“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, lakukanlah sholat empat rakaat di awal siang (dhuha), niscaya Aku akan mencukupimu di akhir harimu.”
(HR. Tirmidzi)
Suatu hari berkembang obrolan sederhana, namun sarat makna: bagaimana menjadikan sholat dhuha yang rutin dilaksanakan setiap pagi oleh para santri benar – benar berlangsung dalam suasana khidmat, bukan sekadar aktivitas seremonial yang berulang. Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh inti dari pendidikan karakter dan spiritualitas di lingkungan lembaga pendidikan Islam.
Permasalahan yang mengemuka bukan terletak pada ketiadaan program, melainkan pada lemahnya kontrol yang berbasis otoritas yang bijak dan keteladanan yang hidup. Dalam banyak kasus, pengawasan sering kali berhenti pada tataran instruksi, tanpa diiringi dengan kehadiran nyata figur pendidik yang memberi contoh. Padahal, dalam teori pendidikan, keteladanan (uswah) merupakan metode paling efektif dalam membentuk perilaku. Apa yang dilakukan guru jauh lebih kuat pengaruhnya dibandingkan apa yang sekadar disampaikan.
Menjadi seorang guru dalam konteks ini bukan hanya menjalankan program, tetapi melampaui program itu sendiri. Guru dituntut hadir lebih awal, lebih siap, dan lebih sungguh – sungguh daripada santrinya. Seorang koordinator ibadah, misalnya, tidak cukup hanya memastikan jadwal berjalan, tetapi semestinya menjadi orang pertama yang hadir di tempat sholat dhuha, bahkan sebelum imam yang dijadwalkan. Lebih ideal lagi, imam hadir lebih awal dari seluruh santri, menyambut mereka dengan ketenangan dan kesiapan batin. Di sinilah keteladanan bekerja: bukan dalam bentuk kata – kata, tetapi dalam kehadiran yang menginspirasi.
Namun keteladanan saja tidak cukup tanpa konsistensi. Konsistensi adalah jembatan antara idealitas dan realitas. Rutinitas sholat dhuha yang dilakukan setiap hari memerlukan kesinambungan suasana yang terjaga. Ketika guru dan pengelola lembaga mampu menjaga ritme ini secara konsisten, maka perlahan akan terbentuk budaya kolektif yang mengakar. Dalam perspektif teori habitus, praktik yang diulang secara terus-menerus dalam lingkungan yang mendukung akan membentuk kebiasaan yang kemudian menjadi bagian dari identitas individu.
Lebih jauh, yang tak kalah penting adalah proses penyadaran. Santri tidak cukup hanya diarahkan untuk melakukan, tetapi perlu diajak untuk memahami mengapa mereka melakukannya. Di sinilah pentingnya memberikan alasan-alasan yang berlapis : rasional, ideal, dan pragmatis. Secara rasional, sholat dhuha dapat dipahami sebagai sarana melatih disiplin dan pengendalian diri. Secara ideal, ia merupakan bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Adapun secara pragmatis, berbagai temuan dan pengalaman empiris dapat dijadikan pintu masuk penyadaran yang lebih membumi bagi santri. Dalam perspektif psikologi modern, aktivitas ibadah yang dilakukan dengan khusyuk, termasuk sholat dhuha, memiliki kemiripan dengan praktik mindfulness yang terbukti mampu menurunkan tingkat stres, meningkatkan ketenangan batin, serta memperbaiki fokus dan stabilitas emosi. Gerakan yang teratur, bacaan yang berulang, serta suasana hening di pagi hari berkontribusi pada regulasi sistem saraf yang lebih seimbang.
Selain itu, dari sisi kesehatan fisik, khususnya wajah, sholat dhuha yang dilakukan secara konsisten dapat berdampak positif pada pancaran ekspresi. Ketenangan batin yang terjaga akan memengaruhi raut wajah menjadi lebih teduh, rileks, dan bercahaya. Dalam istilah yang lebih populer, hal ini sering disebut sebagai inner beauty, kecantikan yang terpancar dari dalam diri karena kebersihan hati dan kestabilan jiwa. Wudhu yang dilakukan sebelum sholat pun secara tidak langsung membantu menjaga kebersihan dan kesegaran kulit, yang semakin menguatkan aspek lahiriah dari kecantikan tersebut.
Tidak hanya itu, dalam dimensi keimanan, terdapat pula penjelasan dalam hadis Rasulullah SAW yang memberi penguatan secara pragmatis terkait manfaat sholat dhuha dalam aspek kehidupan ekonomi. Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa orang yang menjaga sholat dhuha akan dijauhkan dari kefakiran dan diberikan kecukupan dalam hidupnya. Makna ini tidak semata dipahami secara materialistik, tetapi juga sebagai bentuk jaminan keberkahan: bahwa siapa yang memulai harinya dengan mendekat kepada Allah, maka Allah akan cukupkan kebutuhan hidupnya, baik dalam bentuk rezeki, kemudahan urusan, maupun ketenangan dalam menjalani kehidupan.
Dengan menghadirkan alasan-alasan pragmatis semacam ini, baik yang bersifat ilmiah maupun yang bersumber dari ajaran agama, santri tidak hanya memahami sholat dhuha sebagai kewajiban normatif, tetapi juga sebagai kebutuhan yang memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mereka merasakan langsung dampaknya, baik dalam ketenangan jiwa, kejernihan berpikir, kecantikan batin, maupun keyakinan akan kecukupan rezeki, maka motivasi untuk menjaga konsistensinya akan tumbuh secara alami.
Ketika santri mampu menemukan alasan yang kuat dan bermakna secara personal, maka sholat dhuha tidak lagi dipandang sebagai kewajiban eksternal, tetapi sebagai kebutuhan internal. Ia menjadi bagian dari gaya hidup, bukan sekadar rutinitas. Dari sinilah tumbuh kesadaran spiritual yang autentik, sebuah kesadaran yang akan membimbing langkah mereka dalam meniti masa depan di bawah naungan petunjuk Allah SWT.
Dengan demikian, menciptakan suasana khidmat dalam sholat dhuha bukanlah sekadar persoalan teknis pengaturan kegiatan, melainkan proses integral yang melibatkan keteladanan, konsistensi, dan penyadaran. Ketiganya harus berjalan seiring dan saling menguatkan. Ketika guru hadir sebagai teladan, program dijalankan dengan konsisten, dan santri diberi ruang untuk memahami makna ibadahnya, maka sholat dhuha akan bertransformasi dari sekadar rutinitas menjadi kebutuhan jiwa, yang hidup, menghidupkan, dan menuntun masa depan mereka.(*)
Catatan Usman Adhim Hasan, S.H.I (Penggiat Pendidikan & Pemerhati HKI)













