Disaat hujan mulai turun membasahi halaman kampus, aku duduk sendiri di bangku pojok kantin. Angin berhembus pelan, membawa dingin yang entah kenapa terasa sampai ke dalam dada. Aku memandangi hujan yang jatuh satu per satu.
Seperti itulah rasanya menjadi mahasiswa kepulauan yang merantau datang dengan semangat besar, tapi sering kali pulang dengan sunyi yang tak bersuara. Tak ada sapaan yang akrab. Tak ada teman berbagi cerita tentang ombak, tentang listrik yang padam, tentang sinyal yang hilang di malam hari. Di tengah derasnya hujan itu, aku termenung. Bertanya dalam hati, apakah perjuangan ini harus dilalui sendirian?
Hingga suatu hari, seorang kakak tingkat menghampiri. Sapanya sederhana. Ajakannya pun biasa saja. Namun dari percakapan ringan itulah, langkahku diarahkan menuju sebuah perkumpulan mahasiswa kepulauan Sapeken di Sumenep.
Di sanalah aku menemukan sesuatu yang tak kutemukan sebelumnya, Teman seperjuangan, Cerita yang sama, Rasa yang senasib. Di dalam lingkaran kecil itu, kami berbincang bukan hanya tentang kuliah, tetapi tentang kampung halaman, tentang ketertinggalan yang ingin kami ubah, tentang mimpi yang ingin kami perjuangkan bersama. Dan di situlah aku mengenal satu kata yang lebih dari sekadar pertemanan yaitu “Danakan”.
Persaudaraan yang lahir bukan dari darah, melainkan dari kesamaan perjuangan.
HIMPASS namanya. Sebuah tempat bernaung dan berproses bagi mahasiswa kepulauan Sapeken yang kuliah di Sumenep. Tempat di mana kesepian berubah menjadi kekuatan. Tempat di mana perantau menemukan rumah kedua.
Tempat di mana suara kecil kepulauan mulai belajar untuk berani berbicara. Dan sejak hari itu, aku tak lagi sendiri di bawah hujan.
Catatan: Jupri, Mahasiswa Unija Madura













