Ada luka yang memilih diam,
bersembunyi di balik tawa yang kita pinjam
agar dunia tak bertanya terlalu dalam.
Di antara sahabat, kita belajar menjadi bahu, tempat orang lain menitipkan resah,
sementara resah kita sendiri kita lipat rapi di sudut dada.
Di meja kerja, kita menandatangani hari
dengan wajah yang tetap tegak,
padahal hati sering tertinggal
di lorong lelah yang tak bernama.
Rutinitas menjelma selimut paling sopan,
menutup perih agar tak terlihat,
bangun, berjalan, bekerja, pulang,
mengulang hidup sambil menahan retak.
Kita pandai menenangkan dunia,
namun gagap menenangkan diri.
Kita kuat di mata banyak orang,
namun rapuh saat sendiri.
Luka yang tak sempat diceritakan
bukan berarti ia tak meminta sembuh,
ia hanya menunggu keberanian kecil
untuk diakui: aku juga butuh dipahami.
Maka bila hari ini kau masih diam,
biarlah… tak semua tangis harus gaduh.
Tapi ingat, bahkan langit pun
butuh hujan untuk tetap utuh.
Dan kau, manusia yang terus berusaha,
tak harus selalu menjadi benteng.
Sesekali, jadilah rumah
bagi lelahmu sendiri.













