Opini

Memupuk Zaman Dalam Ekspedisi Sejarah Sastra

Avatar
533
×

Memupuk Zaman Dalam Ekspedisi Sejarah Sastra

Sebarkan artikel ini
Memupuk Zaman Dalam Ekspedisi Sejarah Sastra
Lanaloka Eidira Akhmad, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya.

Oleh : Lanaloka Eidira Akhmad (Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya)

Pendahuluan

Bagi orang awam pasti mendengar kata ‘sejarah sastra’ akan menyimpulkan ini adalah mata kuliah yang hanya menjelaskan tentang peradaban dari awal mulanya sastra lahir dan berkembang. Namun berbeda dengan sudut pandang saya, ketika kali pertama memasuki kelas mata kuliah sejarah sastra, saya merasa mata kuliah ini pasti hanya berisi tentang materi yang menjenuhkan seperti pengenalan tokoh-tokoh sastrawan, menghafal tentang periodesasi sastra dan juga bagaimana kami bisa menguasai konsep sejarah lahirnya sastra Indonesia.

Singkatnya ekspektasi saya sederhana: memahami alur waktu sastra Indonesia dari masa ke masa, namun dari minggu ke minggu yang berlalu saya menjadi sadar bahwa ternyata sejarah sastra bukan sekadar urutan peristiwa sejarah yang diurutkan secara terstruktur, nyatanya ini adalah perjalanan panjang tentang perubahan cara berpikir kebudayaan adanya pertarungan ideologi dari beberapa angkatan, sekaligus ini adalah jejak pergulatan manusia Indonesia dari masa melayu kuno hingga di era digital hari ini. di mata kuliah ini membuat saya menatap ulang dunia sastra, ternyata ini bukan sebagai tumpuan teks saja tetapi berbagai kisah regenerasi dan juga kreativitas yang terus hidup di tangan pembaca.

Harapan yang semu pada awal perkuliahan kini menjadi menjadi lebih hidup karena mata kuliah ini tak serunyam yang saya kira. Sejak saat itu pemikiran saya bertolak ukur berbeda pada mata kuliah ini, yang dikira pada awal hanya menganalisis materi-materi ternyata banyak tugas yang juga menggabungkan tentang sejarah sastra dengan keterampilan berbicara.

Jadi bagaimana tugas-tugas ini selalu dibuat tidak menjenuhkan, hal ini yang menjadikan saya lebih yakin bahwa saya bisa melewati semua materi ini dengan sungguh sungguh, karena kriteria tugas ini melatih mental juga keterampilan dalam menyampaikan argumen secara terstruktur. Banyak materi yang bisa dipahami secara menyeluruh dan juga pastinya mudah untuk diingat, dari setiap tugas di mata kuliah ini memberikan banyak pengalaman bagi saya terhadap sejarah sastra Indonesia.

Isi Refleksi

Dalam perjalanan 1 semester ini saya mempelajari banyak tentang bahasa Indonesia yang ternyata jauh lebih dinamis dan juga kontekstual daripada sekadar “karya lama dan juga karya baru”. Materi-materi yang selalu identik dalam mata kuliah ini yaitu tentang bagaimana sastra dihidupkan dengan gaya gen z, lalu bagaimana kita bisa mendiskusikan tokoh sastrawan dari era ke era lalu kita juga disuguhkan tentang materi bagaimana lahirnya sastra Indonesia mulai dari pengaruh sastra Melayu kuno, syair, pantun, gurindam bagaimana balai pustaka sebagai tonggak awal sastra Indonesia modern hingga pengaruh globalisasi dan juga sastra dunia terhadap sastra Indonesia kontemporer materi sejarah sastra juga sangat lekat kaitannya dengan latar belakang lahirnya zaman Jepang dan bagaimana ciri-ciri karya sastra pada angkatan tersebut hal ini tak terlepas dari ciri khas juga pembahasan tentang angkatan 50-an, 60-an, 70-an, 80-an dan juga sastra digital.

Pada dasarnya sastra pada era pra kemerdekaan sangat diwarnai oleh nilai moral religius juga filosofi hidup hikayat, syair, pantun, gurindam dan juga mitos adalah bentuk utama pada tahap ini tokoh seperti raja Ali Haji dengan karyanya gurindam 12 menjadi contoh yang sangat kuat bagaimana sastra lama itu dapat menyampaikan nasihat dalam bahasa yang sangat indah. naskah kuno seperti babad, serat dan single juga membuka mata saya tentang betapa kokohnya tradisi intelektual lokal dari situ saya semakin yakin bahwa memahami bagaimana pengaruh Islam dapat melahirkan nuansa baru dalam kesusastraan Nusantara dan bagaimana sastra Jawa itu turut membentuk karakter dari awal sastra Indonesia melalui serat-seratnya.

Lalu pada masa kolonial dan lahirnya sastra modern ini sangat identik dari balai pustaka menuju ke era pujangga baru. pada periode kolonial ini saya menyadari pengaruh kuat dari kolonialisme Belanda dalam dunia tulis-menulis. balai pustaka hadir sebagai tonggak awal sastra Indonesia modern titik melalui novel azab Dan sengsara karya merari Siregar, Saya belajar bagaimana narasi modern ini diperkenalkan lengkap dengan kritik sosial dan juga yang membentuk kesadaran pembaca pribumi. materi tentang peran majalah sastra membuat saya paham bahwa sastra ini tidak hanya berkembang di ruang hampa titik majalah balai pustaka melahirkan cerpen-cerpen awal sementara pujangga baru melalui tokoh seperti Sutan takdir alisjahbana dan Armijn Pane- pendorong modernisasi sastra. dalam novel belenggu membuka diskusi tajam antara romantisme dan juga realisme serta membuktikan bahwa sastra ini bisa bersifat provokatif dan juga mengguncang norma.

Selanjutnya dalam memahami angkatan 45 ini menjadi momen penting: Saya melihat bagaimana Chairil Anwar mengubah wajah puisi Indonesia secara radikal puisi menjadi lebih lugas ekstensial dan juga lebih personal tema seperti nasionalisme, perjuangan dan kebebasan sangat bergema kuat. memasuki era pasca kemerdekaan saya mulai mengenal peran Pramoedya Ananta Toer yang menghadirkan sastra sebagai kritik sosial dan juga politik. saya memahami bagaimana sastra lekra dapat memperkuat hubungan sastra ideologi dan bagaimana konflik politik dapat membelah dunia sastra. kemudian pada angkatan 66 melalui majalah horison tampil sebagai wadah baru kreativitas. tokoh seperti WS Rendra dengan gaya pamfletnya menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi suara yang sangat lantang bagi rakyat terhadap ketidakadilan. pada masa orde baru sensor ketat justru melahirkan kreativitas terselubung penyair perempuan seperti toety heraty dan Nh. Dini memberikan warna sensitif dan juga kritis pada isu gender dan juga Humanisme.

Memasuki era 70-an hingga digital pembelajaran tentang sastra era 70-an sampai 80-an media balai pustaka dan juga tempo serta perkembangan cerpen dan esai membuat saya sadar bahwa sastra Indonesia selalu berkembang mengikuti dinamika masyarakat. masuk ke era reformasi saya paham bagaimana sastra menjadi medium kritik atas orde Baru sekaligus cerminan lahirnya kebebasan berekspresi. di era 2000-an saya mengenal fenomena sastra cyber dan digital seperti blog forum daring hingga Wattpad yang digemari oleh Gen z. pengaruh dari globalisasi memperkaya kaya naratif, sementara sastra anak, Noval realis dan karya-karya pernyair modern seperti Sapardi Djoko Darmono memperluas Horizon estetika.

Pada awalnya saya sempat berpikir bahwa sejarah sastra hanya kumpulan dari data-data pasif. namun dari materi demi materi justru menunjukkan bahwa sastra ini adalah organisme yang hidup. saya mulai belajar mendiskusikan tokoh lalu menghubungkan bagaimana konteks sejarah dengan karya sastra yang menyebar saat ini, hingga bagaimana kami bisa menghidupkan kembali sastra lama dengan perspektif Gen Z baik itu dari segi visual yang menjadikannya lebih terlihat bebas maupun lebih dekat dengan dunia digital. titik kembali saya adalah ketika saya menyadari bahwa dari hikayat hingga novel kontemporer semua karya ini saling terikat dalam satu jalinan besar di mana perjalanan intelektual bangsa ini dimulai sastra tidak pernah berdiri sendiri ia akan tumbuh dari kultur, politik, agama, teknologi, dan juga perubahan dari cara manusia dalam memaknai hidup.

Jika memposisikan sebagai calon pendidik pastinya Saya menyadari bahwa sejarah sastra ini bukan sekedar materi dan juga teori. ia membantu saya dalam hal mengajarkan siswa bahwa sastra ini adalah jendela identitas bangsa. melalui pemahaman sejarah saya bisa mengajak siswa membaca dengan perspektif yang lebih luas dan mengaitkan teks dengan konteks juga memahami ideologi dibalik karya hingga melihat bagaimana sastra dapat berperan sebagai kritik sosial.

Di era digital seperti ini pastinya pembuatan sastra sangat meningkat pesat namun kualitas literasi justru lebih menurun. banyak sekali kita temui karya-karya yang viral di media sosial namun hanya mengutamakan dari sisi sensasi daripada substansinya di titik inilah sejarah sastra mampu mengajarkan saya untuk tidak menilai karya hanya dari popularitasnya namun kita perlu tahu dari konteks budaya, nilai artistiknya dan juga bagaimana kontribusinya bagi wacana publik. saya lebih belajar menghargai bagaimana keberagaman bentuk sastra pada era ini sembari tetap berpikir kritis terhadap fenomena sastra digital.

Penutup

Perjalanan selama 1 semester ini membuat saya memahami bahwa sejarah sastra itu cermin dari perjalanan bangsa mulai dari Melayu kuno hingga ke era digital dari hikayat hingga cerita di Instagram mulai dari pantun hingga puisi bebas semua ini menunjukkan bahwa manusia di Indonesia selalu mencari cara untuk berekspresi tiap eranya.

Sebagai calon pendidik saya sadar bahwa mengajarkan sastra itu mengajarkan identitas empati juga keberanian dalam berpikir Saya berharap kedepannya lagi sastra Indonesia dapat terus memperdalam keilmuan ini juga menghidupkan sastra lama dengan cara-cara yang baru dan membumikan sejarah sastra pada generasi yang akan datang agar tetap relevan, bermakna dan juga dekat dengan kehidupan mereka.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep