidikan dan sosial,” ujar Sugiarti.

Adapun Prof. Dr. Elly Purwanti memfokuskan risetnya pada potensi kacang koro sebagai sumber pangan fungsional. Menurutnya, tanaman ini masih terabaikan namun sangat potensial dari sisi kandungan gizi, adaptasi iklim, dan pengembangan ekonomi lokal.

Elly, bahkan telah menginisiasi program hilirisasi kacang koro di Kabupaten Sumenep, Madura, dengan melibatkan petani dan UMKM.

“Dengan kandungan protein tinggi dan sifatnya yang tahan terhadap lingkungan ekstrem, kacang koro bisa menjadi solusi pangan nasional, terutama di tengah ancaman krisis iklim dan kesehatan,” jelasnya.

Pengukuhan tiga guru besar ini tidak hanya menambah jumlah akademisi berpangkat tertinggi di FKIP UMM, tetapi juga mencerminkan komitmen institusi dalam menjawab tantangan zaman melalui integrasi ilmu, nilai kemanusiaan, dan keberlanjutan.

“UMM kian mempertegas posisinya sebagai kampus progresif yang mengusung tridarma perguruan tinggi dengan pendekatan transformatif dan kontekstual,” tukasnya.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep