Mediapribumi.id, Malang — Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar workshop dan kuliah tamu yang membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dalam pembelajaran, Rabu (04/11/2026). Sesi bertajuk “Optimalisasi AI dalam Pembelajaran” itu menekankan bahwa guru tetap memegang kendali atas tujuan belajar dan keakuratan materi.
Kegiatan ini mempertemukan dosen dan guru dari sekolah mitra dengan format campuran. Peserta bisa hadir langsung di Hotel Kapal Garden UMM atau bergabung lewat Zoom.
Rangkaian acara dibuka Dekan FPSH UMM, Prof. Moh. Mahfud Effendi, dengan tema “Transformasi Pendidikan Biologi di Era Digital: Integrasi AI, Virtual Lab, Gamifikasi, dan Asesmen Abad ke-21”.
“Kemajuan teknologi harus diimbangi kesiapan pendidik dalam memilih dan menilai alat yang digunakan, dan kolaborasi dosen dengan guru menjadi bagian penting dari proses itu,” katanya.
Sesi AI diisi Ahmad Fauzi. Dia menjelaskan, AI bisa membantu guru memunculkan gagasan, mulai dari memperkaya bahan ajar, menyusun variasi kegiatan, hingga merumuskan pertanyaan yang memancing daya pikir siswa.
Namun, keputusan tentang tujuan pembelajaran, pengecekan kebenaran informasi, dan kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan siswa tetap berada di tangan guru.
Dalam pelajaran biologi, AI dapat dipakai untuk menyiapkan alternatif kasus, soal, atau penjelasan awal sebuah konsep.
“Guru tetap harus memeriksa ketepatan istilah, keterkaitan antarkonsep, dan kecocokan materi dengan tingkat perkembangan siswa,” tuturnya.
Sebagai contoh, guru dapat meminta AI menyusun beberapa bahan diskusi tentang keanekaragaman hayati, lalu menyuntingnya dengan menambahkan organisme lokal, masalah lingkungan di sekitar sekolah, dan pertanyaan yang sesuai kemampuan siswa.
Hasil keluaran AI juga bisa menjadi sarana melatih berpikir kritis. Siswa diminta membandingkan penjelasan AI dengan sumber ilmiah, menemukan bagian yang keliru, lalu memperbaikinya disertai alasan.
Dia juga menyinggung hal-hal di luar teknologi, seperti penguasaan materi, ketersediaan perangkat, kesiapan siswa, dan integritas akademik.
“Untuk menjaga integritas, tugas siswa dapat dirancang agar memperlihatkan proses berpikir, misalnya dengan meminta catatan sumber, uraian langkah pengerjaan, atau refleksi atas penggunaan AI,” tuturnya.
Sekolah mitra yang diundang dalam kegiatan ini berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, antara lain SMAN 1 Kraksaan, SMAN 5 Madiun, SMAS Muhammadiyah 1 Ponorogo, SMAN 4 Bojonegoro, SMAN 1 Gresik, dan SMA Muhammadiyah 7 Surabaya. Sebaran wilayah itu mencerminkan beragamnya kondisi sekolah yang perlu dipertimbangkan dalam penerapan teknologi.
Bantu kami agar selalu hadir di halaman pencarian Anda. Klik tombol di samping untuk memprioritaskan artikel dari kami!













