BeritaSosial Budaya

Gus Yahya di Sumenep: Ketua PCNU Bukan Hanya Gus, Anak Tukang Becak Juga Boleh

Avatar
28
×

Gus Yahya di Sumenep: Ketua PCNU Bukan Hanya Gus, Anak Tukang Becak Juga Boleh

Sebarkan artikel ini
Gus Yahya: yang Bisa Menjadi Ketua PCNU Bukan Hanya Gus, Anak Tukang Becak Juga Boleh
Gus Yahya Saat Memberikan Arahan di Pelantikan PCNU Sumenep Masa Khidmat 2026-2031. (Foto: Tangkapan Layar TVNU Sumenep)

Mediapribumi.id, Sumenep — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan pentingnya konsolidasi organisasi secara menyeluruh dalam sambutannya pada kegiatan pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep masa khidmat 2026–2031 di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Beraji, Gapura, Sabtu (16/05/2026).

Dalam pidatonya, pria yang akrab disapa Gus Yahya itu menekankan bahwa seluruh elemen Nahdlatul Ulama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu, seluruh jajaran organisasi diminta bergerak bersama menuju arah yang sama demi memperkuat jam’iyah dan pelayanan kepada umat.

“Kita ini satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kita harus bergerak bersama ke arah yang sama,” ujarnya.

Menurut Gus Yahya, PBNU telah menyiapkan berbagai langkah strategis yang akan menjadi kerangka konstruksi dalam mewujudkan konsolidasi organisasi secara menyeluruh.

Konsolidasi tersebut, kata dia, harus dibangun dengan prinsip objektif dan transparan agar seluruh warga NU memiliki kesempatan yang sama dalam berkhidmat di organisasi.

Ia menegaskan bahwa NU harus menjadi organisasi yang egaliter, sehingga kepemimpinan tidak hanya berasal dari kalangan tertentu.

“Dengan konsolidasi yang objektif, NU akan menjadi organisasi yang egaliter. Yang bisa menjadi ketua bukan hanya gus, tetapi anak tukang becak pun bisa,” katanya.

Gus Yahya kemudian memaparkan tiga langkah utama yang tengah dijalankan PBNU dalam memperkuat tata kelola organisasi. Pertama, PBNU telah menyusun desain tata kelola organisasi secara rinci dan menyeluruh melalui 23 peraturan perkumpulan NU yang menjadi pedoman norma tertulis bagi seluruh struktur organisasi.

Kedua, PBNU membangun platform digital sebagai sarana untuk mengelola organisasi besar secara lebih efektif dan modern. Berdasarkan survei internal, warga NU disebut mencapai sekitar 57 persen dari total masyarakat Indonesia sehingga diperlukan sistem pengelolaan organisasi yang lebih terintegrasi.

Selain itu, PBNU juga tengah mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung kerja organisasi. Teknologi tersebut direncanakan akan diperluas hingga tingkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan ranting.

Ketiga, PBNU terus memperkuat pelatihan kader guna mencetak sumber daya manusia yang mampu menjalankan roda organisasi secara profesional dan berkelanjutan.

Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Jadi Sumenep