Mediapribumi.id — Tidak semua cinta berakhir dengan memiliki. Ada cinta yang justru menemukan maknanya saat kita berani melepaskan. Bukan karena kurang sayang, tetapi karena terlalu sayang untuk memaksa.
Melepas bukan berarti berhenti peduli.
Ia adalah bentuk kepedulian yang paling sunyi, ketika kita memilih diam, agar orang yang kita cintai bisa tumbuh tanpa beban, tanpa tuntutan, tanpa harus menoleh ke belakang.
Kadang, ego ingin bertahan. Namun cinta mengajarkan untuk merelakan.
Ego berkata, “aku takut kehilangan,”
sementara cinta berbisik, “aku ingin kamu bahagia, meski bukan bersamaku.”
Melepas karena mencintai adalah keputusan yang tidak ramai,
tidak dipuji, bahkan sering disalahpahami.
Tapi di sanalah kedewasaan hati diuji:
mampukah kita mengutamakan kebahagiaan orang lain di atas keinginan kita sendiri?
Jika hari ini kita memilih untuk melepaskan, semoga bukan karena lelah, bukan karena kecewa, tetapi karena kita sadar: cinta sejati tidak selalu menggenggam, kadang ia mengikhlaskan, sambil tetap mendoakan dari kejauhan.
Dan jika suatu saat takdir mempertemukan kembali, biarlah itu terjadi bukan karena keterpaksaan, melainkan karena dua hati yang telah tumbuh, dan memilih berjalan bersama, bukan karena terikat, tetapi karena sama-sama ingin.
Catatan, Jrul, 8 Januari 2026













