Mediapribumi.id, Sumenep – Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep, Rusliy, menegaskan bahwa capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Kabupaten Sumenep tidak berada pada posisi terbawah di Jawa Timur. Bahkan, untuk wilayah Madura, Sumenep menempati peringkat tertinggi.
Menurut Rusliy, jika dibandingkan secara regional Jawa Timur, capaian tersebut memang belum maksimal. Namun, capaian Sumenep relatif lebih baik dibandingkan kabupaten lain di Madura. Hal ini disampaikannya pada Jumat (30/01/2026).
“Kalau di Jawa Timur memang belum tinggi, tapi untuk Madura, IPM dan TKA kita berada di peringkat pertama. Yang masih menjadi perhatian serius justru pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP),” ujarnya.
Ia menjelaskan, rendahnya angka kelulusan siswa melalui jalur SNBP menjadi fokus utama dalam penyusunan strategi peningkatan mutu pendidikan ke depan. Berbagai langkah telah disiapkan guna meningkatkan partisipasi serta peluang siswa Sumenep untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Salah satu kendala yang kerap dihadapi, kata Rusliy, adalah perbedaan pandangan antara siswa dan orang tua dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan. Untuk itu, pihak sekolah diminta lebih proaktif dengan mengundang siswa yang masuk kategori eligible beserta orang tua guna menyamakan persepsi.
“Kami minta sekolah memfasilitasi komunikasi antara keinginan anak dan orang tua. Jangan sampai anak dipaksakan memilih jurusan tertentu, karena jika tidak sesuai minat dan kemampuan, risikonya bisa berhenti di tengah jalan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rusliy menekankan pentingnya peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam mendampingi siswa. Guru BK dinilai memiliki posisi strategis dalam memetakan potensi, minat, dan kemampuan akademik siswa sebelum menentukan pilihan jurusan.
“Guru BK ini sangat menentukan masa depan anak. Mereka yang paling memahami kemampuan siswa, apakah cocok ke kedokteran, teknik, atau bidang lainnya. Jangan sampai kemampuan biologinya rendah tapi dipaksakan masuk kedokteran,” katanya.
Ia juga meminta agar pendekatan yang dilakukan bersifat personal atau individual, bukan secara klasikal. Dengan pendekatan tersebut, komunikasi antara sekolah, siswa, dan orang tua diharapkan dapat berjalan lebih efektif, mengingat jumlah siswa eligible di setiap sekolah cukup besar.
Rusliy menyebutkan, di SMA Negeri 1 Sumenep terdapat lebih dari 200 siswa yang masuk kategori eligible, sementara SMA Negeri 2 Sumenep sekitar 165 siswa dan seluruhnya didorong untuk mendaftar SNBP. Adapun di SMA Negeri 1 Kalianget, dari sekitar 120 siswa eligible, baru sekitar 85 siswa yang berminat mendaftar.
“Sekolah di wilayah pinggiran memang memiliki tantangan tersendiri. Namun demikian, kami tetap mendorong agar potensi siswa dapat berkembang secara optimal,” pungkasnya.













